Only You Mine

Only You Mine
Raja Sukses



Setelah lulus kuliah di Inggris. Raja sukses di dunia bisnis, baik itu bisnis kuliner, proferti, bisnis perhiasan dan lain sebagainya. Seiring dengan kesuksesannya di kota, ia membawa orangtuanya ke kota. Awalnya Nick dan Irene menolak, akan tetapi Raja terus membujuk mereka. Akhirnya Nick dan Irene setuju.


Raja dapat sukses dengan mudah karena ia benar-benar pintar dalam dunia bisnis. Namun bukan hanya itu, wajah tampannya juga membius para investor untuk berinvestasi padanya. Ia juga disukai banyak wanita. Banyak para kolega Raja yang ingin menjodohkan anak mereka kepada Raja. Namun Raja menolak. Raja beralasan bahwa ia belum berpikir untuk menikah.


"Raja!" Nick memanggil Raja dengan sedikit batuk.


"Iya Ayah," Raja mendekati ayahnya.


"Apakah kau tidak ingin menikah?" tanya Nick yang membuat Raja sedikit terkejut.


"Ingin, tapi Raja belum menemukan wanita yang cocok untuk Raja," ucap Raja lembut. Ia tahu ayahnya sangat ingin Raja segera menikah. Jadi ia tidak ingin membuat ayahnya kecewa.


"Raja, Ayah ingin sekali kamu cepat menikah. Di usiamu yang sudah 25 tahun sudah pantas rasanya kamu menikah. Ayah takut.."


"Hus....! Jangan katakan lagi, Ayah!" Raja sudah menerka apa yang akan dikatakan Nick padanya.


Nick hanya diam, ia juga tidak bisa memaksakan putranya untuk segera menikah.


Raja berdiri dari sofa, ia masuk ke kamarnya. Ia duduk di ranjang dan bersandar pada sandaran ranjang.


"Bukan aku tidak ingin menikah. Tapi Ayah, aku masih mencintai gadis cantik yang aku temui di Inggris. Aku ingin menikah dengannya, tapi aku tidak tahu dia berada dimana," gumam Raja.


"Ah Sial! Aku masih saja mencintainya. Gadis cantik keturunan Asia itu telah membuatku tergila-gila padanya. Sudah hampir 4 tahun aku tidak pernah bertemu dengannya. Tapi.. Tapi.. cinta itu masih saja ada."


***


Delicia baru bangun dari tidurnya, ia menguap dan menutup mulutnya lembut. Ia merenggangkan tangannya. Dengan malas ia berjalan keluar kamar.


"Selamat ulang tahun!" ucap Franz, Dilah, dan Farhan berulang-ulang.


Delicia kaget, ia mendapatkan kejutan ulang tahun yang ke 25 tahun. Ia melihat teman-temannya yang ikut hadir. Delicia agak sedikit malu, pasalnya ia baru bangun tidur. Rambutnya saja belum sempat ia sisir.


"Delicia, bagi Mama dan Papa, kamu itu masih sangat kecil," ujar Dilah_ibunya Delicia.


"Iya, betul apa yang dikatakan Mamamu, sebesar apapun kamu, kamu tetap masih anak kecil yang menggemaskan bagi kami," ujar Franz menimpali.


"Ayo Kak Cia, tiup lilinnya!" ucap Farhan sembari mendakatkan kue ulang tahun.


Delicia berdoa di dalam hatinya, kemudian ia meniup lilin tersebut. Setelah itu, Delicia menitikan air mata. Ada rasa bersalah pada dirinya. Delicia menyembunyikan sesuatu dari orang tuanya. Delicia sebenarnya dilarang untuk berpacaran akan tetapi ia melanggarnya. Ayah dan ibunya ingin sekali Delicia mendapatkan cinta sejati bukan dari jalur pacaran. Seperti Dilah dan Franz yang menikah tanpa berpacaran.


"Kak Cia, kenapa menangis, Kak?" tanya Farhan heran. Delicia menyentuh hidung Farhan lembut.


"Kakak menangis bahagia, Han," ujar Delicia sambil menyeka air mata.


"Ayo Delicia, temui teman-teman kamu yang sudah berkumpul," ujar Dilah tersenyum.


"Bolehkah aku mandi terlebih dahulu?"


Dilah menahan senyumnya, "Iya, akan lebih baik kamu menemui mereka ketika selesai mandi,"


Franz dan Dilah meninggalkan Delicia dan Farhan.


"Mana hadiahku?" tanya Delicia pada Farhan adiknya.


"Ini Kak!" ucap Farhan sambil memberikan kotak hadiah.


Delicia membuka kotak tersebut dengan tersenyum sumringah. Ketika ia membuka kotaknya.


"Aaa... Tikus?" Delicia membuang kesembarang arah kotak beserta tikusnya.


"Han, kuhajar kau nanti!"