
Naifa kini jadi tahu, kenapa suaminya seperti itu. Tapi, ia masih diam. Belum berani memberi masukan apalagi komentar. Ia masih diam, berharap suaminya menceritakan segala sesuatu yang seperti nya begitu menyulitkan di hati suaminya itu. Naifa melihatnya seperti sebuah tekanan yang sangat dalam. Dan suaminya itu butuh orang yang bisa memahami nya dan mendengarkan keluh kesahnya.
"Gue selalu merasa kalau gue udah salah, tapi ... saat mengingat dulu, gue merasa kalau orang lain lah yang salah. Dan orang lain itu adalah orang tua gue. Mereka yang membuat gue di kucilkan, di asing kan oleh teman-teman gue. Gue ngerasa buat apa gue nurut kalau ujung-ujungnya gue jadi bahan hinaan." Adam seolah tengah berada di alam bawah sadarnya, ia bisa dengan lugas menceritakan tanpa Naifa bertanya padanya.
Naifa lantas mengusap lengan Adam, membuat Adam menoleh ke arahnya. "Nai, tahu, Abang pasti sedih sekali waktu itu. Tidak ada teman. Tapi ... yang Abang lakukan adalah salah, harusnya Abang lari ke Ibu, ceritakan segalanya. Bukan sebaliknya, Abang justru malah percaya pada orang yang baru Abang kenal, yang akhirnya membawa Abang ke jalan yang ... seperti sebelum ini." Adam mengangguk setuju.
"Iya, gue baru sadar sekarang Nai. Makanya gue cerita sama lo. Lo mau 'kan? Bantuin gue sampai gue lupa untuk menoleh ke belakang."
Naifa tersenyum lebar, "jelas Nai mau, Bang. Kita akan sama-sama melewati jalan ini, saling mengingatkan saat ada yang salah. Saling menggenggam seperti ini," Naifa mengangkat genggaman tangannya dan tangan suaminya.
"Saling menguatkan," sambung Naifa.
***
Drttt ... drttt ponsel Adam kembali berbunyi. Naifa yang baru selesai mengaji mengambil ponsel suaminya dan membawanya turun. Karena kini, suaminya tengah ada di bawah bersama orangtuanya. Tadi, Naifa memberi saran untuk Adam meminta maaf.
"Sebaiknya, sekarang Abang minta maaf, sama Ayah dan Ibu, biar hati Abang semakin tenang dan semakin mantap untuk berubah." Begitu tutur Naifa tadi saat suaminya terlihat bingung. Namun langsung di setujui oleh Adam.
Dan Naifa yang sendirian di kamar memilih untuk Sholat Isya dan mengaji.
Kini Naifa tengah memegangi ponsel yang bergetar terus menerus, membawanya menuruni tangga. Ia celingak-celinguk mencari keberadaan Suaminya, tapi ia tak melihatnya. Sedangkan ponselnya terus saja bergetar menampilkan sebuah panggilan. Vela Memanggil....
"Non," panggil Bi Siti. Naifa menoleh. "Cari Aden?!" Naifa lantas mengangguk.
"Mari, saya anyar, ada di sana," bi Siti menunjuk ke arah taman. Naifa mengikuti langkah Bi Siti.
Begitu pintu taman di buka, nampak lah tiga manusia duduk di sana, di gazebo yang ada di pinggir taman. Dengan tiga kursi kayu yang mengelilingi meja bundar. Mata ketiga manusia di sana semuanya merah, menyiratkan kalau baru saja menangis.
Dahi Adam mengerut melihat Bi Siti dan Istrinya, lalu Adam berdiri dan Naifa mendekat. Sedangkan Bi Siti kembali ke dalam.
"Maaf, mengganggu. Ini, Bang, dari tadi bunyi terus, takutnya penting." Naifa menyodorkan ponsel suaminya.
Adam mengambil dan mengerutkan dahi, setelahnya ia malah mengantongi nya.
"Sini, Nai, duduk." Ujar Ayah yang kini berdiri.
Naifa tersenyum, "tidak perlu Ayah, silakan." Naifa menolaknya.
"Nggak penting kok." Ujar Adam.
"Lo udah shalat?!" Tanya Adam dengan pelan.
Naifa mengangguk, "sudah. Maaf tidak menunggu."
"Gue, shalat dulu kalau gitu." Pamit Adam. Naifa mengangguk mempersilakan.
"Sini, Nai." Ajak Ibu Nuri saat melihat Naifa masih saja diam di sana memperhatikan punggung suaminya yang sudah tak terlihat.
Naifa tersenyum dan menuruti ibu mertuanya itu. Duduk di kursi yang tadi di duduki suaminya.
"Bagiamana bisa, kamu membawanya ke kita secepat ini, Nak?!" Ibu Nuri menggenggam tangan Naifa di atas meja.
"Dia benar-benar kembali, menjadi Adam-ku. Kamu benar-benar sudah membawanya kembali." Ibu Nuri kembali menangis.
"Ibu, Nai tidak melakukan apapun, ini memang sudah waktunya untuk Abang kembali." Karena menurut Naifa ia tak mengatakan apapun, hanya menyuruh Suaminya untuk minta maaf saja. Dan menurutnya kalau hati Adam belum tergugah maka apa yang ia suruh jelas tak ada artinya bukan?! Jadi menurut Naifa, ini memang sudah waktunya bagi Adam berubah. Hanya saja memang saat bersama nya.
"Kamu, mau kerja Nak?!" Naifa menoleh ke Ayah Hendra, "iya, Yah. Maaf, menurut Naifa tidak seharusnya saya dan Abang masih bergantung pada Ayah dan Ibu." Jawab Naifa.
"Kamu, tidak perlu bekerja Nai, karena mulai besok, Adam akan ikut dengan Ayah, Adam ku akan mulai ke Kantor." Jelas Ibu Nuri.
Naifa tak percaya, ia membesarkan kelopak matanya menatap tak percaya pada sang Ibu mertua, namun dengan Ibu Nuri mengangguk padanya sudah cukup untuk membuatnya percaya. "Alhamdulillah," ucapnya penuh syukur menyapukan dua telapak tangan yang di satukan ke wajahnya.
"Itu, makanya, kenapa Ibu bilang seperti tadi, kamu benar-benar membawa putraku kembali." Ujar Ibu Nuri lagi.
"Apa, Abang sudah cerita semuanya Bu, Yah?!" Kedua mertuanya mengangguk. "Syukurlah," ucap Naifa.
"Ya, sudah. Sekarang, lebih baik kita istirahat, sudah malam." Pak Hendra beranjak dari duduknya dan mengajak istrinya. Naifa pun sama, ia berdiri dan menungggu kedua mertuanya agar jalan terlebih dahulu.
***
Lagi-lagi Naifa mengetuk pintu kamar yang membuat Adam gemas seketika. Ia tak menjawab justru langsung membukakan pintu untuk istri nya itu.
"Bisa, nggak?! Langsung masuk saja, nggak usah ketuk-ketuk?!" Naifa terlonjak kaget saat pintu di buka di barengi dengan kalimat ketus dari Suaminya.
"Astaghfirullah. Iya, maaf Bang," ucapnya.
"Masuk! Mau disitu aja?!" Naifa menggeleng, lalu dengan langkah pelan ia masuk. Naifa juga menoleh ke belakang, melihat suami nya itu.
"Kenapa?! Lo takut sama gue?" Tanya Adam kembali ke mode baik. Naif menggeleng, "Nai tidak pernah takut pada manusia, Bang. Nai hanya takut sama Allah," jawabnya.
"Iya, iya. Gue tahu. Bu Ustadzah." Naifa menatap Adam yang kini tengah menatapnya dengan wajah menyebalkan. "Aamiin. Abang bisa bercanda ternyata," ucap Naifa.
Adam meninggalkan Naifa dan duduk di atas ranjang, ia siap untuk merebahkan badannya. "Tunggu, Bang!"
Adam menoleh ke Naifa, "lo mau suruh gue baca doa dulu?!"
Naifa menggeleng, lalu ia berjalan mencari-cari sesuatu.
"Lo, nyari siapa?!" Adam pemasaran.
"Sapu lidi, di mana ya?!" Naifa berjalan ke setiap sudut tapi tak menemukan si sapu lidi itu.
"Buat, apa?! Mending lo tidur, dari pada pusing-pusing nyari sapu lidi." Gemas Adam pada anak kecil yang kini sudah menemukan sapu lidi kasur.
"Justru, ini supaya bisa tidur Abang, maaf Abang turun dulu," ucap nya memerintah.
Adam turun dari ranjang memperhatikan apa yang akan istri kecilnya itu lakukan.
Naifa lantas menepuk kasur dan bantal, membersihkan sembari membaca doa, "Bismika rabbi wadha’tu janbii."
Adam terpukau di sana, hal kecil yang seringkali orang-orang abaikan Naifa lakukan dengan sungguh-sungguh.
"Sudah, silakan Bang," Naifa mundur. Adam lantas membaringkan tubuhnya di sana.
"Jangan lupa, baca doa sebelum tidur." Kata Naifa.
Naifa berjalan menaruh sapu lidi, lalu kembali ke sisi ranjang dengan langkah ragu, "lo tidur saja di sini, gue nggak akan ngapa-ngapain lo, ko!" Kata Adam, ia tahu kalau istri nya pasti bingung akan tidur di mana.
Naifa lantas duduk di ranjang, "sebenarnya, Abang ngapa-ngapain, juga ... tidak apa-apa, 'kan sudah di bolehkan," ucap Naifa pelan dengan wajah menunduk.
"Lo, jangan mancing-mancing deh. Gue belum mau nyentuh anak kecil, takut ada laporan." Kata Adam. Seketika Naifa menoleh dengan bibir mengerucut. Adam tersenyum gemas.
Naifa mengembuskan nafas kasar, "mmm, Bang. Nai ngaji sebentar Abang tidak terganggu 'kan?!" Naifa buru-buru mengatakan yang lain, jangan sampai Adam kembali meledeknya.
Adam masih tersenyum, ia lantas mengangguk.
Adam tidur dengan posisi miring menghadap Naifa, mendengarkan Naifa mengaji sebelum tidur, sampai akhirnya matanya terlelap dalam alunan merdu suara ngaji sang istri yang begitu menenangkan.
***
Hai, teman-teman ... Aku ada rekomendasi bacaan bagus nih, mampir yuk ke sana. Ceritanya bagus loh 😍 ...
Terimakasih juga untuk dukungan yang sudah kalian berikan. Alurnya mode lambat yah, karena kalau buru-buru jadi aneh 🤭