Only You Mine

Only You Mine
Malam Hari



"Ali!" teriak Dilah memanggil Franz.


"Apa Nona?" menunduk hormat.


"Aku lapar," ucap Dilah tanpa ragu, ia memegangi perutnya karena lapar.


"Persediaan di rumah ini sudah habis," ucap Franz dengan suara lembut.


"Aku ada ide agar kita bisa makan," tersenyum misterius sambil membisikkan sesuatu di telinga Franz.


Dilah dan Franz menaiki mobil mereka mencari sesuatu agar bisa makan malam ini. Mereka tidak punya uang untuk makan kali ini.


"Ali ada pesta!" teriak Dilah girang.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Franz mengerutkan dahi


"Kita kesana dan makan," tersenyum manis menjawab pertanyaan Franz.


"Ini salah Nona, kita tidak diundang," ucap Franz takut, pria bernama Franz ini sangat takut sekali dengan dosa.


"Kamu mau makan tidak, kalau mau kelaparan malam ini ya sudah," ucap Dilah kesal, ia melipat tangannya dan mengerutkan bibirnya.


"Baiklah, aku menurut apa yang kau katakan." ucap Franz canggung.


"Ayo turun!" Dilah menarik tangan Franz agar turun dari mobil.


Setelah turun dari mobil mereka langsung ke pesta tersebut. Dilah melihat pakaian yang melekat ditubuh Franz yang kurang bagus untuk menghadiri pesta. Dilah terus berpikir bagaimana agar orang percaya bahwa mereka diundang. Dilah melihat seorang laki-laki sedang mabuk berat entah siapa itu ia mengambil jas yang melekat ditubuhnya dan meninggalkan pria yang mabuk tersebut.


"Ini Ali pakai jas!" ucap Dilah sambil memberikan jas pada Franz.


"Baiklah," tersenyum dan memakai jas.


"Ini sisir dulu rambutmu agar tampak rapi," saran Dilah.


"Baik," Franz menyisir rambut dan berkaca pada mobil.


Setelah mereka terlihat rapi dan seperti tamu undangan mereka masuk ke pesta tersebut.


"Kalian ini siapa?" tanya pemilik pesta.


"Kami saudara jauh yang datang, ini suamiku Ali," tersenyum manis sambil menggandeng Franz mesra.


"Suami?" tanya Franz pelan sambil mengerutkan dahinya.


"Oh saudara jauh, mungkin kami belum pernah melikat kalian. Ya sudah silahkan masuk!" mereka mempersilahkan masuk Franz dan Dilah.


Mereka langsung mengambil hidangan yang banyak untuk mengisi perut yang sudah kelaparan sejak tadi. Mereka makan dengan elegant, dan terlihat mesra agar tipuan mereka tak ketahuan.


"Baguskan ideku?" tanya Dilah sambil memakan hidangan pesta.


"Iya Nona, tapi kita tak membawa kado atau hadiah apapun," tunduk Franz takut.


"Sudah tenang saja," tersenyum manis


Setelah puas makan dan perut kenyang mereka sempat-sempatnya berfoto dengan penggantin tersebut.


"Kami boleh ikutan foto?" tanya Dilah tersenyum.


"Boleh," senyum pengantin wanita.


"Nona kita sudah numpang makan apa tidak tahu malu kita ikutan berfoto dengan mereka?" bisik Franz takut.


"Diamlah Ali, kita lagi berperan sebagai suami istri lagi pula mereka tidak keberatan." suara pelan Dilah yang geram melihat Franz yang terus takut.


Cekrek! Cekrek! Cekrek


Franz dan Dilah bergaya di depan kamera bersama pengantin yang tengah berbahagia. Franz saat berfoto terlihat canggung tapi Dilah terus menyenggolnya agar mau menurut akhirnya ia tersenyum terpaksa.


Setelah berfoto dengan pengantin mereka langung pulang ke rumah tanpa singgah kemana pun.


***


Pesta selesai digelar, sepasang suami istri dan orang tua mereka melihat album foto mereka.


"Ibu ini siapa?" tanya Gina wanita yang menikah. Menunjuk wajah Franz dan Dilah.


"Tidak tahu mungkin saudara atau krabat suamimu," tersenyum menjawab.


"Mas, mereka ini siapa?" tanya Gina yang bingung dan masih menunjuk wajah Franz dan Dilah.


"Mas juga tidak tahu Gina mungkin saudara jauh." tersenyum lembut.


"Oh.. Mungkin saja," tersenyum manis di depan suaminya.