
Setelah terkena bogem mentah akibat keteledoran Vela, Agra semakin kesal terhadap Adam. Ia begitu membenci pria yang sudah dengan berani memukul wajah tampannya. Begitu juga dengan Vela ia merasa sudah kalah oleh Ibu Nuri, ia merasa sudah gagal untuk membuat ibu nya itu hancur.
Ditambah lagi kini adik yang sudah tak lagi bersamanya semakin menjengkelkan bagi Vela. Segala rencana untuk membuat Adik dan ibunya hancur sudah di rencanakan. Tinggal menunggu tanggal mainnya saja.
Dan kini, keduanya tengah menikmati waktu untuk bersenang-senang. Menikmati penyatuan yang sudah selalu mereka lakukan.
Tak perduli pada kehidupan, yang keduanya rasa hanya lah bersenang-senang.
...***...
Setelah berpuas-puas menikmati waktu kebersamaan mereka, menyatukan rasa nya surga dunia. Kini keduanya tengah bersenang-senang dengan menikmati minuman keras yang bisa membahayakan kandungan yang ada di rahim Vela. Namun, keduanya sama sekali tak perduli.
Kini bahkan Agra tak perduli pada kehamilan yang tadinya ia inginkan. Tadinya Agra sempat berpikir untuk menginginkan anak itu, namun saat pikirannya tertuju kalau anak akan membawa dirinya untuk mengurus segalanya tiba-tiba keinginan itu lenyap begitu saja.
Apalagi, saat ia di tuntut pertanggungjawaban oleh Vela. Tidak. Tidak akan Agra bertanggung jawab.
"Jadi, apa menurut lo rencana selanjutnya tidak akan membuat kita terseret ke dalam penjara?! Se buruk-buruknya gue, gue ogah kalau harus masuk penjara. Gue masih ingin dunia bebas." Ujar Vela.
"Semua kembali ke lo, apa yang lo inginkan, lo yang akan menerima konsekuensi nya. Gue nggak perduli." Jawab Agra.
Semua rencana sudah matang mereka rencanakan, tinggal menunggu tanggal mainnya saja.
"Gue harap, anak buah lo bisa bekerja dengan baik." Ujar Vela sembari mengembuskan asap dari rokok ke udara.
"Se-enggaknya lo harus ingat, gue bayar mahal untuk ini. Lo nggak bisa seenaknya sama gue." Kata Agra mengingatkan.
Vela melirik kesal pada Agra di sebelahnya.
...***...
Rumah Adam dan Naifa
Selesai shalat keduanya lantas makan malam, seperti biasa mereka akan makan malam setelah shalat Maghrib.
"Nai, menurut kamu, apa aku harus mempertemukan Vela dengan Ibu?!" Tanya Adam sembari membuat kepalan kecil antara nasi dan suwiran ayam goreng juga sambal menggunakan tangannya. Entah kenapa setelah bersama Naifa ia jadi lebih suka makan menggunakan tangan langsung tidak lagi menggunakan sendok. Apalagi jika makan nya sembari menyuapi Naifa, sepiring berdua. Rasanya apapun makanannya semua rasanya jadi lebih nikmat.
"Menurut Nai, tetap harus di pertemukan Bang. Agar tidak ada lagi salah paham. Semoga Mbak Vela bisa mendengarkan dengan baik penjelasan dari Ibu ya Bang. Entah kenapa Nai merasa takut, ada sedikit perasaan yang mengganjal, takut kalau Mbak Vela tetap tidak terima." Ujar Naifa.
Adam mengangguk, "jelas akan susah Nai, bicara padanya. Butuh hati yang begitu besar. Seperti saat dirimu membawa ku ke jalan ini, butuh hati yang lembut, seperti dirimu." Adam menatap istrinya lekat-lekat.
Naifa tersenyum, "apa, Nai perlu ikut, saat nanti Ibu bertemu dengan Mbak Vela?!"
"Apa, kamu mau?!" Adam bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah manis di depannya. Naifa mengangguk.
"Ya, nanti kalau Ayah sudah bilang akan menemuinya kembali, aku ajak kamu. Ayah bilang, biarkan Ibu tenang dulu, jika sekarang, Ayah takut antara Vela dan ibu masih punya rasa yang berbanding terbalik. Takutnya mereka bukan bersatu malah semakin menjauh. Pasalnya Ibu punya rasa rindu yang menggebu, sedangkan Vela punya rasa benci yang begitu besar."
Naifa kembali mengangguk. "Iya, Ibu memang sangat merindukan Mbak Vela. Tadi siang saja ibu terlihat gelisah. Ibu pasti sangat ingin untuk segera bertemu dengan Mbak Vela."
Adam tersenyum, tadi Naifa sudah menceritakan kalau Ibu datang ke rumah mereka.
...***...
Setelah makan keduanya lantas duduk sebentar di ruang tamu sembari menunggu adzan Isya di kumandangkan.
Naifa kini sudah tak malu lagi untuk menyandar kan kepalanya di lengan Suaminya, bahkan sekarang tubuh Adam seolah candu bagi Naifa. Begitupun sebaliknya.
Adam justru membuka tangannya agar Naifa bisa menempel di dadanya, memeluk erat tubuh istrinya itu. Naifa pun memeluk erat tubuh kekar sang suami, mendongak menatap wajah Adam yang tampan dan tersenyum.
"Tidak apa-apa, Nai hanya ingin melihat wajah Abang." Jawabnya.
"Tampan ya?!" Adam menaik-turunkan alisnya menggoda Naifa.
"Sangat, sangat tampan. Masyaa Allaah ...," ucap Naifa.
"Tampan mana sama ...," Adam lupa menyebut salah satu nama pemuda yang pernah di bicarakan oleh Sasha.
"Sama siapa, Bang?! Sama Ayah?" Tanya Naifa. "Kalau menurut Nai sih sama saja, kayaknya waktu muda Ayah tampan nya seperti Abang." Sambung Naifa.
"Bukan. Kalau Ayah ya, jelas lah Nai! 'Kan aku anaknya. Sama, siapa itu ... pemuda yang pernah jadi imam shalat di rumahmu?!"
Naifa mengingat-ingat, "Siapa?! Aran?!" Tanya nya dengan menegakkan duduk nya, mengeluarkan dirinya dari rengkuhan sang Suami.
"Hm, langsung deh ingat!" Kesal Adam.
Naifa lantas tertawa, "karena memang hanya dia Bang, yang pernah shalat di rumah Nai, selain Abang, tentunya." Jelas Naifa.
Ia tersenyum senang saat melihat Adam terlihat cemburu. Naifa bahkan semakin melebarkan senyumnya saat Adam membuat gerakan mengikuti dirinya yang tengah berbicara.
"Malah, senyam-senyum. Tampan mana?!"
"Tampan, Abang." Jawab Naifa jujur.
Adam memajukan bibir bawahnya.
"Beneran Bang. Naifa nggak bohong. Karena yang ada di pandangan Nai hanya Abang, tidak ada laki-laki lain, jadi bagaimana bisa Nai bilang tampan lelaki lain. Mungkin nanti bisa, saat kita sudah di anugerahi seorang putra." Kata Nai me-melan di akhir kalimat yang ia ucapkan.
Adam tersenyum mendengar apa yang di ucapkan istrinya. Menarik istri kecilnya kembali ke dalam pelukannya dan mencium puncak kepala Istrinya yang tertutup jilbab.
"Semoga, di segerakan ya ... Nai," ucap Adam masih memeluk istrinya.
Dalam rengkuhan hangat suaminya, Naifa mengangguk. Dalam hatinya meng-aamiin kan doa suaminya.
Karena ia juga beharap agar segera di anugerahi sebuah kehamilan yang membawanya memiliki seorang putra maupun putri yang shalih dan shalihah.
...***...
Rumah Ibu Muni
Ibu Muni baru saja selesai makan malam bersama dua anaknya. Kini dirinya tengah duduk di kamar Naifa, ia ingin duduk di sana sembari menunggu Isya. Entah kenapa Ibu Muni merasakan rindu yang begitu besar pada putri pertamanya.
"Kenapa, Bu?!" Tanya Sasha pada Ibunya. Sasha terlihat heran pada Ibunya yang dari tadi duduk diam memeluk jilbab yang Naifa tinggalkan di lemarinya. Yang kadang di pakai oleh dua adiknya.
"Ibu, rindu sekali pada kakakmu, Sha." Kata Ibu menoleh ke arah Sasha yang kini duduk di ranjang Kakak nya.
"Besok kita datang saja bu, ke rumah Kakak. Lagian 'kan Kakak Adam sudah berubah. Pasti di bolehkan." Kata Sasha antusias.
"Iya, kamu benar. Coba suruh kakakmu telpon Kak Nai. Kabari kalau kita besok datang ke sana, suruh kakakmu izin pada suaminya." Perintah Ibu Muni pada anak bungsunya.
Dengan semangat Sasha keluar dari kamar Kakak nya menuju kamar Kakak Rara, sesuai perintah ibunya.
Mungkin bagi orang lain, untuk datang ke rumah anaknya tinggal datang saja. Tapi, tidak dengan Ibu Muni. Ia takut kalau kedatangannya menganggu putrinya. Apalagi mereka belum lama ini baru dekat. Jadi Ibu Muni tidak ingin mengganggu keduanya.