Naifa

Naifa
Bab 54



Naifa menutup mulutnya tak percaya. Ibu Nuri kembali menangis.


"Dan yang lebih parah adalah, dia tiada ... ka_karena adiknya," sambung Ibu Nuri sembari menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya.


"A-apa?! Maksudnya, si_siapa bu, adiknya?" Bukan tidak tahu siapa adiknya. Tapi, Naifa jelas tidak percaya. Suaminya kah?!


"Adam, Nai ... Adam tak sengaja membuat Kakak nya pergi." Jelas Ibu Nuri.


Mulut Naifa terbuka lebar, apa yang baru saja dia dengar begitu menyakitkan. Tidak bisa di percaya.


"Ibu jangan bohong bu! Lalu, di mana Abang sekarang?!" Naifa tak sanggup menahan air mata yang keluar. Tubuhnya lemas, mungkin jika saja ia tengah berdiri ia akan jatuh, seperti tak bertulang.


Ibu Nuri menatap wajah menantunya itu, "suamimu sedang menebus dosanya Nai, itu makannya kenapa dia ingin pisah darimu. Dia tidak mau melihat mu seperti ini, tapi nyatanya sekarang kamu tahu. Maafkan Ibu, yang tidak bisa menutupinya darimu." Ibu Nuri menggenggam tangan Naifa yang duduk di sebelahnya.


"Maksudnya dengan menebus dosa apa bu?! Nai tidak mengerti."


Sungguh Naifa tak tahu apa maksudnya. Apakah karena ini, jadi suaminya mengembalikan dirinya pada ibunya, juga mengirim dirinya surat gugatan perceraian?!


"Adam menyerahkan dirinya ke kantor polisi Nai." Ujar seseorang yang baru masuk dari luar. Naifa, Ibu Nuri dan Bi Siti yang masih di sana mendongak. Ternyata Ayah Hendra lah yang masuk.


Ayah Hendra baru saja mengikuti Adam ke kantor polisi.


"Tapi, bagiamana bisa Abang seperti itu Yah? Kenapa?!" Naifa tak tahu lagi bagaimana perasaannya sekarang. Yang jelas ia hancur.


Ayah Hendra duduk di sofa setelah Bibi Siti beranjak dan pamit masuk ke dalam. Ayah Hendra duduk di depan menantunya itu, hanya saja terhalang meja.


"Dengar kan ini baik-baik Nai. Ayah tidak mau kamu salah paham." Ujar Ayah Hendra.


Naifa memajukan duduknya, memasang dengan baik telinganya untuk mendengarkan penjelasan dari sang Ayah mertua.


"Waktu itu. Saat Ayah dan ibu datang ke rumah sakit. Adam menjelaskan apa yang terjadi padamu. Dan memberitahu ayah siapa dalang dari perbuatan buruk itu. Kamu tahu siapa orangnya?!" Tanya Ayah.


Naifa menggeleng, ia tidak tahu. Lagipula ia tak terlalu mendengar saat dua preman itu memberi tahu pada Adam. Karena saat itu ia sudah dalam keadaan ketakutan. Tak mengerti juga nama yang tersebut oleh dua preman itu.


"Agra. Agra juga di suruh. Dan yang menyuruhnya adalah Vela." Ayah men-jeda kalimatnya, menarik napas sebentar. Ini terlalu menyakitkan untuk di ceritakan kembali.


"Mbak, Vela? Tapi, kenapa?! Apa Nai banyak salah padanya?!" Ibu Nuri mengusap tangan Naifa yang ada di pangkuannya.


"Entahlah Ayah juga tidak tahu. Yang jelas, setelah Adam menceritakan segalanya pada Ayah. Adam dan Ayah pergi ke tempat Agra dan di sana kita berdua bertemu keduanya. Adam yang kesal langsung memukul habis-habisan Agra. Namun Agra menghindar, lalu ... membalas."


"Keduanya saling adu hantam, sampai Agra mengeluarkan pisau dari sakunya. Dan saat akan menusuk Adam, Adam bisa mengambil alih. Dan saat Adam akan menusuk Agra, Agra menghindar, sedangakan di belakangnya ada Vela. Tak sengaja, Adam menusuk perut Vela."


Naifa memejamkan matanya, ia begitu ngeri dengan apa yang di ceritakan sang Ayah mertua.


"Agra yang kesal, tak tinggal diam. Ia lalu mengambil pistol, mengarahkan nya pada Adam, Ayah memberitahu dan saat itu. Lagi-lagi Adam mengambil alih. Rasa emosinya yang di ubun-ubun membuat nya kehilangan akal, ia langsung mengarahkan pistol pada Agra, setelah memukul kembali Agra dengan tongkat yang Ayah ambil dari sudut ruangan."


Air mata Naifa tumpah ruah, hatinya merasakan sakit.


"Lalu, lagi-lagi Vela menghalangi. Adam yang kesal tak perduli siapa di depannya, ia lalu menarik pelatuk dan ... Vela lah yang tertembak."


Lagi-lagi Naifa memejamkan matanya. Cukup. Ia tak kuat untuk mendengarkan lagi.


Kenapa?! Kenapa harus sampai seperti ini?! Batin Naifa berbicara. Mulutnya bergumam istirgfar, air matanya terus saja keluar.


"Saat itu Ayah langsung menelpon ambulan. Sedangakan Adam yang sadar langsung terduduk lemas. Penuh penyesalan. Tak berapa lama Ambulan datang dan Vela juga Agra yang babak belur di bawa ke rumah sakit." Ayah masih melanjutkan ceritanya.


"Itulah kenapa saat kamu pulang ke rumah, Ibu dan Ayah tidak bisa mengantarkan mu, karena saat itu. Ayah dan ibu menemui Vela yang kritis. Ibu bertemu dengan putrinya untuk terakhir kalinya. Ibu bahkan hanya mampu mengucap maaf, tanpa di jawab. Vela langsung pergi saat itu juga Nai."


"Ya Allah ... astaghfirullah," ucap Naifa yang tak tahu harus mengatakan apa.


"Dan setelah saat itu, Adam memutuskan untuk menyerahkan dirinya Nai. Makanya Adam ingin pisah dari mu. Adam nggak mau kamu berada dalam dekapan pria jahat seperti nya. Adam tak sanggup jika harus melihatmu bersedih lantaran tahu tentang dirinya. Nai, Adam akan lama menebus dosa-dosa nya. Adam tidak ingin kamu menunggunya. Menurut Adam, kamu berhak mendapatkan pria yang lebih baik, lebih baik dari Adam, Nai." Ibu Nuri tak kuasa saat mengatakan ini.


Anak lelakinya yang sudah kembali menjadi baik, harus di hadapkan dengan keadaan yang seperti ini. Keadaan yang memaksakan dirinya untuk melakukan kejahatan.


Naifa menggeleng, "jadi ... karena ini Abang mau pisah?!" Ibu Nuri mangangguk. " Tidak. Nai tidak mau. Nai akan menunggu sampai Abang kembali." Ujar Naifa. "Yah," Naifa menatap sang Ayah mertua, "tolong antar Nai bertemu Abang. Nai ingin menguatkan dirinya. Nai ingin bilang ke Abang, kalau Nai akan setia menantinya. Tolong Yah!" Naifa memohon pada Ayah Hendra.


"Tolong Yah!" Naifa mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


...***...


Di sana. Di ruangan yang tidak luas Naifa menunggu suaminya. Dan datanglah Adam dengan seragam khas tahanan.


"Abang," ucap Naifa tertahan. Tak mampu rasanya ia melihat suaminya yang kini ada di depannya.


"Ngapain lo ke sini?!" Adam bertanya dengan nada kesal. Namun air mata keluar dari matanya.


"Kenapa?! Kenapa tidak jujur, Nai mau nunggu Abang." Kata Naifa. Ia kini berdiri di depan Adam.


"Nggak perlu. Lo cari kebahagiaan lo sendiri. Lo lupain gue. Gue nggak pantes buat lo." Ujar Adam. Ia menatap lekat-lekat wajah Naifa yang penuh dengan lelehan air mata.


"Tidak, akan. Nai akan menanti Abang, karena kita masih bersatu Abang." Naifa tersenyum dengan lebar namun terlihat menyedihkan.


"Setelah ini, bukan. Lo buka_"


"Sssttt," Naifa menempelkan telunjuknya di antara mulut dan hidung suaminya. "Abang tidak boleh mengatakannya." Sambung Naifa.


Adam tak kuasa, ia lantas memeluk erat tubuh mungil isteri nya itu. Tak perduli pada penjaga yang ada di sana.


Lantas setelah nya, Adam mencium lama puncak kepala Naifa. "Baik-baik lah Nai, maaf hanya bisa membuatmu menderita." Ujar Adam. Naifa menggeleng.


"Maaf Nai." Kata Adam lagi. Naifa mendongak menatap suaminya. "Naifa Arini. Hari ini aku Adam, suamimu. Menjatuhkan talak satu padamu, mulai hari ini kamu bukan lagi istriku."


Lepaslah tangan Adam dari Naifa.


"Abang," Naif menggeleng lantas menunduk. Apa yang barusan di ucapkan Adam begitu menyakitkan baginya.


Adam kembali di suruh masuk, karena waktu yang sudah habis.


Dengan air mata yang terus saja mengalir Adam meninggalkan Naifa.


"Abang ...." Naifa mengulurkan tangannya pada Adam.


Adam tersenyum, "berbahagialah Nai. Cari pasangan yang baik, sebaik dirimu. Aku sayang kamu Nai," Adam mengulurkan tangannya yang tak lagi menyentuh Naifa. Hingga akhirnya Adam menjauh dengan tangan yang semakin tak tergapai.



End ....


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tapi bohong 🤭