Naifa

Naifa
Bab 33



Naifa memperhatikan tamu yang datang, dalam benaknya merasa pernah melihat orang yang kini berdiri di hadapan nya.


Begitu juga Adam yang keheranan akan kedatangan seseorang itu.


"Lo," ucap Adam setelah seseorang itu mendekat dengan senyum yang lebar menampakkan barisan giginya yang putih dan rapi.


"Hai, lo apa kabar?!"


"Tamu, Abang ya ... mari, silakan masuk," ucap Naifa sopan. Ia mengingat wanita itu sekarang. Ia pernah melihat wanita itu dengan suaminya di depan bangunan yang menurut Naifa adalah hotel. Wanita yang dulu memakai hotpants dan kaos ketat yang ia lihat di rangkul oleh suaminya.


"Lo, istrinya Adam?!" Tanya perempuan itu, memperhatikan Naifa dari atas sampai bawah dengan pandangan jijik. Naifa lantas mengangguk.


Adam mengembuskan nafas kasar, entah kenapa ia merasa tak suka kedatangan tamu seperti Vela. Ya, yang datang adalah Vela. Walaupun ia memang berniat ingin menemui, namun untuk di datangi rasanya ia malas sekali.


"Abang, tamunya di ajak masuk," ucap Naifa menyuruh Adam.


"Hm," Adam memutar tumitnya dan masuk kembali, lalu duduk di sofa tanpa memperdulikan Vela yang kini juga sudah duduk di sana, setalah di persilahkan masuk oleh Naifa.


"Sebentar, Nai, Ambilkan minum," ucap Nai yang lantas masuk ke dalam.


Sementara itu, Vela tersenyum sinis memandangi Adam dengan rambut basahnya.


"Lo, udah jadi orang bener sekarang?! Sampai lupa lo sama gue?!" Ujar Vela setelah Naifa pergi.


Adam kembali mengembuskan nafas kasar, "iya. Gue udah taubat."


"Ppfft hahaha, apa lo bilang?! tobat?" Vela geleng-geleng kepala dengan jawaban Adam. "Adam, Adam. Gue nggak ngerti sama lo, lo itu nggak pernah berubah ya ... tetep to lo l!"


Adam membesarkan kelopak matanya kesal. "Sorry Vel, lo jangan bikin gue kesel. Kalau lo memang mau bikin mood gue jelek, mending lo pulang."


"Ok, ok! Terserah lo, lah." Vela mengalah. "Gue, ke sini cuma mau tahu kabar lo kok. Lama aja lo nggak datangin gue," ucap Vela.


"Iya. Tadinya gue juga mau ketemu lo, gue mau bilang kalau gue sudah seperti ini, sayangannya gue sibuk banget," ucap Adam menatap Vela.


"Ya, sudahlah. Gue sih seneng-seneng aja lo kayak gini. Cuma gue berharap, kalau udah kayak gini lo nggak balik lagi ke sana karena mengetahui sesuatu." Ujar Vela.


"Maksud lo, apa?!"


"Nggak ada maksud apa-apa, lah." Keduanya lantas diam.


Sampai Naifa datang dengan dua cangkir teh hangat dan menaruhnya masing-masing di depan Adam dan Vela. "Silakan, Mbak. Bang." Naifa lantas ikut duduk di sebelah Adam.


Vela tersenyum sinis pada Naifa, ia memandangi apa yang Naifa pakai. Baju longgar panjang, dengan jilbab yang sama panjangnya.


"Gimana kehidupan lo, gue lupa nggak ninggalin kartu gue waktu itu." Ujar Adam setelah beberapa lama hening mengambil alih.


"Lo pikir gue nggak bisa hidup tanpa kartu lo, si al an!" Vela tersenyum.


"Ya, karena yang gue tahu selama ini_"


"Gue numpang, di hidup lo." Vela buru-buru memotong kalimat Adam.


Naifa bingung dengan apa yang di bicarakan keduanya. Namun yang Naifa yakin, kalau keduanya memang sudah begitu akrab.


"Gue, ke sini mau kasih kabar ini," Vela mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Lalu menyodorkan nya di meja. Sebuah benda kecil dengan warna putih biru.


"Apa, tuh?!" Adam bertanya tanpa mengambil benda kecil tersebut.


"Alhamdulillah, Mbak hamil." Ujar Naifa.


Adam membesarkan kelopak matanya. "Maksud lo apa?! Lo ngasih tahu kehamilan lo sama gue?!"


Adam sudah ketar-ketir. Tidak. Ini tidak mungkin. Ia belum cerita pada Naifa dan sekarang Vela hamil?! Anaknya kah?! Tidak. Adam tidak percaya ini terjadi.


"Lo, nggak ngerti?! Apa pura-pura nggak ngerti?!" Vela tersenyum smirk.


"Selamat, ya Mbak. Sudah berapa bulan?!" Tanya Naifa masih tak mengerti maksud dari Vela memberi tahukan kehamilannya.


"Sebulan."


Deg. Jantung Adam seolah berhenti berdetak. Saat ini juga ingatan nya kembali ke kejadian saat pagi ia bangun dengan tu buh polos dengan Vela yang sama-sama polos di sebelahnya. Di saat hari pertama nya menikahi Naifa dan meninggalkan istrinya itu. Kini, apa yang akan ia katakan pada istrinya itu.


Adam menelan ludah kasar, ia tak tahu harus apa. Sementara itu Naifa malah terlihat tersenyum lebar, seolah ikut bahagia mendengar kabar bahwa teman dari suaminya itu hamil.


"Lo, jangan main-main Vel!" Geram Adam.


"Kok, main-main sih Dam. Lo pikir apa?! Gue nipu lo, gitu?!" Vela menegakan duduknya.


"Oh, iya. Siapa nama lo?!" Tanya Vela yang kini menatap Naifa.


"Saya, Naifa Mbak." Jelas Naifa tersenyum.


"Ah, ya. Naifa, ini adal_"


"Cukup Vel!!" Adam berdiri dengan emosinya memberhentikan apa yang akan di ucapkan oleh Vela.


"Lo, kenapa?! Santai saja. Kenapa?! Istri lo belum tahu?!" Vela semakin suka seperti ini. Kedatangannya ke rumah Adam memang untuk ini. Mendatangkan masalah di antara keduanya.


Naifa lantas bingung dengan suami dan tamu nya itu. Ia hanya diam menatap Adam yang tengah berdiri dengan kesal dan tamu nya yang biasa-biasa saja. Santai seperti di pantai.


"Ada, apa Bang?! Kenapa Abang sampai marah seperti ini. Tidak boleh memperlakukan tamu dengan tidak baik Bang, kita harus memperlakukan tamu dengan baik." Ucap Naifa yang kini berdiri dan memberitahu suaminya.


"Sekarang lo balik, Vel. Gue nanti dateng ke tempat lo. Kita bicarakan di sana." Ujar Adam dengan dada yang bergemuruh kesal.


"Oh, lo ngusir gue?! Ok." Vela berdiri dan pergi dari sana.


Adam duduk dengan kasar. Sementara Naifa mengantar kepergian Vela dengan hati yang tidak enak.


"Maaf, ya Mbak Vela, atas sikap Abang," ucap naifa pada Vela yang kini sudah keluar dari pintu.


Vela tersenyum mendengar apa yang di katakan istri Adam itu, ia lantas memutar badan menghadap Naifa. Ia tersenyum sinis lalu mendekat ke arah telinga Naifa. "Gue, hamil anak dari Adam."


Vela membisikan tepat di telinga Naifa. Membuat Naifa terdiam di tempatnya. Matanya berkaca-kaca, tapi sedetik kemudian ia tersenyum dan mengusap air matanya.


"Maaf, kalau gitu. Nanti, Nai suruh Abang untuk menyelesaikan masalah kalian dengan baik."


Vela pergi dari sana. Meninggalkan Naifa dengan hati yang sakit. Benarkah?!


Naifa menelan ludahnya dengan kasar, menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskan nya secara perlahan. "Astaghfirullah hal adzim," Naifa mengucap istighfar berkali-kali sebelum masuk kembali ke dalam rumah.


Ia mencoba menenangkan diri sendiri sebelum mulai berbicara dengan suaminya.