
Ayah Hendra menarik nafas kasar. Rasanya ia ingin sekali memukul putranya sendiri. Kebodohan apa yang Adam lakukan?! Sampai seperti ini?!
"Aku, nggak lagi bercanda Yah." Ujar Adam yang tak berani melihat wajah orangtuanya. Padahal sebelum ini, ia bebas membentak, meneriaki ayah dan ibunya. Tapi, kini, ia bahkan tak mampu melihat wajah orangtuanya yang pasti sangat-sangat kecewa padanya.
Ayah menarik napas kasar, "siapa perempuan itu?!"
"Jangan bilang teman yang selalu kamu datangi?!" Sambung Ayah. Adam mengangguk sebagai jawaban.
Jangan tanyakan bagaimana sekarang Ibu Nuri. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dengan berurai air mata. Ia tak mampu menghalau keluarnya air bening dari matanya itu. Hatinya merasa sakit, sang putra seperti itu.
"Dam! Apa yang kamu pikirkan hah!!!" Ayah tak bisa menahan emosi nya. Ia berdiri dari duduknya menunjuk Adam dengan telunjuknya kesal.
"Kamu, tahu siapa dia?!" Ayah masih di penuhi amarah.
Adam mendongak menatap wajah marah sang Ayah. Sedangkan Ibu Nuri hanya mampu menarik tangan suaminya agar duduk kembali. Tidak baik untuk suaminya kalau marah-marah seperti ini.
Naifa bahkan terkejut dan mengusap dadanya takut. Baru kali ini ia melihat marahnya sang Ayah mertua. Selama ini, Naifa hanya melihat sosok Ayah Hendra yang begitu penyayang.
Ayah akhirnya duduk kembali dengan emosi yang masih terasa di ubun-ubun, ia memijit kepalanya yang terasa sakit. Menunduk dan mengatakan, "bagaimana bisa kamu me ng ha mi li, kakakmu sendiri Dam?!"
Kalimat yang Ayah ucapkan sukses membuat Ibu, Adam dan Naifa membesarkan kelopak mata mereka menatap bingung pada Ayah Hendra yang kini tengah menunduk.
"Apa, maksud mu Yah?!" Ibu Nuri menggeser duduknya mendekat ke sang suami.
"Maksudnya, Kakak, bagaimana Yah?!" Naifa pun penasaran.
Ayah menatap wajah sedih istrinya, "dialah anak yang selalu kamu cari, Bu. Dialah Firda-mu. Dia yang menyeret anak kita ke tempat si al an dan dia datang untuk membuatmu menangis. Dan si al nya Ayah baru mendapatkan informasi ini tadi sore Bu. Anak buah Ayah baru dapat informasi itu hari ini." Jelas Ayah Hendra.
"A-apa?! Kenapa bisa Yah?! Kenapa Firda-ku jadi seperti itu Yah?!" Ucap Ibu Nuri serupa dengan gumaman yang tak terdengar. Air mata nya meleleh begitu saja. Semakin deras kala mengingat bahwa selama ini berarti anaknya tahu keberadaan dirinya, tapi, malah tak menemuinya. Tapi, justru membawa adiknya terjerumus ke lembah hitam.
"Yah, Bu. Maksudnya apa?! Kakak?! Apa bu?!" Adam yang bingung dengan orangtuanya katakan hanya bisa penasaran.
Sedangkan Naifa yang duduk di sampingnya hanya bisa mengusap lengan suaminya agar tenang. Dan sabar menunggu penjelasan dari orangtuanya.
Yang akhirnya, dengan terbata-bata, Ibu Nuri mejelaskan bagiamana kehidupannya dulu sebelum bertemu dengan Ayah Hendra dan belum memiliki Adam.
Adam mendengarkan dengan seksama, bahkan ia tak kuasa menahan air mata saat ibunya menceritakan bagaimana kehidupan nya dulu. Bahkan sampai membuat Adam beranjak dari duduknya dan berlutut di hadapan sang ibu dan lantas memeluknya. Adam tak tahu kalau ternyata ibunya dulu se-menderita itu.
Dan, bahkan ia malah menambah penderitaan ibunya dengan masuk ke lembah hitam kehidupan.
Dan kini, apa?! Adam menambah parah rasa sakit yang ibunya rasakan. Dengan memberi kabar kalau kakak nya hamil oleh dirinya. Bagaimana bisa?!
Naifa hanya mampu menggelengkan kepalanya lemah. Sudah cukup untuk tahu kalau Suaminya me ng ha mi li perempuan lain, lalu apa sekarang?! Perempuan yang suami nya ha mi li adalah kakak dari satu ibu dengan suaminya.
Naifa tak kuat mencerna apa yang sedang di ceritakan. Kepalanya mendadak pusing. Matanya berkaca-kaca dan sedikit demi sedikit pandangannya mulai kabur. Lalu ....
"Naifa!!!" Teriak Ayah yang melihat Naifa jatuh miring tak sadarkan diri.
Adam lantas berdiri dan mendekati Naifa dengan perasaan khawatir, "Nai, kamu kenapa, Nai?" Ujarnya mengusap pelan pipi Naifa. Lalu membenarkan posisi badan Naifa.
"Ya, Allah. Kamu kenapa Nai?!" Ibu Nuri mendekat. "Bi, Siti! Tolong minyak kayu putih!" Teriak nya pada Bi Siti yang entah di mana.
Sedih, khawatir bercampur menjadi satu.
"Ini, bu. Kenapa Non Nai, Bu?!" Bi Siti datang dengan sebotol minyak kayu putih. Bi Siti terlihat khawatir melihat Nona mudanya pingsan.
Tak ada yang menjawab, semua nya khawatir melihat Naifa masih memejamkan mata. Lalu Adam menggosokkan minyak kayu putih itu di telapak tangan dan sedikit mengolesinya di hidung Naifa.
"Nai, bangun, Nai." Ujar Adam.
"Apa, perlu kita panggil dokter saja Yah?!" Adam menoleh ke arah sang Ayah.
"Kayaknya dia kelelahan, stres, banyak pikiran. Biarkan dia sadar dan beri istirahat. Kita bicarakan yang tadi lagi besok." Ayah pergi dari sana. Bukan tak perduli pada Naifa. Justru Ayah merasa kasihan sekali pada menantunya itu. Harus menghadapi kesakitan yang seperti ini. Ayah yakin, kalau hati Naifa pasti begitu sangat sakit. Lebih sakit dari di bentak Adam.
Ibu Nuri masih di sana, ia mengusap pelan kepala menantunya itu. Rasanya ia lebih kasihan pada Naifa sekarang. Menantu kesayangan nya itu harus seperti ini karena ia paksa untuk masuk ke kehidupan Adam.
"Bu, saya buatkan teh hangat ya ... Untuk Non nanti kalau sudah sadar." Ujar Bi Siti yang di balas anggukan kepala oleh Ibu Nuri.
"Nai?!" Panggil Adam lagi. Ia begitu khawatir pada Istrinya yang masih memejamkan mata.
Sesalnya begitu banyak, rasa salahnya begitu terasa seperti sudah menggunung pada istri kecil nya itu. Gadis yang di besarkan penuh cinta oleh orang tuanya kini ia buat menderita. Tersiksa batin nya. Adam rasa permohonan maaf saja tidak cukup untuk menebus kesalahannya pada istri yang setia menerima apa adanya dirinya. Yang semuanya adalah keburukan.
Perlahan kelopak mata Naifa mengerjap pelan. Lalu Naifa mendesis merasakan pusing di kepalanya.
"Kamu, sudah sadar Nai?!" Ujar Ibu Nuri.
"Nai," panggil Adam.
"Nai, kenapa, Bang?!" Tanyanya bingung.
"Tidak papa, Nak, tadi kamu pingsan," jelas Ibu Nuri.
"Ya, Allah ... tadi Nai merasa sangat pusing." Tutur Naifa.
"Ya, sudah. Sekarang bawa Naifa ke kamar Dam. Biar Naifa bisa istirahat. Kasian, dia pasti lelah. Lelah segalanya." Ujar Ibu Nuri.
Naifa mencoba untuk duduk. Di bantu oleh Adam.
"Maafin, aku ya Nai ...," ucap Adam begitu Naifa duduk.
"Kenapa, minta maaf Bang. Justru Nai lah yang harusnya minta maaf. Gara-gara Nai pingsan, semuanya jadi belum dapat solusi atas masalah ini."
Ibu Nuri mengusap kepala menantunya itu, "tidak apa-apa, Nai. Kita bicarakan lagi besok. Sekarang, kamu istirahat ya ...," ucap Ibu Nuri.
Naifa mengangguk dan setelahnya Adam mengajak Naifa untuk beristirahat di kamar.
Ibu Nuri melihat anak dan menantunya pergi dengan sendu.
"Ibu, ini gimana, teh hangatnya." Ujar Bi Siti yang baru datang lagi.
"Antar ke atas saja, Bi." Ujar Ibu Nuri yang lantas meninggalkan bi Siti di tempatnya.
...