
Jam sudah larut malam, mereka masih belum bisa tidur. Hati mereka benar-benar was-was.
"Ali!" panggil Dilah dengan raut wajah khawatir.
"Apa Nona?" ucap Franz pelan agar tak terdengar oleh ibu Yulia kebohongan mereka.
"Besok kita harus pergi dari sini," ujar Dilah masih khawatir.
"Kenapa?" Ali mengernyitkan dahi pertanda bingung.
"Aku takut Ibu Yulia dapat masalah karena kita. Ayahku pasti melakukan penyelidikan. Bisa saja mereka tahu keberadaan kita disini dan membunuh Ibu Yulia karena telah menyembunyikan kita." ujar Dilah, ia meremas tangannya begitu khawatir tentang keadaan Ibu Yulia.
"Iya, besok kita harus pergi dari sini. Kita akan mendapatkan perlindungan dari ayahku." ujar Franz pasrah.
Berarti besok adalah waktunya kau mengetahui siapa aku sebenarnya. Franz
"Ya sudah, ayo tidur!" ajak Dilah untuk tidur.
"Bersamamu, di tempat tidur ini?" goda Franz sambil menaikkan alisnya.
"Ya bukanlah, kau tidur di bawah. Kalau kau suamiku baru kita tidur bersama." ucap Dilah menahan tawa.
"Baiklah, aku akan sabar menunggu kapan itu terjadi," ujar Franz menggoda.
Dilah menyikut Franz karena kesal. "Jangan coba merayuku, atau kau akan jadi almarhum Ali." ucap Dilah dengan nada sedikit menakutkan.
"Baik Nona," tersenyum terpaksa dan memegang perut akibat disikut.
"Tidurlah di bawah itu." ucap Dilah menunjuk dengan ekor matanya.
Dilah terlelap tidur dan bermimpi buruk.
"Dapat kau," ujar Reno di dalam mimpinya.
"Reno, lepaskan aku. Kumohon! Aku tak mau menikah denganmu." ujar Dilah sambil meronta-ronta agar dilepas dari dekapan Reno.
"Hahaha, kau milikku sekarang!" ujar Reno bangga.
"Tidaakkk! Tolong aku!" teriak Dilah dalam mimpi. Mimpinya seolah nyata. Iya meronta-ronta di tempat tidur, akhirnya ia jatuh dari tempat tidur dan menimpa Franz yang tidur di bawah.
Ibu Yulia panik, ia takut terjadi apa-apa pada Dilah dan Ali (nama samaran Franz) dengan cepat ia membuka pintu kamar yang kebetulan tak di kunci.
"Astaga!" Ibu Yulia menutup mata dengan satu tangan karena posisinya Dilah diatas Franz.
"Maaf, Ibu tak segaja melihat kalian melakukannya," ujar Ibu Yulia malu-malu dan secepatnya keluar dari tempat tidur.
Dilah masih bengong dan berusaha mencerna ucapan Ibu Yulia tadi.
"Nona, cepat menyingkir dari tubuhku. Ini sungguh berat sekali." ujar Franz kesal.
"Hei, aku tidak gemuk ya," kesal Dilah dan memukul dada Franz.
"Aduh," pekik Franz kesakitan.
Suara apa itu? Ibu Yulia yang berada di ruang keluarga merasakan aneh dan tersenyum sendiri.
Mereka kan sudah menikah, aku menganggu saja. Kupikir tadi terjadi sesuatu pada mereka. Ibu Yulia
Franz mengatur nafasnya. "Apakah kita melakukan itu?" tanya Franz yang sudah berdiri sedangkan Dilah duduk di pinggir tempat tidur.
"Tidak, kita tak melakukannya," ujar Dilah menyangkalnya dan memang mereka tak melakukan apapun.
"Selamat!" ujar Franz tenang.
"Kau pikir aku wanita apa yang mencoba menyentuhmu." ucap Dilah kesal dan berbarik membelakangi Franz.
"Mana tahu, wanita zaman sekarang kan bisa saja menyentuh laki-laki duluan." mendengar ucapan Franz, Dilah berbalik dan menginjak kaki Franz.
"Aduh, itu sakit sekali." pekik Franz memegangi kakinya.
"Jangan sembarangan bicara!" ancam Dilah tapi dengan suara pelan agar ibu Yulia tak mendengar ucapannya.
"Iya maaf, tapi jangan tidur seperti tadi kumohon!" ucap Franz menggabungkan kedua telapak tangannya sambil merebahkan tubuhnya dilantai.
"Maaf soal itu," Dilah juga ikut merebahkan tubuhnya tapi ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur.