
Dilah masih menatap heran pada pria tampan disamping Fina. Siapakah pria itu? Mengapa senyumnya begitu tulus pada Fina?
"Haha, wajahmu lucu ketika penasaran, Dilah." ujar Fina tersenyum tipis.
"Cepat katakan Fina! Jangan membuatku penasaran!" Dilah mendesak Fina agar Fina menjelaskannya.
"Dia Boy suamiku," ucap Fina dengan tersenyum sumringah akan tetapi Dilah menatap wajah Fina tak percaya.
"Jangan berbohong, Fina!" seru Dilah tak percaya.
"Aku tak berbohong Dilah, dia suamiku benar-benar suamiku," Fina mencoba menjelaskan.
"Jika itu benar, kau sangat beruntung, Fina. Lihat dia begitu tampan dan jauh lebih muda darimu," Dilah memuji Boy.
Fina mendengus kesal, "Banyak orang mengira bahwa dia adikku," Fina mendadak sedih.
"Haha Fina, tak usah kau mendengarkan perkataan orang lain. Lebih baik kita masuk ke rumah ini dan mengobrol lebih banyak lagi," Dilah mempersilahkan Fina dan Boy masuk.
Karena Dilah tersenyum dan berbicara hangat membuat para pelayan tersenyum menyambut Fina dan Boy.
Pelayan membawakan makanan dan minuman untuk Fina dan Boy. Mereka memberikan dengan senyum ramah yang merekah dibibir mereka.
Boy dan Fina menatap kemewahan rumah tersebut dengan takjub. Walaupun Boy adalah orang kaya tapi rumah ini jauh lebih mewah dan besar dibandingkan miliknya.
"Kau beruntung Dilah, bisa menikah dengan penculikmu yang ternyata kaya raya,"
Dilah mendengus kesal. Fina masih saja menyebut Franz dengan sebutan penculik.
"Dia bukan penculik, dia suamiku. Lagi pula akulah yang menculiknya," ucap Dilah kesal.
Mendengar obrolan Dilah dengan seseorang. Darma menghampiri mereka dengan tujuan untuk mencari tahu siapa yang datang.
"Siapa mereka?" tanya Darma dengan nada dingin.
"Dia Fina sahabatku dan ini Boy suaminya," Fina dan Boy tersenyum dan menunduk.
"Tetaplah berhati-hati Dilah," ucap Darma tegas dan berlalu pergi.
Dilah menghela nafas lega, Fina dan Boy menatap heran pada Dilah.
"Ayah suamiku, emosinya tidak bisa ditebak,"
"Oh begitu," Fina masih tak paham tapi ia berpura-pura paham.
"Oh ya Boy, apa alasan kau mau menikahi sahabatku?" tanya Dilah yang masih dilanda bingung.
Fina dan Boy saling melihat satu sama lain dan tersenyum.
"Kami menikah karena kebetulan," Boy mencoba bercanda tapi nada suaranya terlihat canggung. Dilah yang tak merasa itu candaan menjadi tambah bingung.
"Boy, katakan sejujurnya!" ucap Fina sambil mencubit perut Boy.
"Aku sangat mencintainya, hal itu yang membuat kami bersatu di dalam pernikahan."
Dilah tersenyum melihat Boy dan Fina secara bergantian, "Kau pria baik Boy, aku ingin kau selalu menjaganya, dia sahabatku satu-satunya,"
Boy mengangguk setuju. Boy tersenyum menatap Fina dan memegang jemarinya.
"Jangan bermesraan di depanku!" Dilah menjadi jengkel.
"Dilah aku ingin balas dendam pada ayahmu. Dia pernah bilang bahwa aku gendut dan tidak akan ada satu pria pun yang mau menikah denganku," gerutu Fina kesal mengingat ayah Dilah yang pernah menghinanya waktu itu.
"Fina, kumohon kau jangan terlalu dendam pada ayahku," Dilah menahan tawa pasalnya wajah Fina yang bulat terlihat lucu ketika sedang kesal.
"Aku tak balas dendam yang aneh-aneh. Aku hanya akan pamer kemesraan di depan ayahmu," Fina masih terlihat kesal.
Franz berjalan santai untuk menemui Dilah_istrinya yang sedang mengbrol.
"Sayang, sedang bicara dengan siapa?" tanya Franz yang belum sampai ke ruang tamu, Dilah hanya mendengar suaranya saja.
"Sahabatku," ucap Dilah cepat.
Franz menunjukkan dirinya di depan Dilah, Fina, dan Boy. Franz dan Boy sama-sama terkejut.
"Boy!" Franz menunjuk Boy dengan jari telunjukknya.