Only You Mine

Only You Mine
Bahagia



Mendengar restu dari ayahnya. Dilah berlari untuk mendekati Franz. Ia menghentangkan tangannya ingin memeluk Franz dengan erat. Franz menggelengkan kepalanya membuat Dilah cemberut masam.


"Kenapa?" Dilah mengerutkan bibirnya.


"Lihat tubuhku, penuh dengan luka dan memar, belum lagi aku berkeringat dan pasti baunya tak sedap," ucap Franz apa adanya.


Dilah tak memperdulikan itu, ia memeluk Franz di depan semua orang.


"Aku mencintaimu," bisik Dilah yang membuat Franz meleleh.


"Aku juga mencintaimu," bisik Franz, Dilah dan Franz masih saling memeluk.


"Katakan pada semua orang bahwa kau mencintaiku!" Dilah mengendurkan pelukannya.


Franz melepaskan pelukan dan memegang pinggang Dilah. "Aku ingin mengatakan kesemua orang bahwa, AKU MENCINTAIMU, DILAH SANJAYA," Franz berteriak dan memberikan penekanan pada ujung kalimatnya.


Para penonton bersorak karena terbawa perasaan. Perjuangan cinta mereka telah membuahkan hasil. Restu dari Menir menjadi penentu kelanjutan masa depan mereka.


"Aku melamarmu sekarang juga," ucap Franz dengan lantang. Para penonton tak mau ketinggalan melihat tontonan ini. Bahkan ada yang ingin buang air kecil tak jadi ke toilet dan memilih untuk menahannya karena tak mau ketinggalan.


Para pengawal Franz membawa cincin. Para pengawal menyerahkan cincin pada Franz. Franz berjongkok, membuka kotak cincin dan memperlihatkan cincin pada Dilah yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


"Maukah kau menikah denganku?" ucap Franz penuh harap.


Dilah masih membeku, rasanya bercampur aduk. Sedih, senang, bahagia, malu, gugup bersatu menjadi satu. Para penonton meneriaki. " Terima, terima, terima," ucap para penonton serentak.


"Iya aku mau," ucapan singkat, padat dan cepat membuat para penonton bersorak kegirangan. Entah apa yang membuat para penonton sampai terbawa perasaan sebesar itu. Bahkan ada penonton yang menangis haru dan ada pula yang menyenggol pasangannya untuk segera menikahinya.


Franz langsung menyematkan cincin di jari manis Dilah dan memeluknya. Hatinya begitu lega. Perasaan cinta yang kini diutarakan telah terealisasikan. sedangkan Reno, ya mana Reno? Reno sedang menangis histeris. Kini sang tambatan hati sebentar lagi menjadi milik orang lain. Bukan hanya itu, kekalahan yang di dapatkan Reno. Rasa hormat masyarakat yang selalu tersemat pada Reno kini sirna. Harga diri dan kesombongan jatuh kejurang kekalahan.


Franz dan Dilah langsung membersihkan diri. Franz telah siap untuk menikahi Dilah sang pujaan hati. Wajahnya yang memar habis bertarung sudah tertutupi riasan wajah untuk pria. Ia memakai jas hitam yang melengkapi ketampanannya. Sedangkan Dilah telah cantik memakai gaun penggantin.


Menir mendekati Dilah, matanya berkaca-kaca.


"Maafkan Ayah yang telah memaksakanmu untuk menikahi Reno yang jahat itu," ucap Menir sambil memeluk putri kesayangaannya.


"Aku sudah memaafkan Ayah, jika dulu Ayah tak menjodohkanku dengan Reno mungkin aku tak bertemu Franz di hidupku. Ini semua berkat Ayah, ini hikmah dibalik ujian yang aku dapatkan," Dilah mengeluarkan airmatanya. Memeluk Menir dengan erat.


"Ayah sangat menyayangimu, kau mirip dengan ibumu," ucap Menir, ia melepaskan pelukan dan menyeka airmata.


Darma datang mendekati Menir. Ia merangkul Menir bak seorang sahabat.


"Sudah tidak ada lagi permusuhan diantara kita. Sekarang kau adalah bagian dari keluarga kami," ucap Darma dengan bijaksana.


"Kau juga bagian dari keluarga," Menir tersenyum cerah. Secerah terik matahari di siang ini.


Ayunda datang bersama Laura. Pada saat pertarungan ia tak melihat sedikitpun. Batin semua ibu akan sakit melihat anaknya bertarung dan terluka. Oleh sebab itu, ia tak melihatnya.


"Mana Pak penghulunya? Kalian harus segera menikah!"