
"Aku tak percaya masakannya sungguh asin," ucap Raja kepada David sahabatnya.
"Kau salah memilih istri, Raja. Orang yang sangat kau cintai belum tentu bisa dijadikan istri." David menyeruput kopi.
"Aku yakin dia bukan wanita sembarangan, David. Dia cocok untuk dijadikan istri."
David meletakkan segelas kopi yang sudah ia seruput ke meja. "Aku menantangmu, Raja. Bisakah kau membuatnya jatuh cinta?" David menyeringai.
"Aku tidak yakin menerima tantanganmu ini tapi aku menerimanya," Raja tersenyum.
Pagi ini Delicia bertemu Kayla dan Noni. Delicia duduk bertiga di sebuah cafe bersama sahabatnya.
"Makhluk aneh itu sangat gila," Delicia membuka obrolan dan menatap sahabatnya dengan kesal.
"Makhluk aneh?" Kayla menyipitkan matanya.
"Siapa makhluk aneh?" Noni mengernyitkan dahinya.
"Siapa lagi kalau bukan Raja." kesal Delicia pada sahabatnya.
"Raja? Raja? Maksudnya, dia gila? di.. dia gila?" tanya Kayla terbata-bata.
"Iya, dia sangat gila," ucap Delicia dengan dramatis.
"Gila kenapa?" tanya Noni yang sudah sangat penasaran.
"Dia seperti bayi menyuruhku memandikannya. Gila bukan?" Delicia memutar bola matanya kesal.
Noni dan Kayla saling senggol dan mengulum senyumnya.
"Terus, terus... kamu lihat semuanya?" tanya Noni cukup berani. Kayla hanya bisa menelan ludah dan gugup. Sahabatnya yang satu ini memang cukup berani bertanya sedetail itu.
"Iya, aku lihat semuanya dari ujung rambut sampai ujung kaki," ucap Delicia sebal.
Noni dan Kayla tertawa usil sedangkan Delicia memutar bola matanya dan mendengus kesal.
"Sebentar lagi akan terjadi," Noni mengedipkan matanya melihat Delicia yang masih kesal.
"Tidak, itu tidak akan terjadi," Delicia membantah.
"Aku jamin aku bisa mengendalikan diri." Delicia mulai sok berani.
"Aaa.. Tapi kenapa Roni sejahat itu padaku. Dia memutuskanku. Dia.. Dia bilang bahwa dia tidak cinta padaku." Delicia merengek.
"Ya ampun Delicia, menurutku Raja jauh lebih baik dari Roni," ucap Kayla.
"Iya menurutku juga begitu," Noni menimpali.
"Apanya yang baik, dia itu bersifat dingin, suka mengatur dan berlaku sesukanya."
"Dia.. Dia.. Seperti harimau. Ya, ya harimau. Harimau yang bisa menerkamku kapanpun dia mau." ucap Delicia dengan dramatis.
Obrolan panjang mereka lakukan tak membuahkan hasil. Lagi-lagi sahabatnya Delicia seperti tidak mendukung penuh Delicia.
***
Jam pulang kerja, Raja membereskan barang-barangnya. Ia menghidupkan mobil dan langsung pulang ke rumah. Sesampainya di apartemen miliknya, ia melihat Delicia yang duduk sambil menonton televisi dan makan camilan. Raja tersenyum sekilas dan melonggarkan dasinya dengan tanpa bertanya ia langsung duduk di sebelah Delicia membuat Delicia terusik dan agak menyingkir.
"Baru pulang?" tanya Delicia dengan sebal.
"Iya, siapkan air panas sana dan makan malam!"
Delicia seperti ingin meremas wajah bule yang keterlaluan itu. Delicia terpaksa bangkit dan melakukan pekerjaan yang diperintahkan suaminya.
"Haha, ternyata nonton drama. Pantas saja dia terusik saat aku menyuruhnya." Raja tersenyum kecut.
Sekitar setengah jam, semua tugas Delicia selesai. Dengan berpura-pura tersenyum manis ia mencoba untuk mengatakannya.
"Semua sudah selesai," ucap Delicia tersenyum terpaksa.
"Saat tersenyum kau terlihat sangat manis aku ingin-" Raja mendekati Delicia. Wajah mereka cukup dekat sahingga membuat Delicia melotot tajam.
"Hahaha," Raja tersenyum kecut dan masuk ke kamar mandi.
"Sudah gila," maki Delicia sambil miringkan jari telunjuk di dahinya.