Only You Mine

Only You Mine
Teman Lama



"Franz!" ucap Boy terkejut.


"Itu kau Boy?" tanya Franz dengan menatap Boy dari atas sampai bawah.


"Iya ini aku," ucap Boy meyakinkan Franz.


Franz dan Boy berpelukan sedangkan Dilah dan Fina menatap penuh kebingungan.


"Kalian punya hubungan apa?" tanya Dilah penasaran.


Franz dan Boy malah tertawa. Sudah lama sekali mereka tak bertemu. Ini adalah momentum untuk melepas rindu.


"Dia teman lamaku," ucap Franz sambil menepuk bahu Boy lembut.


Franz membawa Boy ke suatu tempat. Dilah dan Fina terperangah melihat Franz dan Boy akrab sekali.


"Dilah, mereka ingin kemana?" tanya Fina bingung.


Dilah hanya angkat bahu. Fina mendengus kesal. Pasalnya tujuan ia kesini untuk menunjukkan kemesraannya dengan Boy malah Boy meninggalkannya.


"Ayahmu ada di sini?" Fina celingak-celinguk untuk mencari Menir.


"Dia langsung pulang semalam, beliau tidak enak tinggal disini," jelas Dilah.


"Kenapa?" Fina mulai antusias.


"Ayah Darma dan Ayahku adalah rival,"


Fina tertawa kecil setelah mendengar ucapan Dilah, "Dilah, ternyata suamimu dan keluarganya penuh kejutan," tawanya kembali.


***


Mata Reno memerah dan bengkak. Ia sudah kalah di depan orang banyak. Harga dirinya yang tinggi jatuh kejurang kekalahan. Tidak ada yang menghormatinya sekarang.


"Reno! Kau mabuk lagi?" tanya Galih geram.


"Diam kau, aku tak mau berbicara denganmu," Reno marah dalam pengaruh minuman beralkohol dan tekanan hidup.


"Reno sadarlah, ini Ayah," ucap Galih mencoba menyadarkan anaknya.


"Aku tak pernah kalah,"


gumam Reno sombong, ia memecahkan foto-foto di kamarnya.


"Dilah kau milikku," ucap Reno yakin.


Reno meneguk kembali minuman beralkhol. Ia tak peduli dengan kesehatannya. Satu-satunya yang membuat ia tenang adalah minuman beralkhol dan para wanita penghibur.


"Aaaargghh!" teriak Reno karena tangannya terkena serpihan kaca.


"Dilah dan Franz apa yang aku alami ini sangat sakit sekali," celoteh Reno sambil menatap foto Dilah dengan tatapan nanar.


"Hatiku hancur dan kau juga harus hancur," Reno menunjuk foto Dilah yang sedang tersenyum. Ia teguk lagi minuman beralkhol.


"Kau harus merasakan sakit ini, Dilah!" teriaknya kemudian Reno pingsan.


Malam hari Reno tidak terlihat keluar dari kamar. Membuat Galih khawatir. Karena biasanya Reno selalu keluar dari kamar dan pergi entah kemana. Tapi kali ini tidak, Reno tidak terlihat batang hidungnya.


Galih mendatangi kamar Reno. Berulang kali ia sebut nama anaknya. Namun, tidak ada sahutan. Galih mengetuk pintu dengan keras tapi masih tidak ada sahutan. Karena begitu khawatir, ia dobrak pintu tersebut.


Gubrak!


Pintu kamar Reno terbuka. Alahkah terkejutnya Galih melihat Reno yang tergeletak. Dengan cepat ia memanggil pelayan untuk menggotong Reno, Reno langsung dilarikan ke rumah sakit.


"Kenapa ini terjadi pada anakku?" Galih meremas wajahnya kesal.


Galih mondar-mandir menunggu dokter keluar dari ruangan dimana Reno ditangani.


Dokter keluar dari ruangan, tanpa basa-basi Galih langsung bertanya tentang keadaan anaknya.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Galih cemas.


"Anak Bapak mengonsumsi minuman beralkhol cukup banyak dan minuman tersebut merupakan minuman oplosan. Anak bapak masih kritis," jelas Dokter tersebut.


"Aaggggrh! Mengapa semua ini terjadi pada anakku?" ucap Galih geram.