
"Mungkin Nona salah dengar," ucap Ali berkilah, ia melirik pak tua tersebut dan memberi kode dari matanya agar pak tua itu segera pergi. Pak tua tersebut mengangguk paham dan langsung pergi.
Dilah masih saja heran, setiap kali orang melihat dirinya dan Ali (Franz) semua orang menunduk hormat. Sampai akhirnya mereka menuju rumah besar dan mewah. Ada banyak penjaga berpakaian rapi seperti pekerja kantor hanya saja mereka bukan bekerja di sebuah kantor tapi sebagai penjaga rumah. Melihat ada Franz mereka menunduk hormat, agar Dilah tak penasaran Franz ikut-ikutan menunduk. Dilah juga melakukan hal yang sama dengan Franz.
Tak biasanya Tuan Franz menunduk hormat? Batin penjaga bingung.
"Orang disini sopan sekali ya, padahal kita orang baru disini." Dilah merasa takjub, ia belum menyadari orang yang bersama dirinya adalah Franz.
"Ayo kita masuk!" Franz menggengam tangan Dilah untuk masuk ke rumah yang terbilang mewah. Rumah ini sangat menonjol di bandingkan rumah-rumah penduduk di sekitar sini.
"Ma, masuk?" tanya Dilah dengan nada gugup. Ia benar-benar takut untuk masuk ke dalam.
"Jangan takut, ada aku disini," Franz tersenyum manis. Senyuman Franz membuat Dilah berani untuk masuk.
Semua pelayan, penyawal, dan pekerja tiba-tiba menunduk hormat ketika Dilah dan Franz masuk ke rumah tersebut. Darma duduk di kursi kebesarannya, ia menatap anaknya dengan wajah datar.
"Ayah!" panggil Franz pada ayahnya.
Darma hanya diam dan tak mengubris panggilan anaknya. Darma bangkit dari kursi kebesarannya membuat Franz dan Dilah merinding. Akhirnya Darma buka suara.
"Awalnya aku senang kau menculik gadis itu," wajah Darma masih sama datarnya.
"Tapi setelah kuselidiki ternyata gadis itu yang menculik dirimu," ucap Darma dengan nada kesal.
Franz dan Dilah gemetaran, Dilah masih dilanda kebingungan. Mengapa Ali (nama samaran Franz) menyebut pria tegap berkumis tebal sebagai ayahnya?
"Maafkan aku ayah, awalnya aku menantang ayahnya karena ketidakadilan justru malah aku yang di culik," ucap Franz dengan nada memelas.
Para pelayan dan pengawal tertawa kecil mendengar ucapan Darma. Darma mengangkat tangannya sebagai isyarat agar mereka diam. Melihat Darma mengangkat tangan mereka tidak berani tertawa lagi.
"Paman, jangan marah pada Ali, dia tak salah. Aku lah yang memiliki ide bodoh itu," ucap Dilah untuk menyelamatkan Franz.
"Andai anak putraku punya sifat pemberani sepertimu mungkin aku sangat bahagia. Kau memang hebat, Dilah. Kau sangat pintar, kau bisa lari dari pemaksaan ayahmu yang ingin menikahkanmu dengan Reno."
Mata Dilah membulat, mengapa Darma tahu tentang apa yang dia lakukan?
"Mengapa Paman tahu itu?" tanya Dilah penasaran.
"Aku tahu itu, aku sudah tahu semua rencana Menir untuk mengalahkanku,"
Dilah tersentak terkejut, apakah ini Darma? Rival abadi ayahku.
"Ayah, bolehkah kami tinggal sementara disini?" ucap Franz, ia berteluk lutut memegang kaki ayahnya.
"Aku tahu kau sudah jatuh cinta dengan gadis itu, baru pertama kali dalam hidupmu kau bertekuk lutut padaku demi nyawa seorang gadis." ucap Darma meninggi.
orang-orang yang melihat aksi Franz langsung terkejut. Biasanya Franz selalu menentang ayahnya kini ia bertekuk lutut di depan ayahnya.
Ayunda yang mendengar kebisingan langsung menuju sumber suara. Ia melihat Franz bertekuk lutut di depan ayahnya. Darma tersenyum menyeringai. Ayunda membangkitkan Franz.
"Franz kau kembali Nak?" tanya Ayunda yang berurai air mata.
"Franz?" mata Dilah membulat karena terkejut.