
Pernikahan digelar sangat mewah. Reno merasa sangat senang karena sebentar lagi Dilah yang menjadi tambatan hatinya akan menjadi istrinya. Menir pun tersenyum senang karena sebentar lagi ia akan menjadi mafia satu-satunya dengan kekayaan yang sangat banyak dan sebentar lagi Menir akan mengalahkan Darma rival abadinya. Sedangkan Dilah tertunduk lesu, hatinya begitu hancur tapi senyum aktingnya membuat semua orang tak menyadari bahwa hatinya remuk dan hancur berkeping-keping.
Disisi lain Franz ingin membalas dendam atas ulah bosnya Menir. Bisa-bisanya cuma Franz yang tidak diberikan gaji dan pesangon atas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dilakukan Menir. Karena begitu marah dan kesal Franz datang ke rumah Menir untuk memuntut Menir atas segala ketidakadilannya. Franz membawa secarik kertas yang berisi alamat kediaman Menir beserta pistol untuk mengancam Menir.
"Menir, keluar kau!" teriak Franz dengan menembak kesembarang arah.
Ketika itu Reno hendak mengucapkan ijab kabul. Tiba-tiba suara tembakan terdengar membuat orang-orang yang menghadiri pernikahan berteriak ketakutan. Dengan sigap Menir keluar, ia tak sanggup kalau cita-citanya gagal karena ancaman tersebut.
"Siapa kau?" tanya Menir berteriak dengan wajah merah padam.
"Aku Ali (nama samaran Franz), aku ingin menuntutmu atas gaji dan pesangon yang belum kau berikan." teriak Franz menuntut semuanya yang seharusnya miliknya.
Dengan amarah Menir mendatangi Franz tanpa segaja Franz mengeluarkan pistol dan menembak tanah, untung saja tidak mengenai Menir.
"Kau sudah gila!" teriak Menir marah.
Dilah yang berada di dalam rumah keluar bersama Reno untuk melihat keadaan. Melihat ada pemuda yang ingin menuntut haknya atas Ayahnya membuat Dilah mendapakan ide berilian agar tidak menjadi istri Reno yang kejam. Dilah mendekati Franz dan berpura-pura sedang diculik. Ia menempelkan pistor yang dipegang Franz di kepalanya kemudian ia berteriak.
"Ayah, tolong Ayah!" suara Dilah meminta tolong membuat Menir khawatir.
"Kau sudah gila? Aku tidak mau melukaimu. Aku mau uangku kembali." ucap Franz kesal.
"Ayah, lihat pemuda ini, dia mau membunuhku." teriak Dilah mencekam membuat semua orang ingin membunuh Franz. Dengan gemetaran melihat amuk banyak orang Franz mulai bertanya agar hidupnya selamat.
"Nona, bagaimana ini mereka memegang senjata?" bisik Franz pada Dilah.
"Baiklah, baik." Franz gemetaran, jantungnya berdetak diatas rata-rata normal.
"Lepaskan putriku!" teriak menir dengan memegang golok di tangannya.
"Ali, mendekatlah ke mobil ayahku dengan perlahan." bisik Dilah ditelinga Ali dengan pistol yang masih menempel di kepala Dilah. "Katakan pada mereka jika mereka mendekati kita, aku akan mati," perintah Dilah.
"Jangan mendekati wanita ini, kalau tidak dia mati!" teriak Franz mengikuti.
"Baiklah, baiklah." suara Menir sangat ketakutan.
Setelah Franz dan Dilah masuk mobil dengan segera Dilah memerintahkan Franz tancap gas untuk meninggalkan rumahnya. Dilah pun berakting seolah-olah dia yang diculik.
"Ayah, tolong aku Ayah!" teriak Dilah kuat sambil meronta-ronta. Mobil yang dikendarai Franz melaju kencang.
Reno beserta pasukannya mengejar calon istri Reno. Reno sangat marah ketika pujaan hatinya harus diculik saat hendak menikahinya.
"Kejar mobil itu!" teriak Reno menggelegar kepada anak buahnya. Baku tembakan pun terjadi tapi Dilah tak merasa khawatir.
"Nona, mereka menembak," teriak Franz bingung.
"Tenang saja, calon suamiku agak bodoh, dia menembak jarang sekali kena sasaran. Sebaiknya Ali, lebih cepat bawa mobilnya!" teriak Dilah yang membuat Franz ketakutan.