Only You Mine

Only You Mine
Tampak Perubahan



"Wah... Kak Franz tubuhmu sudah sedikit berotot," mata Laura terbelalak melihat Franz yang berlatih bela diri tanpa mengenakan baju tetapi masih mengenakan celana.


Franz menghentikan latihannya, " Doa kan saja kakak menang," Franz tersenyum kemudian ia mengambil sebotol air mineral.


"Aku pasti berdoa untuk kakak, asalkan.." Laura mengusap-usap tangannya.


"Apa maumu?" tanya Franz serius.


"Tidak ada Kak, tadi aku bercanda." Laura menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Mana Dilah?" tanya Franz celingak celinguk, matanya terus mencari keberadaan Dilah.


"Dia masak bersama Ibu, mereka terlihat sangat akrab, kekasihmu itu sudah sangat akrab dengan Ibu,"


"Hmm... Aku tak salah pilih calon istri, sebaiknya aku berlatih agar dia tak jatuh ke tangan Reno," Franz makin semangat sedangkan Laura geleng-geleng kepala.


***


Setelah masak bersama ibu Franz, Dilah keluar dan mendapati Darma yang sedang olahraga panahan.


"Hei Paman," Dilah menyapa dengan melambaikan tangan.


"Hei juga," Darma menghentikan olahraganya. Ia tersenyum dan melambaikan tangan juga.


"Paman bermain panahan?" Dilah memegang panahan yang satunya yang belum dipakai Darma hari ini.


"Seperti yang kau lihat," Darma mulai memasang anak panahnya ke panahan.


"Bolehkah aku ikut bermain?" Dilah tersenyum manis agar dia diizinkan ikut.


"Kau bisa bermain panahan?" Darma balik bertanya.


"Paman, main panahan sangatlah mudah. Bahkan waktu kecil aku sering dibawa berburu sama ayah," ucap Dilah enteng.


Dilah menunjukkan kelihaiannya dalam bermain panahan. Hanya sedikit anak panah yang meleset, lainnya tepat sasaran dan sempurna.


"Wah.. Bagus sekali, kau bahkan bisa mengalahkanku," ucap Darma memuji sambil bertepuk tangan kecil.


"Tidak usah terlalu berlebihan paman," Dilah tersenyum lembut, pipinya memerah lantaran di puji.


"Ehem, ternyata kau disini rupanya," wajah Franz terlihat kesal, biasanya Dilah selalu menghantarkan air mineral atau makanan padanya ketika Franz selesai berlatih, namun kali ini tidak. Dilah sibuk bermain panahan dengan Darma.


"Franz, mengapa kau sekesal itu?" Dilah masih tak paham mengapa Franz kesal.


"Kau tak seperti biasanya, biasanya kau membawakan aku minuman setelah latihan," Franz menunjukkan wajah sekesal mungkin agar Dilah merasa bersalah.


"Tidak usah sekesal itu, tadi niatnya aku ingin kesana tapi melihat ayahmu bermain panahan, aku jadi ikutan bermain." ucap Dilah tersenyum sambil menyentuh wajah Franz dengan jemarinya yang lembut.


"Kau jangan terlalu dekat dengan ayahku, aku cemburu," ucap Franz cemberut masam.


"Hei Franz, aku tak mungkin mengambil calon istri anakku," ucap Darma kesal. Walaupun ia mafia yang punya kekusaan luar biasa. Ia tak pernah berpoligami, alasannya hanya satu, ia begitu mencintai Ayunda, ibunya Franz.


"Hemm, tetap saja aku cemburu jika calon istriku berdekatan Ayah," ucap Franz, matanya seperti menunjukkan permusuhan.


"Sudahlah Franz," ucap Dilah mererai kegaduhan.


"Hei Franz, aku sangat mencintai ibumu, aku tak akan tertarik pada wanita lain," ucap Darma yang membuat suasana menjadi semakin panas.


Mata Franz menunjukkan permusuhan pada ayahnya, dengan segera Dilah harus mengalihkan pusat pembicaraan.


"Franz, kau sudah six pack. Lihat tubuhmu ini bagus sekali bukan?" ucap Dilah memuji.


"Kau suka? Setelah menikah kau akan mencicipinya," ucap Franz menggoda.


"Hemm," Dilah menyikut Franz, ia sangat malu sekali. Tapi setidaknya ucapan Dilah berhasil melerai Franz dan Darma yang hampir bersitegang.