Naifa

Naifa
Bab 56



Ibu Nuri duduk dengan sang suami. Ayah Hendra baru saja menceritakan pada Istrinya kalau seminggu ini Adam tidak enak badan. Lemas dan muntah-muntah. Sudah di periksa namun tidak kenapa-kenapa. Dan itu semakin membuat Ibu Nuri khawatir, ia bahkan jadi tidak enak makan.


Rasanya jika boleh, ia ingin menyeret anak nya pulang dan merawatnya di rumah. Sayang sekali, itu hanya angan-angan. Nyatanya untuk menengok anaknya saja ia tak sanggup.


Yang pasti Ibu Nuri hanya akan kehabisan air mata di sana dan tidak akan bisa berbicara pada putranya itu.


Akhirnya hanya Ayah lah yang sering menengok putranya, sembari menceritakan segala nya yang terjadi antara Kantor, rumah dan ... Naifa.


Ya, Ayah Hendra masih suka menceritakan Naifa, sedikit-sedikit. Yang ia tahu saja. Karena kadang Naifa masih suka main ke rumah nya, menengok Ibu Mertuanya yang akhir-akhir ini hanya di rumah saja. Sudah tak sesibuk dulu.


Kadang Naifa akan menemani Ibu Mertuanya itu untuk nyekar ke makam sang putri pertama.


Ya, walaupun hanya sebatas itu. Tapi nyatanya cerita dari Ayahnya mampu sedikit mengurangi rasa rindu Adam pada Naifa. Walaupun harusnya tidak boleh. Karena kini, Naifa bukan lagi isteri nya.


Ayah juga sengaja tak menceritakan pada Adam, bahwa Naifa tidak mengirimkan surat ke pengadilan. Naifa tetap mempertahankan hubungan mereka. Walau dengan talak satu.


...***...


Sementara itu, kini Naifa tengah mengikuti pengajian bersama Ustadzah Andini. Ia semakin aktif di pengajian-pengajian. Semakin sibuk mengalihkan pikiran nya dari memikirkan status hubungannya. Ia kini semakin fokus pada ibadah saja.


Terlepas dari segala yang ia alami. Semua orang mengetahui. Tak sedikit orang yang menceritakan dirinya, mengasihani karena masih muda harus menjadi janda. Tapi, di balik itu semua ia tetap sabar dan ikhlas. Tak pernah membalas apa yang orang-orang katakan.


Sampai menyalahkan Ibunya karena semua ini terjadi juga karena kesalahan Ibu Muni.


Ibu Muni dan Naifa tidak pernah membalas ataupun menjawab pernyataan dan pertanyaan orang-orang. Sungguh mereka tak perduli.


Begitupun dua adiknya yang selalu ada untuknya. Mereka berdua juga tidak pernah mengurusi apa yang orang-orang katakan.


Kembali ke Naifa yang bolak-balik ke kamar mandi, Ustadzah Andini sampai heran pada Naifa yang bolak-balik terus-menerus.


Keduanya jadi tidak fokus pada kajian kali ini, karena Naifa yang bolak-balik membuang air yang sebentar-sebentar terasa mengganjal di perut dan minta untuk di buang.


"Kamu, kenapa sih Nai?! Tumben sekali bolak-balik ke kamar mandi?!" Tanya Ustadzah pada Naifa yang baru duduk kembali di sebelahnya setalah dari kamar mandi.


"Tidak tahu, Ustadzah ... beberapa hari ini Nai jadi sering pipis," ucap Naifa. Tentu saja keduanya bicara setengah berbisik agar tak mengganggu jamaah lain.


Ustadzah mengangguk, "sakit tidak?!"


Naifa lantas menggeleng, "tidak. Hanya saja, Nai jadi sering sekali." Ujar Naifa menjelaskan.


Entah kenapa beberapa hari ini Naifa jadi sering sekali buang air kecil, juga sering sekali merasa keram perut. Kadang juga ia merasa aneh, perut bagian bawahnya kadang keras, keras sekali. Namun Naifa tak pernah menceritakan nya pada siapapun. Termasuk pada ibunya.


Ia juga terlalu sibuk, sampai tak memikirkan perutnya yang semakin hari semakin aneh.


Sekarang teman Naifa jadi lebih banyak, yang kesemuanya adalah orang-orang yang baik. Naifa sungguh menyenangi kegiatan yang berbau keagamaan, jadi setiap ada pengajian ia pasti akan hadir.


Terlepas bersama atau tidak dengan Ustadzah Andini.


"Jadi, gimana Nai?! Kamu mau berangkat ke undangan nya Ustadzah Nada?!" Tanya Ustadzah Andini yang kini tengah berjalan bersama Naifa keluar dari Masjid.


"Nanti, Nai bicarakan dulu sama Ibu, Ustadzah. Kadang kalau terlalu jauh, suka tidak di bolehkan sama Ibu. Ibu masih khawatir kalau Nai pergi jauh-jauh." Jawab Naifa dengan senyum yang selalu mengembang saat bicara pada Ustadzah Andini.


Ustadzah Andini menepuk pelan lengan Naifa, lantas ia berhenti. "Betul. Aku saja kagum sekali pada Ibu mu, beliau begitu baik." Ujar Ustadzah.


Naifa mengembangkan senyum yang semakin lebar. "Betul Ustadzah, Ibu memang paling baik. Beliau bisa menjadi Ayah sekaligus Ibu buat kami bertiga. Sampai kami tidak merasa kekurangan kasih sayang seorang ayah apalagi Ibu." Tutur Naifa bangga pada Ibunya.


Ustadzah Andini mengangguk lantas mengajak Naifa untuk melanjutkan jalan mereka.


Sesaat saja setelah keduanya sudah berada di dalam mobil di perjalanan pulang, tiba-tiba di jalan Naifa berhenti dan membeli makanan. Entah kenapa Naifa menginginkan makanan yang berbau pedas. Seperti cilok pedas, ceker mercon dan beberapa makanan lain yang di jual di pinggir jalan.


Ustadzah Andini sampai heran, karena biasanya saat Ustadzah Andini mengajak Naifa. Naifa selalu saja menolak. Tapi, kali ini, Naifa justru yang meminta terlebih dahulu.


Dan tidak hanya Ustadzah Andini yang heran. Ibu dan dua Adik Naifa pun heran pada Naifa yang tumben-tumbenan makan makanan seperti itu. Biasanya Naifa hanya akan memakan masakan ibunya, selebihnya ia tak pernah negemil.


"Tumben Kak, belanja makanan pedas-pedas menggugah selera." Begitu kata Sasha saat sang kakak baru datang dam menaruh makanan yang ia dapat di atas meja.


"Iya, Kakak pengin nyobain. Enak tidak sih?!" Tanya Naifa yang lantas duduk di kursi.


"Ini, sih jelas enak banget Kak. Aku kalau di Sekolah juga jajan nya ini," Sasha begitu antusias memakan makanan yang di beli kan sang Kakak.


"Tapi, asli. Pedes banget yang ini." Tunjuk Rara ke sebagian makanan yang terlihat merah penuh cabai.


"Tapi, enak loh, Ra. Seger di makan." Kata Naifa yang sedari tadi makan jajanan itu tanpa minum sama sekali.


Ibu yang juga ada di sana meringis melihat Naifa yang memakan makanan pedas tanpa minum, tanpa kepedasan seperti biasanya.


Ibu jelas tidak bisa ikut makan. Karena ibu Muni lebih memilih kesehatan lambungnya dari pada nikmat sesaat dari makanan-makanan yang ada di meja. Yang kini tengah di makan oleh ke tiga putrinya.


"Ibu mau nggak?! Ini enak loh, bu." Ujar Sasha dengan semangat nya.


"Enggak-enggak. Ibu tidak ingin. Kalian saja yang makan. Ibu lebih kasihan sama lambung ibu, dari pada harus kasihan pada makanan itu." Ujar Ibu Muni yang masih meringis heran pada tiga putrinya yang terlihat begitu menikmati makanan pedas itu.


"Nanti, jangan lupa minum air putih yang banyak ya kalian. Ibu tidak ingin setelah ini, kalian sakit perut." Kata Ibu Muni yang lantas di jawab anggukan oleh ketiga anaknya.