
Kehidupan Delicia sangat menjengkelkan. Ia tak menyangka harus berbesar hati hidup bersama pria yang tak pernah Delicia cintai. Delicia hanya punya satu cara yaitu membuat Raja membencinya dan segera menceraikannya. Apapun itu Delicia harus bisa? Delicia tak tahan harus hidup seperti dipenjara jika terus bersama Raja.
"Apapun itu Raja tetaplah orang yang ku benci," Delicia kesal.
Delicia tidak mengerti takdir bisa membuatnya menjadi rendah seperti ini.
"Apa yang kau pikirkan?" Raja mengamati Delicia sedang melamun. Raja membersihkan rambutnya dengan handuk kecil ia hanya mengenakan celana pendek.
"Bukan urusanmu!" Kesal Delicia.
Delicia seperti kucing ganas yang tidak bisa di sentuh sedikitpun.
"Oh... Begitu?" Raja tersenyum nakal.
"Kau membayangkan bagaimana aku menyentuhmu?" Tanya Raja dengan nada menggoda.
"Gila!" umpat Delicia kesal.
"Dari tadi aku memperhatikanmu, kau melihat tubuhku. Bukankah kau sudah selera?" Ucap Raja sambil melihat kearah tubuhnya yang putih tegap. Raja melirik kearah Delicia dan menaik turunkan alisnya bertujuan untuk menggoda Delicia.
"Ih... Sudah gila ya?" Delicia menempelkan tangannya di kening Raja.
"Ku rasa kau sakit," ucap Delicia merendahkan Raja.
Raja semakin liar, ia meletakkan tangan Delicia di dadanya. Delicia merasakan detak jantung Raja. Raja semakin mendekat pada bibir merah jambu Delicia. Raja ingin merasakan bibir itu. Delicia hampir hanyut dalam godaan pria yang sudah tentu sangat tampan.
"Kau jangan kurang ajar!" Delicia mendorong Raja hingga Raja menopang tubuhnya dengan ke dua tangan. Delicia merasa jijik, ia mengusap dengan kasar pakaian yang telah disentuh Raja. Seakan Raja itu adalah najis.
"Delicia, kau menolakku?" Nada menggoda Raja masih belum usai.
"Iya, kenapa?" Delicia semakin berani.
"Kau yakin menolak laki-laki keren seperti aku?" Raja masih belum menyerah juga. Ia terus bertanys dengan nada menggoda.
"Iya," Raja tersenyum tipis.
"Dilihat dari mana pun kau tak sebanding dengan Roni," Delicia membandingkan-bandingkan Roni dengan Raja.
"Tapi kan tubuhku bagus," ucap Raja sambil membuka baju. Raja mendekati Delicia dan mencoba untuk memeluk Delicia.
"Ihhh... lepaskan!" Delicia mengigit tangan Raja.
"Auwh!" Teriak Raja kesakitan.
Delicia melihat kearah Raja, Raja sedang kesakitan akibat gigitan Delicia. Delicia sedikit terpanah melihat tubuh Raja yang putih bersih, tegap, sixpack. Delicia menelan saliva, untung saja hal ini tidak dilihat Raja. Kalau Raja melihatnya mungkin Delicia akan terus digoda olehnya.
"Makanya hati-hati. Kau pikir mudah ya untuk mendapatkan ku?" Tanya Delicia dengan nada merendahkan. Membuat Raja seperti tidak ada harga dirinya.
"Baiklah jika hari ini kau belum siap aku akan menunggumu sampai kau benar-benar siap," ada rasa kecewa di raut wajah Raja.
"Itu tidak akan terjadi!" ucap Delicia pedas.
Raja tak frustasi walaupun ditolak olehnya. Raja hanya tersenyum misterius lalu berjalan ke dapur. Raja membuat mie kesukaannya di dapur. Ia tak ingin makan masakan Delicia yang asin akibat disengaja. Raja tak tahan bila memakannya cukup hanya untuk pagi saja Raja memakan masakan itu tapi tidak saat ini. Setelah selesai memasak, Delicia mencium wangi masakan Raja yang menggugah selera. Ia juga tergoda dengan wanginya belum rasanya.
"Kau mau?" Tanya Raja menawarkan.
"Tidak, itu pasti tidak enak," ucap Delicia meremehkan.
Raja hanya tersenyum, ia menarik tangan Delicia untuk duduk disampingnya.
"Buka mulut!" Perintah Raja.
"Tidak!" Tolak Delicia.
"Ayo buka!" Raja terus mengintimidasi. Dengan terpaksa Delicia membuka mulutnya. Raja mengambil mie dengan sendok kemudian menyuap mie tersebut ke dalam mulut Delicia. Delicia merasakan sensasi rasa nikmat dari mie tersebut. Raja melakukannya kembali, Delicia kembali terpanah melihat Raja yang penuh perhatian.