Naifa

Naifa
Bab 37



Mobil terparkir di depan rumah kontrakan Vela. Rumah yang tak besar itu terlihat kotor. Bahkan rumput liar di halaman begitu panjang-panjang. Adam lantas turun, begitu juga dengan Ayah Hendra. Keduanya langsung saja berjalan menuju pintu dan Ayah segera mengetuknya.


"Kenapa harus di ketuk, Yah?! Dobrak saja." Ujar Adam kesal.


"Bertamu itu juga adab nya Adam!" Kesal Ayah Hendra.


Adam mengembuskan nafas kesal, bicara pada Ayahnya seperti bicara pada isteri nya.


Lama Ayah Hendra mengetuk pintu di barengi dengan salam. Namun tak ada jawaban dari dalam.


"Kayaknya, Adam tahu di mana dia?!" Ujar Adam pada Ayahnya.


"Di mana?!"


***


Di rooftop dua manusia tengah duduk dengan santainya. Menghisap nikotin dan mengembuskan asapnya ke udara. Botol-botol yang berisi minuman beralkohol berdiri berantakan di atas meja. Pemiliknya tengah menikmati kehidupan mereka tanpa beban yang berarti.


"Gue yakin banget, Adam akan kembali ke sini, setelah semua orang kecewa padanya dan memarahinya." Ujar Vela.


Agra hanya tersenyum smirk, ia tak menjawab apapun. Hanya memperhatikan Vela yang kini duduk dengan menyilang kaki di sebelahnya.


"Dia itu to lol. Jadi gampang buat di ki bul lin." Sambung Vela.


"Gue nggak percaya, Istrinya begitu percaya. Bahkan minta maaf atas kelakuan suaminya, hahaha. Istri bo doh!!" Vela masih menyuarakan perasaan bahagia nya.


"Gue masih nggak ngerti ada perempuan se bo doh itu." Vela mengisi gelas lagi dengan air dari botol yang ada di atas meja.


"Sudah cukup, be go! Lo mau bunuh anak gue?!" Teriak Agra dengan kesalnya. Ia tak suka pada kelakuan Vela yang bisa menghancurkan bayi yang ia inginkan.


"Lo kenapa sih?! Pengin banget ni anak hidup. Gue aja ogah. Males tahu nggak pagi-pagi harus muntah gara-gara anak si al an Lo!" Vela menjawab dengan sinis.


Ya, nyatanya bayi yang di kandung Vela adalah bayi Agra. Karena nyatanya ia tak melakukan apapun pada Adam. Ia hanya mengerjainya saja untuk ini. Untuk menciptakan masalah ini.


Bug!!!!


"B r e n g s e k lo!" Pukulan keras mendarat wajah tampan milik Agra. Membuatnya terjungkal dari sofa ke samping menimpa Vela. Membuat Agra dan Vela yang tertindih Agra kaget dan kesakitan pada pukulan yang di lakukan Adam secara tiba-tiba.


Adam merasa kesal begitu mendengar percakapan keduanya. Tadi ia mengajak sang Ayah untuk ke rooftop. Ia yakin kalau Vela ada di sana. Tapi tak ia sangka kalau kedatangannya ke sana justru dapat mendengar percakapan kebenaran dari kedua be de bah si al an.


"Cukup, Dam!! Kita ke sini untuk bicara, bukan untuk membunuh orang." Ujar Ayah Hendra, menarik tubuh Adam yang akan kembali memukul Agra.


"Adam." Ujar Vela. Ia lantas berdiri dari duduknya.


"Lo!" Agra kesal ia lantas berdiri dan membalas pukulan Adam.


"S i a l ! Kayaknya Adam dengar semuanya." Batin Vela.


"Kenapa?! Kenapa kalian kayak gini ke gue?!" Adam berteriak pada dua orang yang yang kini berdiri di depannya dan Ayah.


"Oh, bagus sekarang lo udah tahu. Terus lo ngapain cari gue?! Oh dengan pria pem bi nor ini juga?! Hahaha, lo nggak tahu aja Dam. Lelaki ini yang sudah bikin ibu, sorry bukan ibu, dia nggak pantes di panggil ibu." Vela sudah terlanjur kesal karena rencana yang ia pikir akan sukses ternyata gagal.


"Dia adalah perempuan gi la, yang meninggalkan anaknya demi lelaki lain yang lebih kaya." Sambung Vela.


"Salah, paham?! Apa yang mau lo jelaskan hah! Bapak tua!"


Adam menggeleng kan kepalanya, begitu juga Ayah Hendra. Mereka berdua heran melihat Vela yang seperti itu.


"Lo, selesaikan urusan lo br e ng s ek!" Ujar Agra yang akan pergi lagi, tapi nyatanya ia di cekal oleh Adam.


"Mau ke mana lo!" Tangan Adam mencengangkan baju Agra.


Bug!! Agra memukul balik pipi Adam. "Lepas ba ng sa t!"


Adam memegangi sudut bibirnya yang terasa perih. Ia mundur beberapa langkah kebelakang gara-gara pukulan Agra.


"Cukup Dam! Biarkan dia pergi. Kita hanya butuh bicara pada dia," ucap Ayah dengan menunjuk Vela.


Jujur saja Ayah Hendra begitu jijik melihat Vela, apalagi setelah ia mendengar sendiri apa yang di katakan Vela. Ayah Hendra masih tak habis pikir pada kelakuan anak dari istrinya itu. Bisa-bisanya mempunyai pikiran se-picik itu.


Vela masih berdiri di sana dengan kesal. Rencananya sudah gagal dan Adam sudah mengetahui semuanya. si al!


"Gue pengin bicara sama lo." Kata Adam.


Vela mengembuskan nafas kasarnya. Ia lantas duduk kembali di sofa yang dulu jadi tempat yang begitu menyenangkan bagi Adam dan Vela untuk menghabiskan beberapa botol minuman beralkohol.


"Nak, Vela, kenapa kamu melakukan semua ini?! Apa salah Adam sama kamu?!" Tanya Ayah dengan sabar.


Ayah dan Adam tetap berdiri di tempatnya. Sementara Vela menoleh ke arah di mana tidak ada Adam dan Ayahnya.


"Jawab, Vel!!" Teriak Adam kesal.


Sudah benar ia mengikuti jalan yang di arahkan oleh naifa, tidak selamanya terjerumus ke dalam jalan yang Vela bawa. Bisa di bayangkan jika Adam tetap bersama Vela, mungkin ia akan selamanya jadi manusia bodoh yang hanya di manfaatkan oleh Vela untuk menyakiti Ibu mereka. Ya, ibu mereka. Ibu dari Adam dan Vela.


"Semuanya sudah jelas bukan?! Jadi untuk apa kalian masih mau bicara sama gue?!" Kata Vela.


"Vel, gue mau bilang sama lo. Lo salah paham selama ini sama orang yang bergelar nyokap lo. Yang ternyata adalah nyokap gue juga. Lo harus dengerin penjelasan dari Ibu, kenapa dia ninggalin lo dari kecil. Lo harus tahu, sebelum lo nyesel seumur hidup lo." Jelas Adam pada Vela.


Mau seperti apapun bentuknya Vela, mau se menyangkal bagaimana pun. Vela tetaplah kakaknya bukan?! Anak pertama dari ibunya dengan suami pertamanya.


"Gue, nggak perduli!" Vela berdiri dan pergi dari sana. Memberi tatapan tajam pada dua pria yang ia benci selama ini. Karena dengan keberadaan mereka, membuat Vela tak mendapat kan kasih sayang dari seseorang yang katanya adalah ibunya. Menurut Vela seperti itu.


"Vel tunggu! Gue belum selesai bicara ba ng sa t!!" Teriak Adam begitu melihat Vela meninggalkan dirinya dan Ayah Hendra.


"Biarkan saja Dam. Susah kalau kita bicara pakai emosi. Biarkan dia pergi. Seenggaknya kita bisa lega, kalau anak yang ada di kandungan kakakmu bukan darah daging mu." Ujar Ayah.


Adam mengembuskan nafas pelan lantas mengangguk. Ya, Ayah Hendra benar. Se-enggaknya sekarang ia bisa lega untuk menjalani kehidupan rumah tangganya dengan Naifa. Tidak ada lagi rasa bersalah karena mempunyai anak dari perempuan lain.


...


Author : Tapi, Dam?? Apa Vela akan membiarkan mu begitu saja? tidak akan melakukan hal lain lagi?!


Adam : Tolong lah Thor, gue baru bahagia sama istri gue. Baru ngerasain menaiki bukit masa mau lo kasih masalah lagi?! Gue tampol nih.


Author auto menelan ludah dengan susah payah, setelahnya ... kabuurrrr sebelum di timpuk pake cinta sama teman² yang baca 🤭