
"Hei Reno, kau tidak ingin latihan?" tanya Menir dengan nada kesal.
"Hei Pak tua, Franz itu sangat lemah. Sekali pukul dia langsung pingsan," Reno meremehkan.
"Jika dia menang bagaimana?" tanya Menir yang masih kesal. Ia menatap Reno dengan tatapan kemarahan karena Reno hanya bersantai sedari tadi.
"Tidak mungkin, sudah sana menjauh dariku," Reno melambaikan tangan tanda mengusir Menir dari hadapannya.
Menir berjalan kesal meninggalkan Reno. Ia pulang ke rumahnya dengan menaiki mobil offroad.
"Jika kupikir-pikir, tidak ada ruginya aku menikahkan anakku dengan Franz. Toh, dia juga kaya bahkan lebih kaya dari Reno. Tapi ada hal yang tidak aku suka darinya yaitu ayahnya." gumam Menir sambil mengendarai mobil.
Di sisi lain Reno pergi ke suatu tempat duduk bersantai ditemani botol beralkhol dan 2 wanita cantik.
Selama beberapa hari ini, Reno tidak melakukan latihan. Ia menganggap remeh Franz yang menurutnya sangat lemah dibandingkan dirinya. Setelah bersenang-senang ia berhadapan pada meja judi.
"Reno, aku kesal denganmu. Mengapa kau selalu menang?" kesal lawan Reno di meja judi.
"Aku sangat hebat, dan akan selalu hebat Joa," ucap Reno membanggakan diri.
Reno menghambiskan waktunya di meja judi. Setelah puas menang, ia kembali ke rumah dengan wajah sumringahnya karena hari ini ia sangat bahagia.
"Reno, kau tidak latihan?" tanya Galih dengan suara menggelegar.
"Ayah, Franz adalah anak manja dia tak mungkin mengalahkanku," ucap Reno enteng menebak Franz dari sudut pandangnya.
"Kalau dia mengalahkanmu bagaimana? Ini bukan menyangkut tentang kemenangan tapi harga diri!" suara Galih masih berintonasi tinggi.
"Harga diri? Aku pastikan harga diri aku dan Ayah tidak terinjak. Aku akan mengalahkannya," ucap Reno meremehkan.
"Kau terus bicara omong kosong, bagaimana kau bisa mengalahkannya dengan bermalas-malasan seperti itu!" Galih sudah mulai habis kesabaran karena Reno tidak mau menurutinya.
"Cukup Ayah!" teriak Reno, ia berdiri mempelototi ayahnya.
"Bagaimana aku bisa tenang kalau sebentar lagi kau akan melawan anak Darma, anak Darmaaaaa... Rival abadi kita," kesal Galih setengah berteriak.
"Ayah tidak dengar apa kataku, aku akan mengalahkannya," Reno berjalan meninggalkan ayahnya. Ia ke kamarnya dan menghancurkan barang-barang.
"Kupastikan Franz kau akan kalah dengan satu pukulan," ucap Reno bersemangat. Ia memukul cermin dan tangannya terluka.
"Lihat ini Franz! Cermin saja hancur lebur setelah kupukul apalagi dirimu yang kurus kerempeng itu," ucap Reno seolah-olah ia sedang berkomunikasi dengan Franz.
Reno membalut lukanya. Ia berjalan hendak ke luar.
"Mau kemana kau Reno?" tanya Galih sambil menyesap kopinya.
"Itu bukan urusanmu," Reno masih kesal dengan ayahnya.
Apakah aku akan malu nantinya? Aku rasa Reno terlalu sombong. Galih membatin.
Reno berjalan menuju sebuah kedai kopi disana sudah ada Tito dan Rustam.
"Kenapa dengan wajahmu, mengapa terlihat kusut sekali," ledek Tito sambil tertawa semaunya.
Reno hanya diam dan melirik Tito dengan lirikan membunuh. Dengan cepat Rustam menyenggol Tito dan Tito berhenti tertawa.
"Apa yang membuatmu terlihat kesal, Reno?" tanya Rustam dengan lembut.
"Semua orang memaksaku untuk berlatih agar mengalahkan Franz. Apakah mereka melihatku seperti orang lemah?" tanya Reno jengkel.
Tito berbisik kepada Rustam, " Dia angkuh sekali Rustam, buat dia diatas angin lalu kita saksikan kekalahannya," Rustam mengangguk paham dan menuruti bisikan Tito.
"Kau hebat Reno, bahkan tanpa latihan kau dapat mengalahkan Franz. Satu pukulan mungkin Franz akan menangis di kakimu," Mendengar ucapan Rustam, Reno langsung membusungkan dadanya lantaran ia merasa paling hebat.
"Hahaha Rustam kau sejalan dengan pikiranku," tawa Reno, sepertinya kekesalan Reno telah hilang.