
Semua berlalu begitu cepat, hadirnya cinta di antara Adam dan Naifa semakin membuat keduanya terlihat lebih romantis. Apalagi, setelah waktu itu, Adam dan Naifa kembali menempati rumah lama mereka, dengan Eisha tentunya.
Hidup kembali menjadi keluarga yang manis, makan dalam satu wadah yang sama, minum pun dalam gelas yang sama. Selalu meluangkan waktu untuk bersama dan selalu menciptakan kebahagiaan di antara Naifa dan Eisha.
Kini, penantian Naifa saat menanti sang suami menebus dosa benar-benar berbuah manis. Sangat manis, apalagi saat ada kabar bahagia yang ia dapat dua bulan kemudian. Naifa kembali di kasih kepercayaan untuk memiliki amanah.
kebahagiaan Naifa dan Adam semakin lengkap, Eisha pun juga sangat bahagia. Gadis cilik itu kegirangan dan melompat-lompat di kasur saat sang Ibu memberitahu kalau dirinya akan memiliki adik.
"Yeyyyy, yeeyyyyy ... Eish akan punya adik. Alhamdulillah, Ya Allaah, terimakasih," begitu ucap Eisha dengan bahagia nya.
Naifa dan Adam yang berada di sana turut bahagia bahkan tertawa, melihat kebahagiaan sang putri pertama mereka. Adam merangkul sang istri yang berdiri di sebelahnya.
"Sayang, jangan berlebihan Nak. Itu tidak baik," ucap Naifa pada sang putri yang masih lompat-lompat bahagia.
Eisha lantas berhenti dan turun dari kasur nya, berlari menuju sang Ibu. "Apa, di sini ada adik Eisha Bu?!" tanyanya penasaran.
Naifa mengangguk, "iya, ada. In Syaa Allah. Kakak Eisha harus ber'doa, agar adik bayi sama ibu sehat selalu, bisa bertemu sama adik nanti, kalau sudah waktunya." ujar Naifa.
"Iya, nanti Eish mau ber-do'a. Mau kasih tahu Nenek juga!" seru gadis kecil yang masih mengusap perut ibunya itu.
"Oh, iya. Ayo! Kalau gitu, kita kasih tahu Nenek!" ajak Adam. "Bentar, Ayah ambil ponsel dulu ya," ucap Adam sembari berlalu dari dua perempuan kesayangannya itu.
Eisha menggelengkan kepalanya, "Ayah ... Ayah."
...***...
Kebahagiaan menyebar ke seluruh keluarga, dari Ayah Hendra dan Ibu Nuri. Sampai Ibu Muni, Rara dan Sasha. Semua sangat bahagia dengan kabar baik ini.
Di kehamilan ini, Adam sangat menjaga Naifa. Semua keinginannya terpenuhi, dari minta makan malam romantis seperti waktu itu, sampai seminggu sekali makan malam di Cafe Alsaeida. Adam tidak lagi cemburu atau merasa aneh apalagi tidak enak. Semua rasa cinta nya pada Naifa, membuat nya begitu percaya kalau istrinya tidak mungkin macam-macam.
Adam tidak ingin membuang dengan sia-sia kesempatan itu, kesempatan menemani kehamilan sang istri. Ia begitu menyayangi Naifa, sampai untuk masak saja Naifa tidak lagi di bolehkan. Naifa hanya boleh senang. Bahkan Eisha pun dirinya yang menjaga, dari bangun tidur, sarapan, sampai tidur lagi. Adam bahkan sampai rela ke Kantor hanya sekilas-sekilas saja, saat benar-benar penting.
Semua masih di handle oleh sang Ayah. Ayah Hendra pun membiarkan sang putra melayani Naifa, menantunya. Karena Ayah tahu bagaimana perasaan Adam saat mengingat Naifa yang hamil pertama tanpa adanya Adam di sisi menantunya itu.
Acara empat bulanan lancar, acara tujuh bulanan pun lancar. Semua larut dalam kebahagiaan.
Hingga sampailah di mana, Naifa melahirkan. Yang hanya ditemani Adam saja. Karena yang lain tidak di bolehkan masuk, hanya satu orang yang menemani.
Melihat perjuangan Naifa, Adam menangis. Ia mencium tangan, perut sampai wajah Naifa. Bahkan bolak-balik minta maaf, karena saat-saat sakit di kelahiran putri pertama mereka, dia tidak ada di sisi Istrinya.
Sedih dan ikut merasakan sakitnya, apalagi walaupun kini ke dua kalinya, nyatanya setelah pembukaan lima, masih terap menunggu lama. Namun Adam tetap ada di sisi Naifa, sampai waktunya tiba.
Naifa yang merasakan sakit bisa diam, namun Adam yang menemani malah justru tidak bisa diam. Ia bolak-balik ke sisi kanan dan kiri Naifa, bolak-balik menanyakan ia harus apa, sampai Naifa kesal dan menyuruh Adam diam, begitu juga perawat dan dokter yang membantu Naifa.
Hingga akhirnya, rasa sakit yang Naifa rasakan hilang setelah terdengar tangisan bayi mungil yang baru saja keluar. Tangisan nya nyaring menggema di seluruh ruangan. Naifa dan Adam saling menatap dan tersenyum dengan air mata yang sama-sama menetes.
"Terimakasih, Nai," ucap Adam sembari mencium kening Naifa dengan sangat lama.
Naifa hanya memejamkan mata dan mengangguk.
"Selamat, Pak, Bu. Putera kalian tampan dan sehat," ujar Bu Dokter.
...***...
Dengan air mata yang mengalir, Adam mengadzani putra keduanya itu di telinga kanan, lantas iqomah di telinga kiri. Rasanya ia begitu bahagia, apalagi saat bayi mungil yang lahir dengan berat 2800 gram itu diam saja, mendengarkan suara Adzan sang ayah.
Semua sudah berkumpul di ruangan Naifa. Kini, Naifa sudah di pindahkan dari ruangan bersalin ke ruang perawatan.
"Ganteng nya, cucu Nenek. Nama mu siapa, Sayang?!" Ibu Nuri langsung mengambil cucu keduanya dari tangan Adam begitu selesai di Adzani.
Adam tersenyum, "namanya Ersya, artinya, anak yang bersemangat dan cerdas," ujar Adam. "Ersya Putra Adam." sambung Adam.
"Ih, namanya bagus, kayak Eish."ujar Eisha senang.
"Iya, dong. Adik siapa dulu," ucap Sasha yang kini sudah di sana. Sedangkan Rara belum tiba karena tengah ada banyak tugas.
Ibu Muni mendekat ke arah Ibu Nuri, besannya. "Masyaa Allaah, tampan sekali Dedek Ersya," ucap Ibu Muni mengagumi cucu kedua nya.
"Mau lihat, mau lihaaat!" Ujar Eisha yang lantas lari dari pangkuan Tante Sasha menuju dua Neneknya yang berdiri di sebelah ranjang ibunya.
Adam langsung menggendong Eisha dan mendekatkan ke arah Bayi Ersya di gendong.
Naifa tersenyum melihat semua orang yang kini ada di sana. Hanya kurang Rara dan Ayah Hendra yang masih bekerja. Namun sudah memberikan selamat padanya lewat telpon.
...***...
"Terimakasih, untuk perjuanganmu, Nai. Semoga, tangan kita selalu saling menggenggam seperti ini, sampai waktunya untuk kita kembali pada 'Nya." ujar Adam yang lantas menggenggam tangan Naifa yang tengah memberi sumber makanan pada bayi Ersya.
Naifa tersenyum. "Aamiin, Ya Allaah. Semoga, doa baik suamiku ini di kabulkan oleh Allaah," ucap Naifa.
Malam ini, Naifa tengah duduk dengan me ny u s u i bayi Ersya, sedangkan yang lain tengah menunggu di luar.
Satu tangan Adam yang lain mengusap pelan pipi putranya yang bergerak karena mulut yang tengah bekerja menyerap sumber makanannya.
Adam lantas mencium puncak kepala sang istri yang tengah menunduk menatap Ersya yang tengah semangat. Naifa memejamkan mata, saat sang suami mencium kepalanya.
...***...
Akhirnya kini Adam dan Naifa sudah bahagia dengan kehidupan baru mereka selepas hari-hari yang menyedihkan karena perpisahan.
Seperti air yang mengalir, begitu pun kehidupan. Naifa tidak pernah melawan arus, ia terus saja mengikuti bagaimana jalan air (kehidupannya). Ke mana jalan air itu, sampai menemukan muaranya. Muara kebahagiaan.
Ia tetap ikuti dengan hati yang selalu mencoba untuk sabar dan ikhlas. Dan kini, ia sudah bahagia dengan suaminya. Selain mendapat cinta dari Suaminya, ia juga kini telah mendapatkan segalanya.
Bahkan kini, ia sudah mendapatkan Putri dan Putra. Yang kelak bisa membawa keduanya menjadi lebih bangga, karena memiliki anak-anak hebat seperti mereka.
...***...
Cinta memang tidak bisa di paksa, namun saat hati ikhlas menerima. Maka, kita akan menemukan cinta. -Adam &Naifa-
...--TAMAT--...