
"Hei Delicia, selamat ulang tahun," ucap Kayla sambil mencium Delicia.
"Terima Kasih Kayla, aku sangat menghargai kedatanganmu," senyum Delicia.
Acara pesta ulang tahun selesai di gelar. Delicia penasaran dengan kado yang diberikan oleh teman-temannya.
"Kekasihmu tidak datang?" tanya Farhan dengan gaya tengilnya.
"Kau tidak usah ikut campur, Han," ucap Delicia sebal seraya membuka kado.
"Pria macam apa dia tidak berani datang ke rumah ini, aku tahu kakak tidak dibolehkan pacaran tapi dia tidak berusaha meyakinkan Mama dan Papa tentang hubungan kalian," ujar Farhan memberi nasihat.
"Kau tidak perlu mengurusi kehidupan pribadiku," ujar Delicia kesal, selain adiknya yang sedikit nakal. Farhan juga sok memberi nasihat menurutnya. Terkadang nasihat dari Farhan tidak ia dengarkan karena menganggap Farhan hanyalah anak kecil yang tidak punya pengalaman hidup seluas dirinya atau orang dewasa lainnya.
"Kak Cia, aku akan mengatakan pada Mama dan Papa bahwa kau sudah punya pacar," ancam Farhan.
"Han, kau jangan main-main denganku!" Delicia balik mengancam.
"Ini demi kebaikan kakak," ucap Farhan singkat.
Farhan berlari menghadap ibu dan ayahnya. Delicia tidak tinggal diam, ia mengejar adiknya itu.
"Pa! Ma!" Farhan tersengal akibat berlari. Nafas Farhan memburu.
"Apa Nak?" tanya Dilah dengan lembut.
"Kakak.. Kakak... Kakak Cia sebenarnya sudah punya pacar," ujar Farhan dengan nafas tersengal.
Franz mengepal tangannya, Delicia yang baru datang mendadak takut melihat raut wajah ayahnya.
"Beraninya kau berpacaran tanpa izin dari Papa," suara Franz meninggi membuat Delicia menunduk. Ia tidak berani melihat wajah ayahnya.
"Papa sudah katakan padamu untuk tidak berpacaran. Mengapa kau melanggarnya," Franz masih membara.
"Maafkan Delicia Pa, Delicia mencintainya," ucap Delicia lirih.
"Baik! Jika kau mencintai pemuda itu, suruh dia datang besok menghadapku. Jika dia tidak berani kau dan dia harus mengakhiri hubungan asmara kalian," ujar Franz tegas.
"Kau boleh masuk ke kamar!" ucap Franz selanjutnya.
"Besok Roni harus datang, besok Roni harus datang," ucap Delicia sambil mondar-mandir di kamarnya. Kemudian ia menelepon Roni.
"Halo Ron," ucap Delicia agak gugup.
"Iya Sayang," ujar Roni dengan manja.
"Besok kamu datang ya ke rumahku!" pinta Delicia.
"Kerumahmu? Ah tidak! Tidak! Aku tidak mau," ujar Roni menolak.
"Ron! Kumohon datang ya, kalau tidak Papa melarangku untuk menjalin hubungan denganmu,"
"Aku tidak akan ke rumahmu! Kita bisa diam-diam berpacaran," Roni membantah.
"Ron, mau sampai kapan? Kita sudah berpacaran hampir 5 tahun tapi kau tidak pernah datang ke rumahku untuk mengatakan bahwa kau serius denganku,"
Aku tidak pernah serius pacaran denganmu, batin Roni.
"Pokoknya aku tidak mau,"
Glep, Roni menutup telepon. Delicia menjadi bimbang. Berulang kali ia mencoba menelepon Roni namun tidak di angkat. Delicia tidak putus asa ia terus menelepon akan tetapi panggilannya di matikan. Akhirnya Delicia mengirimkan pesan.
"Apakah benar kata Farhan bahwa kau tidak serius padaku," Delicia terduduk lemas.
"Bagaimana caranya aku menjelaskan pada Papa kalau Roni tidak mau datang, pasti Papa marah besar dan menuding Roni pria pengecut," gumam Delicia.
Delicia menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, " Ah sudahlah, aku tidak perlu memikirkannya. Itu akan membuatku pusing.
Besoknya Delicia berdiri menunggu taksi, ia tidak diberikan fasilitas setelah ketahuan punya kekasih. Tiba-tiba tas Delicia diambil oleh seseorang yang tidak dikenali.
"Tolong! Tolong! Rampok!" teriak Delicia.
Pria tampan dan gagah turun dari mobil untuk menyelamatkan tas Delicia.