
Franz meninggalkan putrinya yang menangis sesegukan. Franz benar-benar kesal, kepercayaannya telah dikhianati oleh putrinya sendiri.
"Kau! Ini semua salahmu!" ucap Delicia ketika Farhan masuk ke rumah.
"Kak Cia, jangan menyalahkanku! Kakak yang telah melanggar janji. Papa tidak suka orang-orang yang melanggar janji. Aku hanya memberi tahu kesalahanmu agar Kakak sadar." ucap Farhan santai dengan bersandar di dinding.
Anak ini! memang benar apa yang dikatakannya. Iya, aku salah, aku memang salah telah mengingkari janji pada Papa, suara hati Delicia.
"Kakak tidak perlu menangis, lagi pula pemuda yang bersama Kakak itu baik menurut pandanganku."
"Han! Mengapa kau tahu aku memiliki kekasih?"
"Aku selama ini mengintai Kakak, aku ingin jadi adik yang baik untuk Kakak. Aku berusaha menjadi pelindung untuk Kakak. Asal Kakak tahu Roni itu bukan pria baik," jelas Farhan.
"Apa katamu! Jadi adik yang baik untukku? Gara-gara dirimu aku akan menikah dengan pria yang belum aku kenal. Bahkan aku belum mencintainya,"
"Kakak sudahlah! Cinta itu bisa dibuat,"
"Kau tahu apa tentang cinta?" tanya Delicia kesal, rasanya Delicia ingin mencakar adiknya sangkin kesalnya.
Farhan malas menanggapi pertanyaan kakaknya. Ia masuk ke kamarnya dan mengerjakan tugas-tugas sekolah.
Delicia mencari pertolongan dari ibunya. Namun Dilah tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya memberi nasihat dan menceritakan kejadian masa lalunya mengenai jodoh yang tak terduga dan Dilah menerangkan kepada putrinya untuk bertanggung jawab, tidak mengulangi kesalahannya dan tidak mengingkari janji.
***
Franz tidak main-main dengan ucapannya. Ia mendatangi kediaman Raja dan membawa Delicia serta Farhan dan istrinya.
"Permisi!" ucap Franz sambil memencet bel.
"Pa, dia bukan pacar Delicia. Ini akan memalukan kita,"
"Diam, Delicia!"
"Silahkan masuk!" senyumnya ramah.
"Bisakah saya bertemu dengan Raja, kekasihnya Delicia?" tanya Franz, bahkan Franz lebih tahu nama pemuda tersebut dibandingkan Delicia putrinya.
"Raja? Punya kekasih?" Irene heran dengan ucapan Franz. Setahu dia, Raja tidak pernah punya kekasih.
"Iya," jawab Franz singkat.
"Tunggu sebentar!"
Irene memanggil Nick dan Raja. Ia masih bingung dengan kedatangan tamu yang membuatnya sangat bingung. Ketika Raja melihat Delicia beserta keluarga. Raja semakin berdebar, ia benar-benar tidak menyangka pujaan hatinya datang dengan sendirinya.
Raja menyalami Franz dan Dilah. Raja bersikap sopan pada tamunya. Walaupun ia keturunan orang luar negeri akan tetapi ia tahu sopan santun ketimuran mengingat ia sudah lama tinggal di Indonesia.
"Jadi begini Pak dan Ibu, saya ingin keseriusan Raja pada putri kami?"
"Raja, apa benar Delicia kekasihmu?" tanya Irene bingung.
Raja melihat kearah Nick, ayahnya. Ayahnya sangat menginginkan Raja untuk segera menikah. Mengingat Nick yang sakit-sakitan. Nick nmemiliki satu permintan yang belum Raja tunaikan, yaitu Nick ingin Raja segera menikah.
"Iya Bu, dia kekasih Raja," ucap Raja pelan.
Nick berbinar, ia sangat ingin sekali putra satu-satunya untuk memilik kekasih dan segera menikah tapi Raja belum memberikan kepastian. Namun, setelah mendengar ucapan Raja, Nick benar-benar sangat senang. Wajah Nick terlihat cerah, ia benar-benar bahagia mendengar pengakuan Raja.
Berbeda halnya dengan Delicia. Ia melotot mendengar ucapan Raja. Ia berpikir Raja akan menolongnya tapi pria yang menolongnya waktu itu tidak menolongnya kali ini.
Franz melihat kearah putrinya. Kemarahannya memuncak. Ia seperti dibohongi untuk kedua kalinya. Franz pikir setelah bertemu dengan Raja dan Raja memberikan penjelasan bahwa Delicia bukan pacarnya akan melegakan hatinya. Tapi ini, Raja memberikan keterangan lain yang tidak sesuai ekspetasi.
"Raja, kapan kau akan menikahi putriku?"