
Seminggu berlalu, Naifa dan Adam sudah kembali ke rumah nya. Dalam seminggu ini pun Vela belum di ketahui keberadaan nya. Sedangkan Ibu Nuri sudah begitu rindu pada anak pertama nya itu.
Adam juga bingung, tidak mengerti harus ke mana mencari Vela. Pasalnya dulu hanya Vela yang mengenal dirinya, sedangan Adam hanya mengenal Vela secara luar saja. Buktinya ia tidak pernah tahu kalau Vela adalah anak dari ibunya.
Selain harus mencari Vela, sebenarnya ia juga semakin khawatir akan Vela. Bukan khawatir takut Vela kenapa-napa, tapi Adam takut kalau Vela mempunyai rencana baru yang bisa menghancurkan dirinya dan rumah tangganya. Terutama Naifa, Adam takut kalau Vela sampai menyakiti Naifa.
Karena Adam yakin, orang seperti Vela tidak akan semudah itu pergi, setelah rencana pertamanya gagal. Sudah pasti Vela punya rencana lain.
Sekarang Adam yakin kalau Vela hanya ingin bersembunyi sebelum keluar lagi dengan masalah baru.
Adam mengembuskan napas kasar, ia kini tengah duduk di depan rumah. Baru saja ia selesai telponan dengan sang Ayah. Ayah Hendra mengabari dirinya kalau Ibu Nuri sudah begitu tidak sabar untuk bertemu dengan Vela.
Ibu Nuri ingin segera menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi di antara Ibu Nuri dan anak pertamanya.
Ayah Hendra bilang, kalau Ibu Nuri bahkan tidak lagi pergi ke mana-mana, hanya menunggu dan menunggu kabar dari orang suruhannya tentang keberadaan Vela.
Adam tidak habis pikir pada Ibunya. Anak pertamanya bahkan tak menginginkannya, tapi nyatanya, ibunya malah begitu ingin menemui nya.
Benar-benar hati ibu tidak ada lawan dalam hal kebaikan. Seperti apapun seorang ibu, jelas tidak ingin terpisah dan di pisahkan dari seorang anak.
Adam masih duduk di sana, menikmati embusan angin malam yang bertiup samar. Ia sungguh tak mengerti harus berbuat apa, karena pekerjaan kantornya tengah begitu banyak dan di tambah dengan Ayahnya yang menyuruh dirinya untuk mencari sendiri keberadaan kakaknya itu.
...***...
Naifa duduk di atas ranjang. Ia juga tengah berbagi kabar dengan Rara, adiknya. Rara sudah mengatakan pada Athan yang sebenarnya tanpa menyakiti perasaan Athan. Dan kata Rara, Athan bisa menerima keputusan Rara untuk tidak pacaran. Bahkan kata Rara, Athan akan menunggu sampai nanti waktu bagi mereka di pertemukan kembali dalam keadaan halal.
Naifa tersenyum, masalah adiknya selesai dengan baik. Namun ia tahu, setelah ini akan ada Sasha yang harus ia beri tahu. Apalagi Sasha adalah anak yang lebih aktif, jadi Naifa lebih harus ekstra menjaga adik bungsunya itu. Jangan sampai terjadi yang aneh-aneh, yang bisa merugikan Sasha dan keluarga.
Setelah berbagi kabar dengan Rara, Sasha dan Ibu. Naifa lantas beranjak dari duduknya mencari keberadaan suaminya.
Ini sudah larut, tidak biasanya suaminya tidak masuk-masuk. Biasanya saat ngobrol dengan Ayah tidak harus keluar, namun kali ini Suaminya keluar dari kamar. Tapi, Naifa tidak berpikir macam-macam, karena ia begitu percaya pada suaminya. Ia yakin, kalau masalah yang di bicarakan dengan sang ayah pasti sangat serius sampai harus menyingkir dari dirinya.
"Bang?!" Panggil nya pada Adam yang masih duduk di teras.
Adam menoleh dan tersenyum, Adam lantas beranjak dari duduk nya dan mendekat ke arah Naifa yang berdiri di gawang pintu.
"Ayo, masuk. Tidur, atau mau," ucap Adam di depan Naifa. Jangan lupakan alis Adam yang bergerak naik-turun.
Naifa tersenyum, "Abang, atau Nai yang mau?!"
"Dua-duanya dong, kalau aku saja kamu tidak en_"
"Abang, ih! Ngomong terus, ayo masuk." Naifa menyeret suaminya itu. Setalah Adam masuk dengan sempurna Naifa lantas menutup pintu dan menguncinya.
Adam di seret untuk masuk ke kamar, setelahnya ia mendudukkan suaminya dengan paksa si ranjang. Sedangkan dirinya malah ikut duduk di sebelah suaminya.
"Abang, ada masalah?!" Tanya Naifa.
Adam, pikir. Naifa akan menyerangnya, ternyata istrinya malah mengingatkan dirinya akan perbincangannya tadi dengan sang Ayah.
"Tidak, ada masalah lain, Nai. Hanya Vela yang belum ketemu keberadaan nya." Jawab Adam.
Naifa mengangguk, "sabar ya Bang. Semoga Mbak Vela segera bertemu dengan ibu, semua masalah selesai dan antara Ibu dan Mbak Vela tidak ada lagi salah paham."
Adam mengangguk, lantas ia menaruh ponsel nya di atas meja. Setelahnya ia menarik istrinya agar menempel pada dirinya. Memeluk erat Naifa dan ... mengajak istrinya menunaikan ibadah yang menyenangkan.
Ibadah yang hanya di lakukan oleh suami-istri.
Ibadah yang melelahkan sekaligus menyenangkan, karena harus menaiki bukit, melewati lembah dan terbang ke awang-awang. Terbang bersama sebelum akhirnya terhempas kembali ke bumi bersama-sama.
...***...
Pagi menyapa. Dua insan yang baru selesai shalat berjamaah itu lantas bangun dari tempat nya bersimpuh. Naifa melipat mukenah dan sajadahnya, rambut panjangnya tergerai indah di punggungnya.
Adam yang iseng, menyimpan jilbab sang istri di bawah bantal. Lalu ia duduk di ranjang memainkan ponsel.
"Bang?! Apa, Abang melihat jilbab Nai?!" Tanya Naifa begitu selesai melipat mukenah dan sajadah.
"Di mana ya?! Perasaan tadi Nai simpan di sini," tunjuk nya pada ujung ranjang. "Apa ... Nai ke Tukang bubur seperti ini saja ya?!" gumam nya.
Adam melebarkan matanya, "apaan!" Lalu Adam menarik tangan istrinya pelan, memeluknya dan membawanya ke atas ranjang.
"Ah, ampun Bang ...," ucap Naifa sembari tertawa.
Tangan Adam yang gemas menggelitik perut Naifa, sampai Naifa tertawa lepas. Sampai perutnya terasa kaku, "aw!"
Adam berhenti menggelitik Istrinya, "kenapa Nai?!" Tanya Adam khawatir.
"Perut Nai, kaku Bang." Ujar Naifa.
Adam lantas duduk dan mengusap perut istrinya yang memang terasa keras di bagian bawah, "apa sakit. Ya...ampun, maaf Nai," ucap Adam penuh sesal.
"Sebentar, aku ambil minyak kayu putih." Adam beranjak mengambil minyak kayu putih yang biasanya tersimpan di atas meja bersama degan bedak tabur milik Naifa.
Adan kembali ke ranjang, menyibak gamis Naifa dan mengusap perut istrinya itu.
"Masih, sakit?!" Tanya Adam.
Naifa tersenyum dan menggeleng, "sudah tidak Bang, hanya seperti kram saja kok." Ujar Naifa.
Naifa mengulurkan tangannya agar di tarik oleh Adam, ia ingin duduk. Adam menarik nya pelan, setelah istrinya duduk dengan sempurna Adam lantas memeluk dan mencium puncak kepala Naifa. "Maaf, ya ... lagian kamu sih, masak keluar mau seperti ini, 'kan aku nggak rela ini semua terlihat oleh orang lain." Adam mengurai pelukannya dan merapikan rambut Naifa.
"Tidak, akan Abang. Nai tidak akan membiarkannya terlihat." Kata Naifa.
Lalu setelahnya Adam memakaikan jilbab Naifa, mengajaknya keluar ke tempat Tukang bubur mangkal biasanya.
Berjalan beriringan, bergandengan tangan. Menikmati indahnya suasana pagi di sana.
Setelah mendapatkan bubur, keduanya pulang dan memakannya. Seperti biasa, satu porsi berdua dalam satu sendok yang sama.
Begitu selesai, Adam siap-siap pergi ke Kantor, di bantu oleh istri kecilnya.
"Aku, berangkat ya Nai." Pamit Adam di depan rumah.
Naifa mengangguk, "iya, Abang. Hati-hati ya ...."
Naifa lantas mencium tangan suaminya dengan takzim, Adam pun lantas mengecup mesra kening sang istri.
"Assalamu'alaikum," ucap Adam setelah masuk ke dalam mobil.
"Wa'alaikumsallam." Jawaban Naifa masih terdengar saat Adam akan menjalankan mobilnya.
Mobil Adam melaju meninggalkan pelataran rumahnya. Meninggalkan istrinya di depan rumah dengan senyum manis seperti biasanya.
Adam sampai senyum-senyum sendiri, ah ... rasanya ia tak ingin meninggalkan berliannya itu barang sejenak saja.
Mobil yang Adam kendarai harus berhenti di lampu merah. Ia mencari keberadaan ponselnya. Siapa tahu sudah ada kabar dari orang suruhan ayahnya.
"Ya, ampun ketinggalan." Gumam nya pelan.
Untungnya mobil belum terlalu jauh, Adam pun memutuskan untuk putar balik, lumayan sekalian melihat kembali senyuman indah milik sang istri.
Dahinya berkerut saat memasuki pelataran rumahnya. Tumben masih terbuka pintu nya.
Adam turun dari mobil, seketika ia melebarkan matanya saat mendengar suara dari dalam rumah. Seperti suara tangisan dari istrinya.
"Naifa!" Kata nya setengah berteriak. Ia lantas berlari masuk ke dalam dan mendapati istrinya di sana. Di kamar yang terbuka lebar.
"Naifa!!" Teriak nya.
"Bre ng s ek!!!" Teriak Adam penuh emosi.