Only You Mine

Only You Mine
Salah Paham



Pria tampan tersebut mengejar perampok. Ia meraih bahu perampok dan memukulnya dengan keras. Perampok itu sempat melawan akan tetapi pria tampan tersebut lebih kuat darinya. Daripada mengambil risiko dipenjara, perampok itu memberikan tas tersebut kepada pria tampan itu dan berlari menghilang.


"Ini tas Anda," pria tampan tersebut tidak lain tidak bukan adalah Raja. Ia menggunakan bahasa formal ketika berbicara dengan Delicia.


Delicia berbarik arah dan tersenyum manis melihat Raja yang menolongnya.


"Terima kasih," ucap Delicia tulus.


Gadis ini... Gadis ini yang pernah aku lihat di Inggris. Iya, iya tidak salah lagi. Dia orangnya, ya tuhan, aku bertemu dengannya setelah sekian lama aku mencarinya. Raja membatin.


"Hei!" Delicia melambaikan tangan kepada Raja karena Raja hanya diam dan tidak menjawab ucapannya.


"Maaf, saya tidak fokus," Raja tersenyum malu.


"Hem.. Aku berterima kasih sekali," ucap Delicia tersenyum.


"Sama-sama,"


Delicia pamit untuk pulang ke rumahnya. Raja masih tidak fokus dengan apa yang diucapkan Delicia. Ketika Delicia agak jauh baru dia sadar.


"Nona! Nona!" panggil Raja kemudian Delicia berbalik.


Raja menggaruk kepalanya pelan dan tersenyum malu.


"Bolehkah aku mengantarmu pulang?" tanya Raja tersenyum malu.


"Tidak usah, kau sudah banyak menolong," ujar Delicia menolak perlahan. Ia tidak mau direpotkan.


"Tidak apa-apa Nona, tidak baik jika wanita pulang sendiri,"


"Baiklah," Delicia tersenyum dan mengekori Raja dari belakang.


Sampai di rumah, Delicia meminta Raja masuk ke rumahnya. Franz yang melihat putrinya bersama seorang laki-laki, dia sudah menduga bahwa laki-laki tersebut adalah kekasih putrinya.


"Punya nyali juga kamu," ucap Franz meninggi kepada Raja.


Delicia dan Raja menjadi bingung, sebenarnya Delicia berniat untuk menjelaskan bahwa pemuda yang ia bawa adalah penolongnya.


Franz melihat Raja dengan kesal, "Oh..jadi ini kekasihmu, Delicia?" tanya Franz yang membuat Delicia terkejut.


Astaga aku lupa bahwa Papa bilang padaku membawa kekasihku hari ini. Gawat, pasti Papa mengira bahwa pemuda ini kekasihku, Delicia membantin.


Delicia bahkan belum sempat berkenalan dengan Raja.


"Pa, bukan, bukan. Dia bukan kekasih Delicia," ucap Delicia gugup.


"Jangan karena kamu orang barat, kamu bebas menjadi kekasih anak saya. Kami menjunjung tinggi norma dan aturan. Aku melarang putriku untuk berpacaran dengan siapapun. Beraninya kau menjalin hubungan dengan putriku tanpa izin dariku,"


Delicia dan Raja saling pandang. Delicia menggelengkan kepalanya. Ia berusaha untuk menjelaskan kebenarannya.


"Papa, dia bukan pacar Delicia," ujar Delicia membantah.


"Cukup Delicia! Papa tidak mau mendengar penjelasan darimu. Kau telah menghianati kepercayaan Papa," ujar Franz marah.


"Buat kau anak muda, berikan alamat rumahmu. Aku akan membicarakan masalah ini pada kedua orang tuamu. Kalian berdua harus segera menikah!"


Duar!


Delicia bercucuran keringat setelah mendengar kata-kata ayahnya. Tapi Anehnya pemuda yang menolongnya dengan senang hati memberi alamat rumahnya. Delicia makin bingung.


"Pa, dia bukan kekasihku. Aku serius, Pa,"


"Diam Delicia! Papa tidak mau mendengar penjelasan apapun darimu," Franz pergi dengan memegang kartu nama Raja dan alamat rumah miliknya.


"Hei, kita bahkan belum sempat berkenalan. Mengapa kau memberi alamat rumahmu?" Delicia menjadi kesal kepada penolongnya itu.


"Maaf, saya tidak bisa melihat amarah orang tua, jadi saya memberinya," Raja menjawab dengan lembut


Raja pamit pulang, ia tersenyum girang setelah keluar dari rumah tersebut. Ia seperti kejatuhan durian runtuh. Tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan pujaan hatinya yang sudah 4 tahun ia memendam rasa itu pada Delicia.


Delicia mondar-mandir sambil mengigit jari kelingkingnya. Ia bingung sekali, karena ayahnya itu tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.


"Pa, kumohon Pa, batalkan niat papa itu," ucap Delicia menangis.


"Bukankah dia kekasihmu, seharusnya kau bahagia. Papa tidak pernah menjodohkanmu, Papa hanya ingin hubungan kalian menjadi halal," ujar Franz tegas.


"Tapi kekasih Delicia adalah Roni bukan dia," Delicia menangis di depan ayahnya.


"Papa pernah berjanji pada kakekmu bahwa Papa akan menjadi ayah yang lebih baik dari kakekmu, tapi kau telah menghianati kepercayaan Papa. Papa gagal jadi ayah yang baik dan bijaksana untukmu." Franz memalingkan wajahnya.


"Tapi Pa...,"


Franz memotong ucapan putrinya, "Papa tidak mau mendengar protesmu, besok Papa akan ke rumah kekasihmu itu dan membahas keseriusan dia padamu,"


"Keseriusan?" Delicia menyeka air matanya.


"Iya keseriusan untuk menikahimu,"