Naifa

Naifa
Bab 55



Dia duduk memeluk lutut. Air mata nya mengalir. Kata talak dari suaminya masih dapat ia dengar, terngiang-ngiang di telinganya. Wajah suaminya yang penuh cinta dan air mata masih saja terbayang di matanya.


Sungguh tak pernah terbayangkan, kalau dirinya harus menjadi janda di usia muda dan di umur pernikahan yang masih bisa di bilang seumur jagung.


Ia tak perduli, pada omongan orang. Hanya saja, ia tak ingin pisah dari sang belahan jiwa. Ia ingin tetap setia menanti nya. Tapi sayang ... yang di nanti malah tidak menginginkan.


"Yah ... semoga aku sabar ya?!" Ujar Naifa di samping makam sang Ayah.


"Yah, apa Ayah bisa memaafkan suami Nai, yang ... seorang," Naifa tak sanggup melanjutkan kalimatnya.


"Hah," Naifa mengembuskan napas kasar, "Nai lupa, kalau Allaah saja Maha Pemaaf, lalu bagaimana kita yang hanya manusia biasa ya Yah?! Nai yakin sih, Ayah pasti seperti Nai, yang memaafkan kesalahan Abang. Ya 'kan Yah?!" Naifa masih berdiam di sana dengan mengatakan segalanya yang membuatnya sesak.


Pagi tadi selepas subuh, dirinya langsung ke makam sang Ayah dan sampai kini masih di sana.


"Yah, tapi Nai belum menandatangani surat itu Yah. Apa menurut Ayah aku harus menandatangani dan menyerahkan nya ke pengadilan agama Yah?!"


"Yah, bahkan Nai masih berharap ada alasan untuk Nai selalu menunggu Abang. Menunggu tanpa harus menyerahkan surat itu ke Pengadilan." Lanjut Naifa.


"Nai, masih ingin setia dan menanti Abang, Yah. Nai ingin menanti sampai nanti Abang keluar dari sana. Dan nanti kita bisa melakukan akad lagi, menyatukan kembali cinta yang terpisah sementara."


"Yah, apa menurut Ayah, niatku baik Yah?! Nai masih melihat cinta di mata Abang, yah. Beliau masih mencintaiku Yah, hanya saja memang karena dirinya harus mendekam di penjara, jadi, Abang memberi talak pada Nai. Abang tidak mau Nai sakit saat mengetahui semuanya."


"Walaupun kenyataannya, Nai tahu semuanya." Naifa tersenyum miris, hatinya benar-benar sakit saat kembali teringat perpisahan dirinya dengan Adam kemarin.


"Bukan kah, itu tandanya Abang cinta Yah, pada Nai. Karena beliau tidak ingin membuat Nai bersedih. Walaupun jujur saja, dengan menalak Nai di kondisi seperti ini justru membuat Nai lebih sedih." Ternyata Naifa masih betah berbicara.


Melupakan waktu yang hampir siang. Matahari yang sudah muncul, orang-orang yang kini sudah mulai lalu-lalang di jalan sekitar makam.


Melupakan Ibu dan dua adiknya yang menunggunya untuk sarapan.


Tak menyadari kalau ternyata di belakang nya, tak terlalu jauh ada seseorang yang memperhatikan dirinya. Dengan raut wajah sedih. Yang dulu pernah berharap akan bersama dirinya suatu saat nanti. Dan pernah mengikhlaskan dirinya saat melihat dirinya bahagia dengan suaminya.


Namun kali ini, seseorang itu harus melihat dirinya dengan sedih menceritakan segalanya pada makam Ayahnya.


Ingin rasanya seseorang itu mendekat dan memeluk erat, sayang sekali itu tidak akan ia lakukan karena tidak di bolehkan.


Naifa lantas menyusut hidung nya dan mengusap wajahnya. Sesaat setelah ia sadar kalau hari sudah terang. Sudah tak lagi gelap.


Naifa lantas berdiri dan pamit pada makam sang Ayah. Lalu ia pun pergi dari sana. Meninggalkan tempat abadi sang Ayah dan memasang wajah tersenyum agar tak kaku saat nanti berpapasan dengan orang di jalan.


Seseorang yang di sana pun turut pergi, saat melihat Naifa juga pergi dari sana.


...***...


Sesampai nya di rumah, Naifa di sambut wajah khawatir sang Ibu. Tapi, ia memberi senyum terbaiknya untuk Ibunya, sembari memberitahu kan pada Ibunya kalau dirinya baik-baik saja. Dengan sedikit tak percaya, Ibu Muni mengajak anak pertamanya masuk dan menemaninya sarapan.


"Makan yang banyak Nai, biar badan kamu sedikit berisi." Ujar Ibu sembari menaruh nasi di piring dan beberapa lauk untuk anaknya itu.


"Jangan banyak-banyak bu, Nai tidak akan bisa menghabiskan semua nya," ucap Naifa.


"Pokoknya, kamu tidak usah memikirkan banyak hal ya Nai. Jalani saja semua ini dengan ikhlas, ibu nggak mau kamu sampai sakit gara-gara banyak pikiran." Ibu Muni duduk di sebelah Naifa.


Naifa mengusap punggung tangan ibunya yang ada di atas meja, menatap wajah ibunya penuh sayang. "Naifa sudah ikhlas, bu. In Syaa Allah. Naifa serahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa, jadi, Ibu tenang saja ya ... Naifa tidak apa-apa bu, Nai baik-baik saja." Jelas Naifa pada Ibunya.


"Syukurlah Nai, Ibu begitu khawatir padamu. Ibu takut setelah kamu mengetahui segalanya kamu akan terpuruk, kamu akan menyalahkan dirimu sendiri. Karena Adam begitu juga karena dirimu, hanya saja memang, caranya untuk membalas perbuatan orang dengan cara yang salah." Ibu Muni menyesali sekali perbuatan menantu nya itu.


Seandainya saja, Adam bisa mengendalikan emosinya mungkin semua ini tidak akan terjadi. Mungkin sekarang, anaknya tidak menjadi janda di usia muda dan di usia pernikahan yang baru seumur jagung. Baru sekali, belum lama. Bahkan baru dua bulan lebih. Tapi, lagi-lagi Ibu Muni hanya bisa mengikhlaskan.


Tak bisa menolak takdir yang ada.


Naifa lantas memakan sarapan yang di siapkan oleh sang Ibu. Ditemani juga oleh sang ibu. Lalu setelah selesai, mereka berdua membereskan meja makan dan dapur. Setelahnya Ibu dan Anak itu pun sama-sama pergi ke Warung.


Ibu Muni tidak mau meninggalkan Naifa sendirian. Jujur saja Ibu Muni masih khawatir. Ibu Muni takut kalau anaknya hanya pura-pura kuat di depannya. Sedang saat sendirian Naifa lemah tak berdaya.


Ibu Muni ingin mengalihkan pikiran Naifa dari segala masalah yang tengah ia hadapi. Ibu Muni ingin selalu ada di samping putrinya itu.


Tidak akan Ibu Muni biarkan anaknya bersedih sendirian.


...***...


Di Warung keduanya sibuk, Naifa bahkan sampai lupa kalau tadi pagi ia menangis begitu lama di samping pusara sang Ayah.


Lupa kalau ia tengah merasa sakit dan dilema. Antara menandatangani surat atau membiarkan. nya begitu saja dan menunggu sampai waktunya nanti Adam kembali.


"Assalamu'alaikum, Bu ...," ucap seseorang dari depan warung.


"Wa'alaikumsallam, mau beli apa?!" Naifa yang berjarak dari duduknya dan melayani pembeli.


"Nai, kamu di sini?!" Tanya seseorang itu yang ternyata adalah Aran.


"Aran." Naifa melihat sekilas, "iya, Nai sedang bantu ibu. Mau beli apa?!"


Aran tersenyum, "ini ada catatan nya kok Nai," Aran menyodorkan secarik kertas pada Naifa. Catatan dari ibunya.


"Oh, iya. Sebentar ya ... Nai ambilkan," Naifa mengambil ujung dari kertas itu agar tak mengenai tangan Aran.


Aran pun tahu, makanya ia pun memegang ujung kertas itu juga. Aran memang selalu menghargai Naifa.


Walaupun keduanya adalah teman, namun nyatanya Naifa tidak menanyakan apapun pada Aran. Tentang kuliahnya, tentang bagaimana kehidupan di sana, karena setelah menikah Naifa benar-benar tidak lagi mengingat Aran.


Pemuda yang pernah ia kagumi.


Setelah menunggu beberapa saat, Naifa memberikan segala pesanan yang ada di kertas. Memberikannya pada Aran lengkap dengan nota nya. Seperti biasa.


Aran langsung melihat nota nya dan memberikan uang nya pada Naifa.


"Sebentar ya, Ar kembalian nya." Ujar Naifa yang lantas kembali masuk guna mengambil uang kembalian.


"Ini, terimakasih ya," Naifa menaruh kembalian di atas belanjaan yang ada di kantong kresek besar.


Aran mengangguk, "sama-sama Nai."


Aran pun berlalu dari sana dengan dua kantong belanja an yang besar. Meninggalkan Naifa yang kembali masuk ke warungnya. Menyelesaikan pekerjaannya yang tengah menghitung jumlah modal dan keuntungan.


Sedangkan Ibu Muni hanya diam memperhatikan putrinya itu. Sembari mendoakan kebaikan untuk putri-putri nya.