
Di ruang kamar yang begitu besar dua manusia paruh baya duduk dengan diam. Ayah Hendra memijit keningnya pusing, sedangkan Ibu Nuri terbengong di tempatnya duduk memandang ke satu titik. Pandangannya begitu kosong. Hatinya begitu hancur.
Kabar ini begitu membuatnya sakit. Sakit hati saat mendengar Adam meng ha mi li perempuan lain saja sudah sukses membuatnya sesak nafas, ini malah di tambah dengan yang di ha mi li adalah putri pertamanya.
Putri yang ia gadang-gadang akan bertemu dan berbahagia jika di takdir kan bertemu. Tapi, nyatanya, belum bertemu saja sudah seperti ini. Ternyata selama ini, putrinya sudah mengetahui dirinya, tapi, sayangnya putrinya tidak menyukainya. Apa ini?!
"Bagaimana semua ini bisa terjadi, Yah?!" Tanya Ibu Nuri dengan menoleh ke arah sang Suami.
Ayah menoleh dan mengedikan bahu, sungguh lelaki paruh baya itu tidak tahu. Kenapa kehidupannya bisa seperti ini.
"Lalu, kita harus apa Yah?! Ibu ingin sekali mendatangi Firda, ibu ingin bertanya kenapa ia membuat adiknya seperti ini."
"Sudah, Ayah bilang 'kan bu, kalau Firda-mu itu ingin membuat mu menangis. Dan sekarang, anak perempuan mu itu sudah sukses membuatmu menangis, bahkan tidak hanya dirimu, Ayah, Adam dan Naifa. Kita semua sukses berada di dalam tangisan ini Bu."
"Ayah tidak percaya, baru siang tadi Ayah dapat informasi dari Ardan tentang siapa yang selalu bersama Adam. Tapi, sayangnya semua sudah terlambat. Kejadian ini sudah terjadi." Sambung Ayah.
Selama ini, Ayah Hendra selalu ingin mengawasi anak nya dengan perempuan yang sudah membawanya ke dalam lembah hitam. Tapi, sayang. Ibu Nuri selalu menghalangi. Kebaikan ibu Nuri mengalahkan segalanya, membuat mereka jadi terlambat mengetahui segalanya.
Sekarang, kalau sudah seperti ini, siapa yang akan di salahkan?!
Ayah pikir teman Adam memang hanya teman biasa, karena selama di kelab orang suruhan nya selalu mengatakan kalau mereka di sana hanya sekedar minum saja, tidak ada lebih. Jadi menurut Ayah masih bisa di biarkan sampai Adam kembali dengan sendirinya. Sampai akhirnya mereka lelah dan akhirnya meminta pertolongan Naifa.
Yang sebenarnya, sudah sukses misi mereka untuk membawa Adam kembali dengan cara menikahkan dengan Naifa. Tapi ternyata, semuanya salah kaprah saat membiarkan begitu saja perempuan itu tanpa menyelidiki tentang kehidupan dan asal-usul nya.
"Seandainya saja, Ayah lebih cepat menyuruh Ardan untuk menyelidiki tentang hidup perempuan itu. Jelas semuanya tidak akan seperti ini. Ayah pasti sudah bisa membongkar segalanya sebelum ini terjadi." Ujar Ayah penuh sesal. Ayah begitu merasa telah menjadi kepala keluarga yang gagal.
Gagal dalam segalanya. Ia hanya bisa terlihat sukses dalam urusan membahagiakan istri, dalam urusan berbagi. Tapi nyatanya untuk mengurus anak yang hanya satu-satunya saja ia tak bisa. Sampai terjerumus ke dalam lembah hitam dan sekarang menjadi seperti ini.
Sampai harus meminta tolong seseorang untuk mengembalikan anaknya ke jalan yang benar.
Sekarang, apa yang akan ia lakukan?!
Kini, penyesalan tinggal lah penyesalan.
...***...
Sementara itu, di kamar lain. Lebih tepatnya di kamar Naifa dan Adam, keduanya tengah duduk di sofa. Naifa tengah mengaji dan Adam tengah mendengarkan. Naifa ingin merasa lebih tenang dan yang bisa di lakukan Naifa agar merasa tenang hanya lah mengaji.
Adam mengembuskan napas kasar. Sesekali ia memejamkan matanya sembari mendengarkan suara merdu dari sang istri.
Ia masih tak mengerti kenapa Vela bisa seperti itu padanya. Jika memang dia tahu kalau dia adalah adiknya, tentunya Vela tidak akan seperti itu bukan?!
"Shadaqallahul-'adzim," Naifa menyelesaikan ngajinya, membuat Adam menoleh ke arah Naifa.
"Sebaiknya, Abang istirahat. Tidak baik memikirkan sesuatu sampai berlebihan Bang." Naifa beranjak dari duduknya, menaruh Al-Qur'an di tempatnya.
Mata Adam mengikuti langkah ke mana Naifa pergi sampai duduk kembali di sampingnya.
"Nai, aku harus apa?! Kenapa cobaan ku segini besarnya?! Aku baru saja taubat Nai, kalau seperti ini, rasanya ak__"
"Apa, yang akan Abang katakan?!" Naifa merasa kesal. "Tidak baik berpikiran buruk Bang. Setiap orang yang berjalan menuju jalan yang baik, jelas banyak godaan nya Bang. Dan ini semua sudah ada sebelum Abang kembali ke jalan yang benar. Ini semua sudah di ciptakan Abang dari sebelum Abang berjalan bersama Nai. Jadi ... Abang harus siap dengan apa yang Abang pernah tanam dulu, inilah buah yang Abang tanam."
"Nai akan ada bersama Abang, jadi, Nai mohon ... Abang kuatkan iman Abang, jangan langsung lembek. Karena sekarang bukan hanya Abang yang butuh pegangan. Nai pun membutuhkannya Bang. Jadi, Nai mohon ... jangan lepaskan ini." Ujar Naifa dengan menggenggam tangan suaminya. "Mari kita sama-sama menguatkan, agar kita bisa melewati ini bersama-sama."
"Kenapa, kamu sebaik ini Nai?!" Adam memandang penuh cinta pada istrinya.
Naifa menggeleng tidak tahu.
...***...
Paginya, sarapan di rumah besar itu rasanya begitu hambar. Apalagi Adam. Ia bahkan rasanya tak ingin makan. Penyesalan di dadanya membuatnya merasa kalau ia tak butuh makan, ia hanya butuh penjelasan yang pasti dari Vela. Ia butuh bicara pada perempuan itu.
"Ayah, akan ke sana Dam. Apa kamu akan ikut?!" Ujar Ayah di sela-sela sarapannya.
"Iya, aku ikut Yah." Jawab Adam.
"Ibu juga ingin ikut Yah," ucap Ibu dengan wajah memelas. Dari semalam air mata ibu tak mengering, selalu saja ada yang menetes mana kala mengingat tentang dua anaknya yang hancur bersamaan.
"Tidak, usah. Ibu di rumah saja. Biar ditemani Nai." Ujar Ayah.
Naifa mengangguk.
"Tapi, Yah. Ibu ingin bertemu dengan Firda," ucap Ibu.
"Dia bukan Firda Bu, dia Vela." Jelas Adam.
"Bu, biarkan ini yang menyelesaikan Ayah dan Adam. Tolong Ibu istirahat. Jangan membuat Ayah khawatir, ok!" Ibu kalah jika sang suami sudah membujuknya dengan baik seperti itu.
Dan, setelah sarapan selesai. Adam dan Ayah segera pergi menuju rumah kontrakan Vela. Di rumah, Naifa senantiasa menemani sang ibu mertua.
Kini, keduanya duduk di taman. Naifa tak ingin Ibu mertuanya sampai sakit gara-gara masalah ini.
Entah apa yang akan mereka selesaikan dengan masalah ini, jelas jika menikahkan pun tidak akan bisa, karena mereka sedarah. Namun bagaimana jika benar bayi yang ada di kandungan Vela adalah anak dari Adam?! Bagaimana sebutan nya?!
Ibu Nuri benar-benar pusing akan ini, rasanya masalah ini begitu besar, karena jalan keluarnya begitu sulit. Bahkan tidak ada.
Naifa mengusap pelan lengan ibu mertuanya, "sabar, bu ... kita serahkan masalah ini pada Allah. Nai yakin, dari semua masalah ini, pasti akan ada hikmahnya."
Ibu Nuri tersenyum, "bagaimana bisa kamu se-tegar ini Nai?! Mungkin jika perempuan lain yang menjadi istri Adam, ia sudah pergi meninggalkan Adam. Tidak akan ada istri yang mau menemani saat suaminya membuat kesalahan yang begitu besar. Mengkhianati istrinya, seperti ini."
"Nai tidak bisa menjelaskan apa-apa, Bu ... yang jelas di sini," Naifa menunjuk dadanya "Nai mempercayai apa yang Abang katakan."
Ibu Nuri tersenyum dengan air mata yang juga keluar, lalu Ibu Nuri memeluk menantu nya itu.
"Terimakasih Nai, untuk hati mu yang begitu besar. Menerima segala kekurangan keluarga ini, kekurangan Adam." Ujar Ibu Nuri di sela-sela pelukannya.
"Manusia tidak ada yang sempurna, Bu. Kita semua punya kekurangan." Kata Naifa.