Only You Mine

Only You Mine
Reno Mengancam



Dilah dan Franz meninggalkan desa tersebut. Mereka merasa tak aman bila terus berada di desa tersebut. Dan benar saja, Franz dan Dilah melihat mobil Reno dan Menir yang masuk ke desa tersebut.


"Ayo cari Dilah dan pemuda itu!" teriak Reno pada anak buahnya.


Mendengar hal itu Dilah dan Franz bersembunyi dibalik pohon. Harap-harap mereka tak ketahuan. Bisa habis nyawa mereka di tangan Reno.


"Hei, Pak tua! Apakah kau melihat orang baru masuk kesini?" tanya Reno dengan mata melotot tajam.


"Iy, iya Nak," jawab pria paruh baya dengan gagap.


"Dimana mereka?" tanya Reno berteriak kencang membuat pak tua tersebut menciut.


"Di rumah Ibu Yulia," ucap pria paruh baya tersebut dan langsung pergi.


"Ohh... Disana kalian, sudah tak sabar rasanya untuk menguliti mereka." ujar Reno dengan nada semangat.


Reno dan anak buahnya menuju rumah ibu Yulia.


Tok! Tok! Tok!


Reno mengetuk pintu dengan kuat. Cepat-cepat ibu Yulia membukanya. Ia pikir ada hal penting.


"Mana Dilah dan pemuda itu?" tanya Reno, kemudian ia mendorong ibu Yulia hingga tersungkur. Reno dan anak buahnya memeriksa rumah tersebut. Kemudian mereka melakukan kekacauan. Mereka memberantakkan rumah ibu Yulia. Tak menemukan Dilah dan Franz, Reno mendekati ibu tersebut dan mencengkram wajahnya.


"Dimana calon istriku?" tanya Reno berteriak, ibu Yulia hanya bisa menangis. Mana mungkin ia memberitahu keberadaan putri kesayangannya.


"Cepat katakan Ibu Tua!" teriak Reno menggelegar membuat ibu Yulia tak bisa menahan air matanya.


Jadi, pria ini yang akan dijodohkan denganmu Nak? Semoga kau diselamatkan Allah Swt. Malang sekali nasipmu jika menjadi istri pria ini.


"Tuan Reno, aku melihat Dilah dan pemuda itu keluar dari desa!" ujar pemuda bernama Salim.


"Apa katamu?" Reno melotot kearahnya dan menghempaskan wajah ibu Yulia dengan kasar.


"Cepat Tuan! Sebelum mereka jauh dari sini!" ujar Salim memaksa Reno untuk mengejar mereka. Dengan segera Reno melambaikan tangannya, agar anak buahnya ikut bersamanya.


Ibu Yulia melihat mobil-mobil tersebut meninggalkan rumahnya dan dengan jelas ia melihat suaminya Menir masuk ke mobil. Menir tak ikut masuk ke rumahnya. Jika tadi Menir masuk ke rumah Ibu Yulia pasti ia akan mengenali ibu Yulia yang merupakan istrinya yang diisukan oleh ibunya telah meninggal dunia.


Ibu Yulia mengalihkan pandangannya dari mobil-mobil yang menghilang dari rumahnya kearah Salim. Wajahnya memerah ingin marah pada Salim. Salim membantu Ibu Yulia bangkit. Tapi raut wajah marah pada salim tetap terpancar.


"Mengapa kau memberitahu keberadaan putriku?" tanya ibu Yulia dengan nada lirih. Hatinya was-was bila Dilah tertangkap oleh Reno.


"Putrimu?" tanya Salim kaget.


Setahuku, ibu Yulia tak memiliki anak dan suami, bagaimana ia bisa memiliki seorang putri? Batin Salim gundah.


"Iya, dia putriku dan pria berkumis tebal, memakai topi koboy dan memakai kacamata hitam. Itu adalah suamiku." katanya dengan lirih.


"Tuan Menir maksud Ibu?" salim bertambah terkejut mendengar pernyataan ibu Yulia.


"Mengapa kau bodoh sekali, memberitahu keberadaan anakku." ibu Yulia menumpahkan air mata. Ia benar-benar takut anaknya tertangkap pria jahat itu.


"Aku tak ingin Ibu Yulia mati, maka aku beritahu keberadaan Dilah. Aku tahu Reno sepertinya ingin membunuh Ibu karena Ibu menyembunyikan calon istrinya." ujar Salim yang ikut menangis, ia tak menyangka caranya memberitahu keberadaan Dilah membuat ibu Yulia bertambah sedih.


"Aku lebih baik mati demi kebahagiaan anakku. Bahkan aku rela dianggap mati olehnya. Sampai sekarang Dilah mengetahui bahwa aku telah tiada." ujar ibu Yulia mencurahkan isi hatinya.


Salim tercengang mendengar apa yang dikatakan ibu Yulia padanya. Kehidupan ibu Yulia sangat rumit dipikirannya.