Only You Mine

Only You Mine
Latihan



Franz membuka bajunya, ia.hanya memakai celana olahraga. Ia memukul samsak dengan semangat.


"Lihatlah tubuhmu Franz, tak ada otot sama sekali. Ini semua karena cita-citamu yang ingin menjadi manageman bukan jadi mafia. Kau lebih suka berhadapan dengan angka-angka dibandingkan dengan alat-alat latihan ini." Darma duduk sambil memperhatikan anaknya yang sedang berlatih.


"Sudah lah ayah, jangan meremehkanku," ujar Franz sambil memukul samsak.


Nafas Franz tersengal, ia menghentikan latihannya. Ia melirik ke kiri melihat Dilah yang membawa handuk kecil dan sebotol air minum. Dilah langsung membersihkan rambut, tubuh, dan wajah Franz dari keringat.


"Ini minumannya," Dilah membuka botol minuman tersebut dan memberikannya pada Franz. Franz duduk dan meminum air tersebut.


Mereka cocok sekali, Batin Darma yang melihat Franz dan Dilah sedang mengobrol.


"Setelah lelahmu hilang, kita lanjut lagi latihannya," Darma pergi meninggalkan Dilah dan Franz.


"Kau capek?" tanya Dilah menatap Franz lekat.


"Sedikit," ucap Franz tersenyum manis.


"Kau harus menang Franz, aku tak ingin menikah dengan Reno," Dilah memancarkan wajah sedih yang membuat Franz tak tega melihatnya.


"Aku pasti menang, dan harus menang. Aku tidak rela kau bersamanya." Dilah menyandarkan kepalanya di bahu Franz.


"Ehem," dehem Laura yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


"Menganggu saja kau," ucap Franz kesal melihat adiknya tiba-tiba muncul.


"Setelah aku memikirkannya, kakak cocok sekali dengannya," ucap Laura tersenyum manis.


"Aku tahu kau pasti ada maunya, cepat katakan!" Franz menaikkan intonasinya.


"Kak aku tak meminta apapun, tapi ada sih Kak. Kak, restui ya aku pacaran sama Danial


Kak," ucap Laura memohon pada kakaknya.


"Kak jahat!" Laura menghentakkan kakinya dan pergi entah kemana.


"Kenapa dia minta izin denganmu?" tanya Dilah heran.


"Peraturan di rumahku dan penduduk desa, kalau adik ingin menjalin kasih atau pacaran harus izin dengan anak pertama," ucap Franz tersenyum tipis.


"Itu sepertinya tidak adil," ucap Dilah protes.


"Ya mau bagaimana lagi itu tradisi," Franz berdiri untuk melanjutkan latihannya. Sedangkan Dilah memantau latihan Franz


Darma tiba-tiba datang ke tempat latihan anaknya. Sambil membawa ramuan sesuatu.


"Minumlah ramuan ini!" Darma memberikan sebotol ramuan.


"Apa ini Ayah?" tanya Franz sambil mengamati sebotol ramuan yang tak pernah dilihatnya.


"Ini ramuan menambah masa otot dan stamina. Ini terbuat dari rempah-rempah dan telur ayam kampung. Minumlah agar kau tambah kuat,"


Franz melihat jijik pada minuman tersebut. Pasti rasanya tidak enak seperti tampilannya. Franz melihat Dilah yang masih duduk melihatnya. Franz menunjuk botol tersebut dan bertanya melalui isyarat dari tangan, wajah dan tubuhnya. Dilah menangguk sambil melihat Franz. Karena Dilah menangguk setuju. Franz membuka botol ramuan tersebut.


"Tunggu apa lagi minumlah!" seru Darma.


Franz memalingkan wajahnya. Karena baunya aneh. Ia menutup hidungnya dan meminum ramuan tersebut. Kemudian ia menggelengkan kepala dan menjulurkan lidahnya karena rasanya tidak enak. Melihat ekspresi Franz Dilah tertawa lepas.


"Kau!" ucap Franz kesal. Dilah masih tertawa dan tak mempedulikan Franz yang begitu kesal.


"Akan kutanggap dirimu!" ancam Franz yang membuat Dilah segera melarikan diri.


Franz tersenyum menyeringai karena tak ada jalan keluar untuk Dilah berlari.


Hup, Franz menangkap Dilah dan memeluknya erat.