Only You Mine

Only You Mine
Mengundurkan jadwal



Franz menunjukkan pesan singkat dari Menir pada Dilah. Ia merasa sedih harus menghantarkan Dilah pada ayahnya. Seiring berjalannya waktu, Franz mulai menaruh hati pada putri Menir. Franz sedikit menitihkan air mata kemudian menyekanya dan tersenyum. Mungkin Dilah sudah saatnya kembali tak mungkin ia berduaan dengan wanita yang bukan muhrimnya terus-menerus.


"Nona, ini pesan singkat dari ayahmu." ucap Franz dengan nada sedih.


"Bisakah kita mengulur waktu, besok saja untuk menggembalikanku. Aku ingin membuat kenangan indah bersamamu." ujar Dilah tersenyum walaupun ia belum merasakan perasaan apapun pada Franz tapi ia merupakan wanita baik akan tetapi agak sedikit angkuh.


"Baiklah," ucap Franz kemudian ia mengetik pesan singkat di ponselnya.


"Kurang ajar! Bisa-bisa penculik itu mengulur waktu." kesal Menir, wajah Menir sudah merah padam ingin marah.


Akhirnya negoisasi pun terjadi, Reno dan Menir setuju jika Dilah dikembalikan besok mengingat Franz terus mengancam dan Reno masih dalam keadaan malas. Karena lelah melayani nafsunya semalam.


***


Dilah dan Franz keluar rumah dan berjalan-jalan untuk menghabiskan waktu berdua sebelum akhirnya berpisah besok.


"Nona, apa tidak apa-apa kau pulang besok. Aku sangat menghawatirkanmu." ucap Franz sedih, ia ingin berlama-lama dengan Dilah. Karena ada benih cinta yang tumbuh dihatinya.


"Tenang saja! Aku akan kabur nanti setelah kembali ke rumah. Yang terpenting kau mendapatkan uang itu dan buatlah bisnis besar untuk mengalahkan ayahmu," senyum Dilah agar Franz tak khawatir padanya.


"Iya Nona, itulah tekatku untuk membuktikan ke ayahku." ucap Franz penuh kobaran semangat.


"Siapakah ayahmu itu dan mereka tinggal dimana?" tanya Dilah penasaran.


"Nona tak perlu tahu," tersenyum menggaruk kepala walaupun tak gatal.


"Iya sudah," kesal Dilah dan mengerutkan bibirnya.


Maafkan aku Nona, aku tak ingin kau tahu siapa aku sebenarnya. Batin Franz.


"Ali aku lapar,' ucap Dilah sambil memegang perutnya.


"Lapar ya?" Franz ke sungai yang mengalir tenang dan terdapat anak-anak yang memancing ikan.


Franz melambaikan tangan agar Dilah mendekatinya. Dilah pun mendekati Franz dan duduk disampingnya.


"Kita pancing ikan agar kita bisa makan," Franz melempar mata pancingannya dan mulai memancing.


"Semoga dapat banyak ikan. Aamiin," gumam Dilah berdoa dan ditanggapi senyum oleh Franz sambil berdoa dalam lubuk hatinya.


Benar saja doa Franz dan Dilah dikabulkan mereka mendapakan banyak ikan hingga 7 kilo. Mereka menjual ikan tersebut untuk membeli beras, bumbu, dan menyisakan ikan untuk lauk mereka.


Mereka pulang ke rumah dengan perasaan senang. Franz dan Dilah mulai memanggang ikan dan memasak nasi. Kemudian mereka makan dengan lahap. Sekarang Dilah mulai terbiasa makan makanan sederhana semenjak ia diculik eh maksudnya menculik Franz.


"Ali, terima kasih atas segalanya telah menyelamatkanku dari pernikahan yang paling aku benci." ungkap Dilah kemudian ia mengambil air putih.


"Sama-sama, tapi sebenarnya Nona lah yang menyelamatkan diriku yang hampir terbunuh." senyum Franz melihat Dilah yang duduk disampingnya.


"Nona, jika kau kembali pada ayahmu. Pasti kau akan menikah dengan calon suamimu." ucap Franz khawatir.


"Aku tidak bodoh, pagi-pagi sekali aku sudah merencanakan sesuatu untuk kabur setelah ayah tersenyum memandangku dan hendak mengadakan pernikahanku yang tertunda." senyum Dilah angkuh.


"Mau kabur kemana?" tanya Franz yang sangat ingin tahu rencana Dilah.


"Ke hatimu," ucap Dilah pura-pura serius.


"Benarkah?" berbinar mengangap itu gombal.


"ya ke suatu tempatlah." senyum Dilah meledek.


"Pelit sekali kau memberi tahuku," ujar Franz kesal.


"Nanti setelah aku berhasil kabur dan rencana berjalan lancar aku akan menghubungimu," ucap Dilah sambil menarik hidung Franz yang mancung.