Only You Mine

Only You Mine
Lari



"Itu mereka!" teriak Reno


Dilah dan Franz terus berlari, mereka tak ingin tertangkap oleh Reno dan anak buahnya. Mereka melewati tempat-tempat yang sulit dilalui mobil. Akhirnya Reno dan anak buahnya tak bisa mengejar.


"Selamat!" ujar Franz lega.


"Ali, aku lelah berlari," ujar Dilah meringis kelelahan. Mereka duduk di bawa pohon.


Ali menebas akar yang mengandung air di hutan tersebut. "Minumlah air ini," ujar Ali pada Dilah. Dilah mengernyitkan dahi, takut kalau air tersebut beracun.


"Tidak apa-apa Nona, air ini tidak beracun," ucap Franz tersenyum lembut.


Dilah meneguk setiap tetesan air yang mengalir dari akar tersebut. Dahaganya sudah hilang tapi rasa lelah akibat berlari belum hilang juga.


"Kita harus pergi dari sini!" ujar Franz yang begitu khawatir.


"Aku masih lelah Ali," ucap Dilah menunduk, nafasnya terdengar tak beraturan karena lelah.


"Kita tak punya banyak waktu, sini ku gendong."


Seiring berjalannya waktu, kini Dilah mulai jatuh cinta pada orang yang ia culik. Franz menggendongnya untuk keluar dari hutan. Dilah menyandarkan kepalanya di bahu Franz. Hatinya mulai berdebar. Sekarang ia tak mau kehilangan Franz. Ada getaran aneh yang tiba-tiba hadir dihatinya. Bingung sekali jika harus mendeskripsikannya.


***


"Sial!" teriak Reno murka.


Reno menendang angin, mengacak-acak rambutnya dan marah besar. Anak buahnya mulai takut, kaki mereka mulai gemetaran.


"Masa kita kalah dengan penculik gila itu!" teriak Reno kesal, hatinya seperti tercabik-cabik. Usahanya menghianati hasil.


"Bos sebaiknya kita cari dia," ucap anak buah Reno.


"Tutup mulutmu!" teriak Reno garang.


Dengan berbagai pertimbangan Reno kembali melakukan pengejaran kepada Franz orang yang dituduh menculik Dilah, calon istrinya.


***


"Kau tak lelah Ali?" tanya Dilah tersenyum manis. Hatinya berbunga-bunga karena di gendong Franz.


"Bagaimana jika ada wanita yang jatuh cinta padamu?" tanya Dilah ingin tahu, karena perasaannya sudah ada untuk Ali (Nama yang selama ini ia kenal).


"Aku bersyukur," ucap Franz tersenyum.


"Apakah kau akan menikahinya?" tanya Dilah antusias.


"Belum tentu, karena aku sudah jatuh cinta dengan seseorang," ujar Franz tersenyum tipis.


Aku jatuh cinta padamu Nona.


"Aku mau turun!' seketika Dilah menjadi cemburu.


"Jangan Nona, kau masih kelelahan!" ujar Franz melarang.


"Aku mau turun!" Dilah meronta-ronta untuk turun.


Dengan terpaksa Ali menurunkan Dilah. Ketika Dilah ingin jalan tak sengaja ia tersandung akar dan hampir terjatuh. Untung saja ada Franz menariknya dan jatuh di pelukannya. Perasaan mereka menjadi campur aduk.


"Sudah kukatakan jangan turun!" Franz menggendong Dilah kembali.


Dilah sebenarnya senang tapi hatinya mulai sedih karena Franz sudah mencintai orang lain.


Akhirnya mereka menemukan perkampungan. Sekarang Dilah sudah tak merasa lelah. Perjalanan ke rumah Franz sebentar lagi sampai.


"Sekarang kamu sudah bisa jalan kan?" tanya Franz tersenyum.


"Sudah," jawab Dilah ketus.


Ketika ke daerah perkampungan, Dilah merasa Aneh. Banyak yang menunduk pada mereka. Jelas mereka melakukan hal itu karena Franz adalah anak mafia di desa tersebut. Dilah menggaruk kepala bingung. Mengapa orang-orang menunduk setiap kali melihat mereka?


"Tuan kau kembali?" tanya Pak Tua sambil membawa cangkul yang ia taruh di pundaknya.


"Iya," senyum Franz ramah.


"Tuan? tanya Dilah bingung.