Naifa

Naifa
Bab 51



Naifa terpaku di tempat duduknya. Tidak perlu ia buka ia sudah tahu kalau itu adalah surat perceraian. Naifa menggeleng, air matanya keluar begitu saja. Apa ini?! Di saat-saat dirinya membutuhkan suaminya, nyatanya suaminya malah mengirimkan surat yang sama sekali tidak ia inginkan.


Ibu Nuri yang duduk di sebelahnya mengusap punggung Naifa. "Ini, yang terbaik untukmu Nai." Kata Ibu Nuri.


"Menurut siapa Bu?!" Naifa menolehkan wajahnya ke arah sang Ibu. "Menurut siapa, ini adalah yang terbaik untuk Nai?! Bahkan menurut Nai sendiri, yang terbaik untuk Nai, adalah selalu bersama Abang." Ujar Naifa.


"Adam, bukan lelaki yang baik Nai_" ibu Nuri belum selesai menyelesaikan kalimatnya tapi Naifa keburu memotongnya.


"Tidak ada lelaki yang baik, bu. Bahkan Nai saja tidak baik. Nai bo doh, karena Nai tidak bisa menjaga diri Nai. Apa karena itu, Abang jadi mengirimkan surat itu Bu?!" Ibu Nuri menggeleng.


"Lantas, apa Bu?!" Naifa tak kuasa lagi. Tangisnya keluar. Ia menunduk menutup wajahnya dengan dua telapak tangan nya.


"Nai, Ayah dan Ibu minta maaf padamu. Karena kamu jadi seperti ini, seandainya saja dulu Ayah tidak memintamu untuk menikah dengan putra kami yang_"


Naifa menatap sang Ayah mertua dan lagi-lagi memotong kalimat mertuanya, "yang apa Yah?! Abang sudah berubah. Abang sudah baik, lalu kenapa sekarang malah seperti ini?!" Naifa masih tak mengerti.


"Nai, Adam tidak pantas untukmu. Kamu berhak bahagia, kamu berhak mendapatkan lelaki yang baik tidak seperti Adam." Ujar Ibu Nuri.


Naifa lantas menoleh ke arah ibu mertuanya. "Lalu, siapa yang pantas untuk Nai bu?! Bahagia seperti apa yang ibu maksud. Selama ini Nai begitu bahagia bersama Abang, Bu. Apa pernah, Nai mengatakan kalau Nai tidak bahagia?! Tidak bu, Yah. Nai bahagia bersama Abang."


"Nai, tenang lah." Ibu Muni bersuara.


"Maaf, ibu tidak mengatakan ini. Sebenarnya, kemarin lusa Nak Adam mengantar mu sembari mengembalikan dirimu pada ibu." Jujur Ibu Muni pada Naifa.


Rasanya dada Naifa begitu sesak. Kenyataan yang baru ia dengar dari ibunya membuatnya tak bisa bernafas. Kenapa?! Apa alasan suaminya menginginkan ini semua?! Sementara mereka pernah berjanji akan selalu bergandengan tangan untuk menghadapi segala rintangan dan tantangan kehidupan.


"Abang, jangan mengatakan apapun. Mari kita berjalan bersama Bang, kita lewati ini bersama, jangan sampai kata-kata tidak baik keluar dari mulut Abang. Karena, walaupun sekedar kata-kata tapi makna nya begitu besar Bang. Bisa membuat penyesalan yang lebih besar lagi." Naifa masih mengingat saat dirinya menguatkan suaminya.


"Nai akan ada bersama Abang, jadi, Nai mohon ... Abang kuatkan iman Abang, jangan langsung lembek. Karena sekarang bukan hanya Abang yang butuh pegangan. Nai pun membutuhkannya Bang. Jadi, Nai mohon ... jangan lepaskan ini." Ujar Naifa dengan menggenggam tangan suaminya. "Mari kita sama-sama menguatkan, agar kita bisa melewati ini bersama-sama."


Naifa mengingat setiap apa yang dia lewati bersama Adam. Hampir dua bulan ini semua berjalan penuh rintangan. Apakah Adam menyerah begitu saja?! Hanya sampai di sini saja?!


"Bu, apa boleh Nai menemui Abang?!" Tanya Naifa pada Ibu Nuri di sebelahnya.


"Nai, mohon, Nai perlu bicara dengan Abang." Ibu Nuri lantas mengangguk mengiyakan keinginan menantunya. Walaupun entah seperti apa nanti reaksi Adam saat di datangi istrinya. Karena Adam sudah bilang pada Ibu dan Ayahnya kalau ia tak ingin menemui lagi wanita yang berhasil membuatnya jatuh dalam cinta sedalam-dalamnya.


...***...


Di dalam mobil yang melaju, Naifa menatap ke luar jendela. Hujan masih lebat, menemani Naifa yang tengah menguras air mata dari sumbernya. Bibirnya memang terkatup rapat, namun matanya terus saja mengeluarkan air mata.


Ibu Nuri yang duduk di bagian depan terus saja menoleh ke belakang, ia ikut sedih melihat Naifa sedih seperti itu.


Ini semua adalah salahnya, seandainya dulu ia tak meminta Naifa untuk menikah dengan putranya mungkin semua ini tidak akan terjadi. Sekarang ia bukan hanya membuat Naifa sedih, tapi juga membuat Adam bersalah. Entah mana yang ia harus rasakan. Kesedihan dan kesakitan, terpisah dari orang-orang tersayang nya.


...***...


Mobil sampai di halaman lebar rumah pak Hendra. Naifa langsung saja turun begitu Ayah memberhentikan laju mobilnya.


Naifa bertemu Bi Siti, lantas menanyakan keberadaan Adam. Bi Siti mengatakan kalau Tuan nya itu ada di kamarnya. Lalu tanpa menunggu lama Naifa menaiki tangga guna menemui Adam di kamarnya.


Dengan pelan, ragu juga deg-degan Naifa membuka pintu kamar Adam. Ia langsung mendapati suaminya itu tengah duduk di sofa dengan rokok di tangannya.


"Assalamu'alaikum," sapa Naifa.


Adam yang kaget lantas melebar kan matanya. "Naifa!" Ujar Adam yang lantas menggerus puntung rokok ke dalam asbak dan berdiri.


"Ngapain lo ke sini?!" Tanya Adam dengan tatapan kesal dan kaget.


"Maksud, Abang apa?!" Tanya Naifa seraya mendekat. Jujur saja Naifa begitu terkejut saat mendapati Adam tengah merokok, juga panggilannya yang berganti kembali menjadi lo-gue.


"Maksud, yang mana?!" Tanya Adam balik.


"Surat itu ... untuk apa Bang?!" Naifa sudah berdiri di depan Adam.


"Lo nggak bisa baca?!" Tanya Adam ketus.


Naifa mendongak menatap netra suaminya yang memerah, seolah baru saja bersedih dan menangis. Namun sesaat setelahnya Adam melengos dari wajah Naifa. Ia tak mau lagi menatap wajah sayu Istrinya.


"Nai nggak mau baca Bang. Nai nggak mau," ucap Naifa tertahan.


"Dan lo pikir gue perduli?! Enggaaak!!!" Teriak Adam di depan wajah Naifa. Membuat Naifa memejamkan mata karena teriakan itu.


Naifa tersenyum, "apa alasannya Bang?!" menatap kembali netra suaminya yang kini menatapnya dengan tatapan dingin.


"Nggak perlu alasan! Sekarang mending lo pergi dari sini!" Ujar Adam.


Naifa menggeleng, "tidak. Nai tidak mau pergi. Kalau memang Nai punya salah, Abang bisa tegur Nai, bukan langsung mengirim surat seperti itu Bang?!"


"Lo mau tahu?!" Adam tersenyum sinis pada Naifa. "Selama ini, gue cuma pura-pura, Naifa. Hahahaha." Adam tertawa keras. "Lo bo doh Naifa. Lo bo doh!!! Lo pikir lo bisa semudah itu nge-rubah gue?! Enggak! Lo pikir lo siapa? Hah!" Adam berteriak kembali pada Naifa. Tak perduli pada hati Naifa yang tengah sakit karena keputusan sepihak nya itu.


"Abang jangan bohong." Naifa menelan ludahnya dengan susah payah. Benarkah?! Selama ini suaminya hanya pura-pura. "Tidak, tidak mungkin. Tatapan nya, genggaman nya, kata-katanya, semuanya penuh rasa cinta. Bagiamana bisa semua itu hanya pura-pura?!" Bisik Naifa dalam hati.


"Gue sudah puas main-main sama lo, sekarang sudah waktunya gue lepasin lo. Sekarang sudah waktunya lo bebas dari gue. Lo bebas sekarang! Dan sekarang gue nggak perduli sama Lo." Adam membalik badannya saat mengatakan itu. Ia tak menatap wajah Naifa yang penuh dengan lelehan air mata.


"Tolong jangan katakan itu, Bang. Tolong bilang kalau Abang bohong, Abang nge-prank Nai 'kan?! Abang mau kasih kejutan pada Nai, iya?!" tanya Naifa dengan konyol nya.


Membuat Ibu Nuri dan Ayah Hendra yang berdiri di depan pintu menyeka sudut mata mereka.


"Jangan mimpi Nai! Pergi sekarang juga gue bilang. Pergi Nai!!!" Teriak Adam.


Air mata yang keluar nyatanya semakin deras. Bersamaan dengan hujan yang semakin lebat, bahkan kini hujan ditemani dengan kilat dan gemuruh suara guntur. Lengkap sudah kesedihan Naifa, setelah kemarin ia sedih karena ada yang berniat jahat. Kini justru di tambah lagi dengan kenyataan yang ada. Suami yang harusnya ada di sampingnya saat ia butuh untuk bersandar dan berpegangan, nyatanya malah menyuruhnya pergi dari pandangan. Hancur sudah hatinya, menjadi kepingan-kepingan kecil yang akan susah untuk di satukan kembali. Bahkan mungkin tidak akan bisa.