Naifa

Naifa
Bab 26



Sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat-ayat Al-Qur'an, suara nya yang merdu membuat netra Adam memaksanya untuk terbuka. Dalam cahaya yang remang-remang karena di kamar hanya ada satu lampu tidur yang menyala, dia dapat melihat seseorang tengah duduk bersimpuh mengaji dengan khusyuk. Senyum di bibir pria yang baru saja taubat itu tersungging, bagaimana bisa dia mendapatkan keberuntungan ini?!


Adam lantas duduk di lihatnya jam di ponsel, 04:15. Menaruh kembali ke atas nakas dan beranjak turun dari ranjang. Ia ingin mendengar dengan jelas, ia ingin mendengarkan dengan duduk di belakang Naifa. Perlahan melangkahkan kakinya mendekat, namun seketika Naifa menyudahi ngajinya. "Shadaqallahul-'adzim."


Naifa menoleh, "Nai membangunkan Abang ya?!"


"Astagaaa!!!" Adam berteriak kaget karena Naifa berbalik dengan senter ponsel yang mengarah ke wajah Naifa.


Naifa meringis, "maaf."


Adam mengembuskan napas kasar, lantas ia duduk di lantai. "Kok udahan?!"


Naifa memutar duduknya, "Nai denger langkah, jadi Nai takut kalau Abang merasa Nai terlalu berisik."


"Padahal gue mau dengerin dari deket." Kata Adam.


"Kenapa, nggak nyalain lampu aja. Dari pada pakai senter!" Sambung Adam. Karena tadi Naifa memang mengaji dengan senter untuk menerangi Al-Qur'an nya, agar terlihat.


"Nai takut__" belum selesai Naifa menjelaskan Adam sudah memotong kalimat nya.


"Takut bangunin gue?!" Naifa mengangguk.


Dengan embusan napas Adam berdiri, "ya sudahlah. Gue tidur lagi."


"Eh, jangan Bang!" Adam menoleh, "kenapa?!"


"Sebentar lagi subuh, sebaiknya Abang shalat jama'ah di masjid." Terang Naifa.


"Jangan, dulu deh. Gue shalat di rumah dulu deh ya, gue belum siap di lihatin banyak orang." Naifa mengangguk pasrah. Ya biarkan saja, sudah mau shalat saja sudah kebahagiaan tersendiri bagi Naifa. Jadi pelan-pelan Nai, nanti pasti akan terbiasa.


***


Naifa benar-benar tidak bisa menyembunyikan senyum cerahnya dari bibirnya. Bibir mungil itu terus saja tersenyum saat memandangi pangeran tampan di depannya. Masyaa Allah tampan sekali.


Naifa kini duduk di ujung ranjang, tengah melihat Adam dari pantulan cermin. Adam kini sudah rapi dengan pakaian kantor, ia tengah melihat dirinya dari cermin. Adam tengah merasakan aneh, karena ini pertama kalinya ia akan bekerja. Jujur saja ia merasa tak percaya diri akan apa yang ia kenakan.


"Gue, aneh nggak sih?!" Tanya Adam pada Naifa yang terlihat di cermin.


Naifa membesarkan kelopak matanya, begitu tahu kalau ia ketahuan tengah memperhatikan suaminya. "Mmm, enggak kok Bang." Jawabnya sambil nunduk.


Adam tersenyum sinis, "lo nggak mau muji gue?!"


Naifa mendongak, "sudah." Jawabnya.


Adam mengernyitkan dahi dan memutar badannya, "lo muji gue kapan?!"


Naifa menepuk dadanya, dengan senyum malu-malu. Adam mendekat dan duduk di sebelahnya. "Thanks ya, lo udah bawa gue jadi diri gue sendiri."


"Bukan Nai, yang membawa Abang seperti ini. Ini karena memang sudah ada di dalam hati Abang. Hanya saja, Abang baru mendapat rasa percaya pada diri Abang sendiri. Yang kebetulan rasa percaya diri Abang muncul saat bersama Nai."


Adam tersenyum pada istrinya itu.


***


Naifa akan mengantar suaminya pergi dengan senyuman dan menyambut suaminya dengan senyuman juga. Senyum tulus yang selalu tersungging untuk suaminya seorang. Ia akan menjaga suaminya lewat Doa yang selalu ia panjatkan begitu suaminya berangkat.


Jangan tanyakan apakah Naifa sudah di wisuda atau belum, karena nyatanya sampai sekarang mereka berdua masih tidur dengan beda kamar. Hanya akan berada di dalam satu kamar saat sedang shalat saja. Entahlah, Adam merasa belum waktunya untuk dirinya menyatukan dirinya dan Istrinya. Adam masih merasa bersalah dengan kejadian dulu, saat ia sadar dari tidurnya dengan Vela di sampingnya. Walaupun Adam merasa kalau ia tak melakukan apapun, tapi mengingat itu ia takut kalau sampai ia pernah melakukan nya dengan Vela. Dan Adam berniat akan jujur terlebih dahulu pada Istrinya sebelum me ngga uli istrinya.


Mengingat Vela, sampai sekarang Adam belum bicara pada Vela. Adam belum menemui Vela, ia masih sibuk dengan urusan Kantor yang masih begitu banyak yang harus ia pelajari. Ia bahkan sampai lupa pada Vela. Bagaimana kabarnya, kehidupannya, karena biasanya Vela hidup dengan kartu yang ia miliki.


Mungkin nanti, setelah ia tak terlalu sibuk ia akan berbicara pada Vela. Bahkan kalau bisa, ia akan mengajak Vela untuk bertaubat.


***


Dan sore ini, Naifa baru selesai masak. Ia bahkan sudah mengganti pakaiannya. Masih memakai gamis panjang memang, hanya saja kini ia mengganti jilbab nya dan memakai pashmina, tak lagi menggunakan jilbab panjang menjuntai seperti biasanya. Ia ingin menyambut suaminya dengan beda kali ini.


Sedikit bedak tabur dengan tulisan bayi ku di botol bedak, ia membubuhkan nya di telapak tangan dan menyapukan ke wajahnya secara merata.


Ia tersenyum, menatap dirinya. Gamis yang ia kenakan tidak longgar seperti biasanya. Dia memang sengaja meminta di kirimkan baju itu oleh Rara. Dan tadi pagi, sebelum berangkat sekolah, Rara mengirimnya lewat ojek.


Naifa tersenyum sembari membaca doa, "Allohumma kamaa hassanta kholqii fahassin khuluqii,"


(Artinya :Ya allah, sebagaimana Engkau telah membaguskan penciptaanku, maka baguskanlah pula akhlakku.) Sumber, buku Diniyah anakku ☺️


Saat Naifa selesai, ia lantas keluar dari kamarnya. Bersamaan dengan suara mobil Adam yang berhenti di depan rumah mereka. Entah kenapa Naifa merasa gugup, padahal sudah seminggu ini hubungan mereka baik-baik saja layaknya suami-istri pada umumnya. Mungkinkah karena penampilannya?! Entahlah yang jelas Naifa merasa takut, takut kalau Adam akan menertawakan dirinya.


Naifa sudah berdiri di depan pintu, ia sengaja tidak keluar karena baju dan pashmina yang ia kenakan. Dengan tarikan napas pelan ia siap menyambut hangat sang suami.


Ceklek!


Pintu di buka di barengi dengan ucapan salam dari Adam. "Assalamu'alaikum," ucap Adam.


"Wa'alaikumsallam," jawab Naifa dengan senyum yang lebar.


Adam mengernyitkan dahinya, "tumben lo, nggak keluar?! Gue pikir lo sakit." Ujarnya sembari menutup pintu.


Naifa menggeleng sembari meminta salim. "Abang sudah ashar 'kan?!" Tanya Naifa seperti biasa.


Adam mengangguk lantas duduk di sofa, ia tengah memikirkan sesuatu yang entah apa. Seperti ada yang berubah, pikir Adam.


"Abang, kenapa?!" Tanya Naifa yang melihat Adam duduk dengan menatapnya.


"Apa, Nai terlihat aneh?!" Sambung Naifa.


"Enggak sih, tapi, apa yaa...kok lo kayak ada yang kurang, tapi apa ya?!" Adam menatap Naifa dari atas sampai bawah.


Naifa pun sama, ia turut memandangi dirinya, pashmina yang setiap ujung nya di lipat ke belakang jadi bagian depannya tak tertutup jilbab seperti biasanya dan gamis yang tidak longgar alhasil bagaian depannya terbentuk, walaupun tak terlalu kentara.


Lalu setelahnya Adam melebarkan kelopak matanya dan berdiri, "lo," ucapnya sembari menunjuk ke wajah Naifa. Membuat Naifa mengernyitkan dahi takut. Takut kalau ternyata suaminya tidak suka. Naifa menunduk dan sedikit mundur takut kalau-kalau suaminya akan meneriaki dirinya.


Jangan lupa, like, komen, subscribe, share, vote, hadiah 🀣🀣 Candaa ✌️ di baca saja Author sudah sangat bahagia πŸ€— Terimakasih 😘