
Galih masuk ke ruangan untuk menengok Reno yang berbaring lemah. Reno akhirnya siuman.
"Ayah!" panggil Reno dengan suara pelan.
"Iya Nak," Galih pucat pasih melihat kondisi anaknya.
"Aku, aku sudah tidak tahan lagi," ucap Reno meringis.
"Nak bertahanlah!" ucap Galih sambil memegang dahinya.
"Ayah, tolong balaskan dendamku pada Dilah dan Franz," tak lama Reno menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit.
"Reno! Reno! Reno! Tidaaaaak! Mengapa ini semua terjadi pada anakku,"
"Dokter! Dokter!" panggil Galih berteriak.
Dokter langsung masuk ke ruangan tersebut. Dan benar Reno tak bernyawa.
"Maaf Pak, anak Bapak sudah pulang ke sana," ucap Dokter tersebut dengan nada sedih.
"Tidakkk! Reno! Reno! Bangun!" Galih mencoba menggoyang tubuh anaknya.
Galih meremas kepalanya. Kemudian ia mengambil ponselnya dan menelepon Dino adik Reno yang tinggal di luar kota.
***
Reno dimakamkan di tempat pemakaman umum. Dino tak kuasa menahan kesedihan atas kepergian kakaknya begitu juga dengan Galih.
"Ayah, apa pesan terakhir Kakak?" tanya Dino yang masih berurai airmata.
"Balas dendam pada Franz dan Dilah," ucap Galih dengan mata yang memancarkan amarah.
Dino adalah adik Reno, ia merupakan orang yang sangat baik jauh berbeda dari sang kakak. Tapi karena pesan terakhir kakaknya, Dino berubah jadi jahat. Ia mendapatkan bisikan setan untuk segera membunuh Dilah dan Franz.
Dino berdiri dan meremas tangannya, "Aku akan mewujudkan keinginan terakhirmu Kak,"
"Mereka harus merasakan, rasa sakit yang
Kakak rasakan," ucap Dino penuh dendam.
***
"Kami pamit ya Franz dan Dilah," ucap Boy dan Fina tersenyum ramah.
"Iya hati-hati di jalan," ucap Dilah dan Franz hampir bersamaan dan direspons anggukan dari Fina dan Boy.
"Sayang, entah mengapa perasaanku tidak enak," Dilah merasa gelisah.
"Itu hanya perasaanmu saja, Sayang," ucap Franz dan memeluk Dilah.
"Tapi aku merasa seperti nyata," Dilah masih merasa gelisah, ia mempererat pelukannya dengan Franz.
"Lebih baik kita melakukan yang belum pernah kita lakukan sebelumnya."
"Contohnya?" Dilah mengerutkan dahinya.
"Seperti ini," Franz mencium bibit Dilah penuh kasih sayang.
"Hanya kau milikku," ucap Franz Dan mungkin terjadi malam pertama.
***
"Boy! panggil Fina, ia sudah memakai baju super seksi.
"Iya," Boy mendekat dan duduk dipinggir tempat tidur.
"Apakah kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Fina, ia masih ragu dengan cinta Boy padanya. Dilihat dari sudut pandang manapun
Fina bertubuh gemuk dan usianya 7 tahun lebih tua dari Boy. Hal itu, yang membuat Fina ragu akan cinta Boy padanya.
"Aku sangat mencintaimu,"
"Tapi lihat tubuhku begitu gemuk dan aku jauh lebih tua darimu, apakah aku pantas untukmu?" tanya Fina yang masih ragu.
"Aku tidak melihat fisikmu, yang aku tahu aku cinta padamu dan akan selalu mencintaimu," ujar Boy membuat Fina menjadi meleleh. Jantung Fina berdebar kencang dan pipinya merah merona.
"Aku juga mencintaimu Boy," Fina memeluk Boy penuh cinta.
"Hem," Boy membalas pelukan Fina. Walaupun agak sedikit sesak berpelukan dengan orang yang bertubuh gemuk tapi karena Boy mencintai Fina, ia tak menghiraukannya.
"Aku ingin bukti cinta darimu," ucap Fina menggoda.
"Apa?" Boy melepaskan pelukannya. Ia mengernyitkan dahinya.
Fina menatap Boy dengan tatapan serius. Ia mendekati Boy dan mengalungkan tangannya dileher Boy.
"Ayo kita lakukan malam panjang!"