
Dilah duduk di sofa membuah semua sepatu tas ke sembarang arah.
"Ikut aku ke kamar!" ujarnya sambil melempar barang-barang miliknya.
"Ikut ke kamar?" Franz benar-benar bingung apa tujuan wanita cantik yang dia culik bukan bukan maksudnya wanita cantik yang menculiknya mengajak Franz ke kamar. Nafas Franz membara, kata-kata Dilah membuatnya berpikiran kotor.
"Tidak mau mengambil kesempatan, kita cuma berdua disini." ucap Dilah tersenyum manis. Dilah beranjak ke kamar diikuti langkah Franz.
"Nona ini tidak benar," ucap Franz takut, ia tak mungkin menyentuh wanita tersebut yang ia inginkan adalah uangnya kembali.
"Apanya yang tidak benar, ayo ke kamar! Kamu mau uangmu kembali tidak?" tanya Dilah mengancam membuat Franz menelan ludah.
"Baiklah jika kau memaksa aku akan melakukannya," ucap Franz bimbang. Hatinya masih sangat takut. Lambaian tangan Dilah menandakan mengajak membuat Franz berjalan perlahan dibelakang Dilah.
"Hei, mengapa buka baju kau sudah gila?" Dilah bertanya sambil mengernyitkan dahi bingung.
"Tapi Nona yang meminta?" tanya yang bingung dibuat anak Menir tersebut.
"Aku bilang mengambil kesempatan maksudnya mengambil kesempatan untuk mengancam ayahku. Yang benar saja aku mengajakmu begituan." tawa Dilah sambil merogoh saku celana Franz.
"Baiklah telepon Ayah!" ucap Dilah setelah menyimpan nomor ayahnya di ponsel Franz.
"Apa ini tidak salah, kau akan merugikan ayahmu sendiri." ucap Franz gugup, hatinya mulai berdebar kencang. Dilah benar-benar menyuruhnya sebagai penculik.
"Cepat telepon ayahku dan minta uang tebusan!" teriak Dilah sambil melotot tajam.
"Baiklah, baiklah," pasrah sudah, Dilah begitu menakutkan dipandang Franz.
Franz menelepon ayah Dilah dengan tujuan meminta uang tebusan. Dengan tangan gemetaran Franz menelepon Menir.
Dilah menatap tajam pada Franz karena Franz belum mau bicara. Karena terus ditatap akhirnya Franz mengeluarkan nafas keras dan berbicara.
"Hallo, aku Ali. Anakmu ada bersamaku." suara kejam Franz yang berpura-pura menjadi penculik yang kejam.
"Ayah, tolong aku Ayah!" teriak Dilah ditelepon Ali. Setelah mengucapkan kata-kata tersebut Dilah tersenyum puas.
"Sabar Nak, Apa kau tidak apa-apa ,Nak? Ayah sangat menghawatirkanmu." ucap Menir cemas mendengar suara anaknya.
Dilah menyenggol Ali dengan tangannya dan mengisyaratkan dari bibirnya agar Franz berkata sesuai ucapan bibirnya tanpa suara.
"Anakmu aman Menir bersamaku, asal secepatnya kau membawa uang 100 juta padaku. Hahaha," ucap Franz seperti iblis. Ia berusaha berakting agar Dilah tak mencubit tubuhnya.
"Baik, baik. Tolong jangan apa-apakan putriku!" suara Menir yang dilanda kecemasan. Dari nadanya ia benar-benar cemas sekali.
"Menir putrimu akan bebas secepatnya temui aku di desa F secepatnya jika kau tak mau maka anakmu habis." ucap Franz seperti iblis. Ia benar-benar pandai memerankan perannya.
"Ayah, berikan dia uangnya Ayah, aku tidak sanggup. Aaaa," teriak Dilah menegangkan yang membuat jantung Menir berdetak kencang seperti mau copot.
"Sayang, ayah akan menyelamatkanmu," teriak Menir ketakutan.
"Sudah dengar suara anakmu, cepat berikan uang tebusannya!" Franz menutup telepon tanpa mendengar jawaban dari Menir. Ia memegang dadanya dan menghembuskan nafas keras. Jantungnya sudah mau copot karena harus berpura-pura jadi jahat ini jauh dari karakternya.
"Bagus!" senyum Dilah memberikan jempol. Ia tertawa setelah berpura-pura tersakiti.
"Huh! menakutkan," ucap Franz gugup.
"Tenang semua akan baik-baik saja. Kau mendapatkan uang dan aku tidak jadi menikah." Dilah tersenyum misterius.