Only You Mine

Only You Mine
Belum Merestui



"Ehem," tiba-tiba Darma datang dengan raut wajah datar. "Aku belum merestui kalian, sebelum ayahnya Dilah merestui kalian," Darma melirik Dilah dan Franz secara bergantian.


"Ayah, tak mungkin ayahnya Dilah merestui kami," Franz memelas lesu. Ia meremas tangannya.


"Jika Menir tak mungkin merestui kalian berdua, berarti tidak mungkin juga ada pernikahan untuk kalian berdua," ucap Darma dengan suara meninggi.


"Ayah, tolong bantu aku, aku sangat mencintai Dilah, ayah." ucap Franz memelas lesu.


"Baik," Darma mengangguk yakin.


"Terima kasih, Ayah." Franz langsung memeluk ayahnya dengan perasaan hati yang bahagia.


"Dilah, bisakah aku meminta nomor ayahmu?" Darma memberikan ponselnya. Dilah mengetik di setiap angka pada nomor ayahnya kemudian ia simpan di ponsel Darma.


"Baik, aku akan menelepon Menir," ucap Darma yakin.


"Ayah ingin mengembalikan Dilah pada ayahnya?" Franz langsung mendekati Dilah dan memeluknya.


"Tidak," jawab Darma cepat. Kemudian ia menelepon Menir.


"Halo, Menir." Ucap Darma dengan suara tinggi.


"Darma? Untuk apa kau meneleponku, hah?" Menir juga mengeluarkan nada tinggi.


"Anakmu sekarang berada di genggamanku, hahaha." gelak tawa Darma membuat jantung Menir berdetak kencang.


"Aku tak percaya, kau berbohong kepadaku," Menir tak mungkin cepat percaya pada musuh sendiri.


"Baik jika kau tidak percaya. Dilah kemari, Nak!" Darma memberikan ponsel miliknya kepada putri Menir.


"Halo Ayah," suara lembut Dilah menggetarkan hati Menir.


"Kau tak apa-apa Nak?" Dilah ingin menjawab, tapi ponsel tersebut di rampas Darma.


"Sudah cukup, sudah dengar suara lembut putri kesayanganmu," Darma tertawa iblis, membuat Menir menciut. Ia tak boleh salah berkata. Jika dia salah, mungkin putri kesayangannya akan mati ditangan Darma.


"Apa yang kau inginkan hah?" Menir ternyata masih punya nyali untuk membentak Darma.


***


"Reno, aku tahu dimana putriku," Menir menjumpai Reno di markas Reno.


"Dimana dia?" Reno sudah tidak sabaran ingin bertemu calon istrinya.


"Di rumah Darma," jawab Menir cepat.


Reno sepertinya menciut mendengar kata Darma. Darma juga merupakan rival abadi Galih Pujianto ayah dari Reno Pujianto. Darma sangat ditakuti dan disegani oleh sebab itu Reno menciut setelah tahu kalau dirinya akan berurusan dengan Darma.


"Kau takut, Reno?" pertanyaan Menir seperti menjatuhkan harga dirinya.


"Tidak," bentaknya kepada Menir.


"Ayo kita ke rumah Darma, ingin sekali aku membunuhnya," ucap Reno menyeringai.


Reno dan Menir beserta anak buah yang lain bersiap-siap untuk berangkat. Mereka langsung menuju kediaman Darma. Setelah mencapai perkampungan. Para penduduk desa terkejut melihat Reno dan Menir datang ke kampung tersebut.


"Mafia Menir dan Mafia Reno datang. Mungkin akan mereka akan berperang dengan mafia Darma," teriak salah satu penduduk desa. Mendengar teriakan tersebut, penduduk desa mengunci pintu rapat-rapat dan tak ada satu orang pun berkeliaran.


"Darma keluar kau!" ucap Reno sambil memegang pedang ditangannya.


Darma keluar dengan raut wajah santai. Seperti tidak ada beban sama sekali.


"Mana calon istriku?" tanya Reno dengan suara berapi-api.


"Dia di dalam," ucap Darma santai.


"Suruh dia keluar!" perintah Reno dengan marah.


Darma memerintahkan pengawalnya untuk memanggil Dilah dan Franz. Dilah dan Franz di kawal ketat saat sudah berada diluar.


"Kembalikan putriku!" bentak Menir.


"Eits tidak semudah itu," Darma menyeringai.