
"Raja ingin secepatnya tapi Delicia menundanya," ujar Raja berkilah.
"Apa katamu? Aku bahkan tidak mengenalmu!" ucap Delicia kesal.
"Delicia, jaga sikapmu!" ucap Franz murka.
"Oh Ya, Raja aku ingin kau menikahi putriku secepatnya," ucap Franz selanjutnya.
"Secepatnya? Baik, Tuan." ucap Raja yakin.
"Papa, dia bukan kekasihku, aku tidak mengenalnya," Delicia mencoba menjelaskan kepada ayahnya mengenai kesalahpahaman tersebut.
"Papa tidak percaya padamu, sudah berapa lama kau menjalin hubungan asmara dengannya. Sudah berapa lama kau menabung dosa? Kau tahu kan pacaran itu dosa?"
Delicia hanya bisa diam, ia tidak bisa berkata-kata lagi. Satu kesalahan, membuat dirinya tidak dipercaya ayahnya.
"Hem.. Tuan Franz, bagaimana jika pernikahannya minggu depan? Aku sangat ingin Raja segera menikah," usul Nick dan langsung diterima oleh Franz.
Setelah semua masalah di selesaikan, kini Franz sudah lega tapi amarahnya pada putrinya belum semuanya hilang. Setelah selesai membahas beberapa hal, Franz beserta keluarga memutuskan pulang ke rumah.
"Kau boleh masuk ke kamar!" perintah Franz dan diterima anggukan dari Delicia.
Delicia mencoba menghubungi Roni. Roni belum juga mengangkat telepon dari Delicia. Delicia masih berusaha menelepon Roni, akhirnya Roni mengangkat telepon darinya.
"Akhirnya, kau mengangkat teleponku juga Ron," ucap Delicia kesal.
"Ada apa Sayangku?" ucap Roni manja.
"Sayang, Tolong aku!" Delicia menangis sesegukan.
"Iya kenapa?" Roni terdengar biasa walaupun suara Delicia terdengar dramatis.
"Ron! Aku akan menikah minggu depan. Ron, selamatkan aku dari pernikahan ini," ujar Delicia dramatis.
"Kau mau menikah? Bagus kalau begitu," Roni mulai menunjukkan sikap aslinya.
"Kok bagus? Roni jangan bilang kau tidak mencintaiku?" Delicia makin bertambah sedih.
"Aku tidak pernah mencintaimu, Delicia. Selamat atas pernikahanmu yang sebenar lagi. Jangan lupa kirim surat undangannya kepadaku, aku akan senang hati untuk datang," Roni tersenyum senang.
"Tidak apa kau membenciku Delicia, aku tidak pernah mencintaimu aku sudah bosan menjalin hubungan denganmu. Kau tidak mau memenuhi hasratku. Selamat tinggal Delicia, kita putus." ucap Roni memutuskan sambungan telepon.
Benar apa kata Farhan, Roni itu brengsek!
Tapi aku juga tidak mau menikah dengan siapa itu? Raja? Namanya saja sudah membuatku ngeri. Apakah dia seperti Raja di sebuah kerajaan yang akan memerintah seenaknya?
Delicia membatin, hatinya begitu hancur. Baru saja kekasihnya memutuskan hubungan dengannya. Belum lagi ia mendapatkan ujian kesalahpahaman.
"Kak Cia!" teriak Farhan sambil mengetuk pintu.
"Apa?" Delicia membuka pintu dan menyeka air matanya.
"Kakak tidak mau berterima kasih padaku," Farhan tersenyum jahil.
Berterima kasih untuk apa? dia bahkan ikut andil membuatku segera menikah.
"Berterima kasih untuk apa?" tanya Delicia kesal dan meninggikan ucapannya.
"Berterima kasih, berkat aku Kakak akan menikah dengan pria tampan dan kaya,"
Delicia mendengus kesal, ia menjewer telinga Farhan adiknya.
"Han kau!"
Delicia pun mengomel yang membuat Farhan sakit kepala.
***
"Raja, ibu ingin kau jujur pada ibu," ucap Irene yang sudah menerka bahwa Raja telah berbohong tadi.
"Ibu Raja jujur, Delicia bukan kekasih Raja. Tapi, Raja benar-benar mencintai dia Bu, Raja sudah 4 tahun memendam rasa ini," jelas Raja, Raja sudah menjawab pertanyaan yang ingin ditanya ibunya.
"Tapi, dia terlihat tidak senang ketika kau ingin menikahinya,"
"Raja janji Bu, akan buat dia bahagia. Raja akan berusaha untuk membuatnya jatuh cinta padaku."
"Semoga kau bahagia ya Nak. Ibu mendukung semua niat baikmu,"