Only You Mine

Only You Mine
Fina Kesal



Fina kesal dengan keputusan sahabatnya Dilah yang mau menuruti keinginan ayahnya. Ketika Menir keluar, Fina menarik tangan Dilah dengan paksa dan membawa Dilah ke kamar.


"Dilah, kau sudah gila." ucap Fina jengkel.


"Kau bicara apa sih?" tanya Dilah yang mulai bingung dengan ucapan Fina.


"Kau mau menikah dengan Reno pria jahat dan manja itu?" kesal Fina memarahi Dilah.


"Usia kamu masih 23 tahun, kamu sangat muda. Lihat wajahmu begitu cantik, memangnya tidak ada pria lain selain Reno yang akan dijodohkan denganmu?" tanya Fina kesal.


"Aku pasrah saja Fina, lagi pula ayah selalu menuruti apa yang aku minta. Tapi, kali ini dia memintaku untuk menikah jadi aku harus menurut." jawab Dilah sedih sampai berurai air mata.


"Ya sudah terserah, kamu pasti tidak bahagia." kesal Fina sekali lagi, Fina sangat tidak suka sahabatnya itu menikah dengan Reno.


"Tapi aku yakin Fina, tuhan akan membantuku. Aku yakin sekali dia bukan jodohku." ungkap Dilah namun dengan perasaan sedih, hatinya seperti disayat pisau.


"Iya dia bukan jodohmu. Aku benci sekali dengan dia. Pria sok jago dan manja itu tidak pantas untukmu." ujar Fina kesal.


"Semoga tuhan menyelamatkanku besok," Dilah berdoa.


Fina berpamitan pulang. Ia juga berdoa untuk keselamatan Dilah sahabat baiknya. Walaupun usia mereka berbeda cukup jauh yaitu 7 tahun. Dilah dan Fina sangat akrab. Mereka sering curhat satu sama lain mengenai masalah mereka.


Dilah masuk ke kamar memeluk boneka kesayangannya dan berdoa agar besok pernikahannya batal, "Semoga saja besok hujan badai atau gempa bumi." tunduk Dilah sambil membersihkan air matanya dengan tisu. "Aku wanita kuat, aku tidak boleh menangis." senyumnya menyemangati.


Dilah memanjatkan doa dengan penuh kesungguhan. Hatinya menolak Reno. Ia tahu betul siapa Reno. Orang yang sangat mencintainya tapi, Reno adalah sosok pria jahat dan kejam. Anak mafia Galih Pujianto. Walaupun Dilah dan Reno sama-sama anak mafia akan tetapi tidak ada kecocokan pada mereka berdua menurut pemikiran Dilah.


Malah hari yang mencekam. Hati Dilah begitu bergejolak. Ia tak henti-henti memanjatkan doa. Bibirnya bergetar dan air matanya masih terus menetes.


"Iya Ayah," segera keluar dari kamar menuju sumber suara.


"Kenapa matamu sembab?" tanya Menir pada putrinya. Menir masih tidak menyadari bahwa anaknya menangis karena dirinya sendiri.


"Tidak Ayah, aku hanya kelilipan," mengusap air mata dari pelupuk mata.


"Oh, kamu bersiap-siap ya, besok kamu akan menikah." ujar ayahnya dan berlalu pergi.


"Iya" tunduknya dan tak melawan,.


Apa aku harus menangis lagi? Ibu, seandainya kamu masih hidup pasti kamu dapat menolongku. Ayah begitu ambisius untuk menjadi mafia satu-satunya yang terkaya. Ibu, aku rindu sekali dirimu.


Dilah kembali ke kamar untuk menengkan pikirannya. "Dilah kau harus kuat, Tuhan pasti akan menolongmu." senyum Dilah menyemangati.


Pernikahan mendadak yang harus ia jalani. Hatinya terus menolak, pikirannya tidak karuan. Kepalanya pusing memikirkan apa yang harus ia lakukan besok. Dilah masih sangat pusing, tapi jiwanya terus menyemangati. Ponsel Dilah berbunyi dengan segera Dilah mengangkat telepon.


"Hallo Dilah, apakah kau baik-baik saja?" tanya Fina yang masih khawatir.


"Baik kok Fina, jangan khawatir!" mengungkapkan kata-kata tersebut agar Fina tak khawatir.


"Kamu harus kuat Dilah, aku selalu berdoa demi kebaikanmu," suara Fina membuat Dilah sedikit lega.


"Terima kasih Fina, kamu sahabat terbaikku."


"Sama-sama" menutup telepon.