
"Suami kamu, sebentar ya biar Ibu panggil dia." menyeka air matanya dan tersenyum. Kemudian ia memanggil Ali (nama samaran Franz) untuk masuk ke kamar.
"Ali, istri kamu mencarimu." ujar ibu tersebut tersenyum. Ali mengangguk dan masuk ke kamar dan mengunci pintu.
"Ali, kita tinggal dimana? Aku takut bertemu ayah dan Reno." ujar Dilah merasa takut.
"Untuk sementara kita tinggal di rumah ibu Yulia." Franz tersenyum dan duduk di pinggir tempat tidur.
Yulia, itu seperti nama ibuku. Mungkin saja namanya kebetulan sama. Tapi, dia mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang tadi.
"Jadi kita akting jadi pasangan suami istri lagi?" tanya Dilah dengan suara berbisik.
"Iya begitulah, kalau tidak kita tak bisa mendapat tempat tinggal sementara." senyum Franz.
"Jangan mengambil kesempatan ya kalau jadi suami pura-puraku." ujar Dilah tersenyum menggoda.
"Iya, aku sangat menghormati wanita." ujar Franz serius.
"Kita tak mungkin tinggal di sini terus, kita akan merepotkan Bu Yulia." kata Dilah iba.
Iya juga, apa aku bawa dia ke rumahku. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Aku sangat mencintainya.
"Setelah tinggal disini untuk beberapa waktu, aku akan membawamu ke rumahku."
Terpaksa aku mengatakan itu, aku tak punya pilihan. Ayah, apa yang kau katakan benar kehidupan di dunia sungguh kejam.
"Jangan! Bukankah kau ingin membuktikan pada ayahmu bahwa kau bisa kaya dan sukses mengalahkan dia." ujar Dilah menolak.
Aku tak boleh egois, daripada aku mati dan melihatmu menikah dengan pria jahat itu, lebih baik aku berlindung pada ayahku.
"Aku tak boleh egois, sekarang keselamatan kita jauh lebih penting daripada itu." ujar Franz tak punya pilihan.
Andai jika dirimu yang dijodohkan denganku pasti aku sangat bahagia. Dilah Sanjaya
"Aku menurut saja, aku tak ingin apa yang dirasakan ibuku memiliki suami kejam aku rasakan juga."
"Semoga kau dapat pemuda yang sangat mencintaimu." ujar Franz tersenyum sambil memegang jemari Dilah.
"Iya Bu, sebentar." Franz membantu Dilah berdiri.
Mereka keluar dari kamar dan menuju meja makan sederhana.
Anakku terlihat kelelahan. Batin Yulia
"Makanlah yang banyak untuk menambah energi kalian." ujar Ibu Yulia dengan senyum penuh kasih sayang.
"Iya Bu,"
Masakannya sungguh sederhana hanya ada tempe dan tahu goreng beserta rebusan daun singkong dan sambal terasi.
"Maaf ya, Ibu hanya bisa memasak makanan seperti ini. Uang ibu tak cukup untuk membeli bahan makanan lain," ujar Ibu tersebut sedih.
"Tak apa Ibu, kami biasa makan makanan sederhana semenjak kawin lari." ujar Dilah tersenyum lembut.
Anakku tersenyum semanis itu, ya Tuhan sudah lama sekali aku tak melihat dirinya. Terakhir kali aku melihatnya adalah waktu dia masih SD kelas 6.
"Ibu, mengapa bengong melihat istri saya?" tanya Franz bingung.
Ibu Yulia bangun dari lamunannya dan mengatakan, "Ibu hanya rindu dengan anak perempuan ibu." senyumnya lembut.
"Tapi kalau dilihat-lihat ibu mirip sekali dengan ibuku, bahkan namanya sama, cuma ibu sudah menua. Sedangkan Ibuku tak setua ini." senyum Dilah menatap Yulia.
Iyalah Nak, Ibu sudah menua karena usia. Terakhir kali kita bertemu saat kamu SD kelas 6. Jelas Ibu masih agak muda waktu itu.
"Dimana Ibumu, Nak?" tanya Ibu Yulia penasaran.
"Di surga Bu, Ibuku sudah lama meninggal." Dilah menunduk sedih.
" Semoga Ibumu, tenang di alam sana." ucap Franz masih berakting menjadi suami tapi ucapan tadi adalah serius dari hatinya. Dilah mengangguk menahan air mata kesedihan.
Hei, aku belum meninggal, batin Yulia menjerit.