
Rasanya Ibu Muni bahagia sekali, melihat tiga putrinya dan seorang menantu yang kini benar-benar baik berada dalam satu meja makan bersama dengannya. Makan malam kali ini jadi lebih terasa nikmat. Apalagi saat melihat bolak-balik Adam mengerling ke arah Naifa.
Rasanya Ibu jadi mengingat masa-masa muda dulu, walaupun dalam kesederhanaan tapi cinta suaminya mampu membawa bahagia padanya sampai di karuniai tiga putri yang sangat baik.
Rara dan Sasha pun turut larut dalam bahagia ini, Sasha sampai bolak-balik bertanya pada Adam pasal tatto yang ada di tangan nya. Awalnya Naifa dan yang lain takut kalau Adam akan marah. Tapi, ternyata Adam malah menjawab dengan ekspresi biasa saja. Tidak marah sama sekali.
"Apa, sakit Kak?! Waktu di pasang tatto?!" Begitu pertanyaan Sasha.
"Sakit lah Sha, jadi jangan pernah coba-coba." Jawab Adam.
"Kenapa Kakak coba kalau memang sakit?!" Sasha memang paling cerewet.
"Ya, karena Kakak pikir nggak sakit. Tapi ternyata sakit. Akhirnya nggak selesai deh." Ujar Adam sembari menunjuk tatto yang huruf nya tidak jelas, Sasha tidak bisa membacanya.
"Tapi, bisa di buang 'kan ya Kak?!" Tanya Rara.
Adam mengangguk, "bisa. Kakak juga berniat untuk membuangnya. Tapi, nanti kalau sudah ada waktu." Jelas Adam. "Biar lebih sempurna lagi dalam beribadah," Gumam Adam yang masih bisa di dengar oleh Naifa dan Ibu yang ada di sebelah nya.
Naifa menoleh ke arah Adam, lantas tersenyum. Adam pun balas tersenyum dengan lebar pada Istrinya itu. Sedikit mencondongkan tubuhnya dan berbisik, "pengin makan sepiring berdua." Ucap Adam yang sukses membuat Naifa tersenyum malu-malu.
Ibu Muni yang melihat itu melebarkan senyumnya, "sudah. Selesaikan makan kalian, jangan ngobrol terus-menerus, nanti nasi nya keburu ada yang ikut makan." Ujar Ibu.
"Ih, ibu. Kalau ngomong suka gitu." Rajuk Sasha sambil mengerucutkan bibirnya.
Membuat semua orang tersenyum karena tingkahnya.
...***...
Setelah selesai makan, kini ke tiga perempuan muda tengah membereskan meja makan dan dapur. Sedang ibu dan Adam tengah duduk di ruang tamu.
Tadi Ibu tengah duduk di sana setelah selesai makan. Ibu pikir Adam akan menunggu istrinya yang tengah bersih-bersih meja makan dan dapur, ternyata menantunya itu malah ikut duduk di sofa ruang tamu dengan dirinya.
Adam ingin ngobrol sebentar, mencari tahu cerita tentang istrinya. Entah kenapa tiba-tiba ia begitu penasaran pada masa kecil istrinya.
"Maaf, ya, Bu. Kemarin waktu ibu dan Sasha main ke rumah, Aku tidak bisa menemui ibu, pekerjaan sedang banyak kemarin." Kata Adam begitu duduk di sofa yang menghadap Ibu mertuanya.
"Tidak, apa-apa, Nak Adam. Ibu malah jadi sungkan jika Nak Adam meninggalkan pekerjaan hanya karena ibu yang ingin main, 'kan kedatangan ibu hanya untuk main, tidak terlalu penting. Sedangkan kerja, jauh lebih penting. Berurusan dengan banyak orang." Ujar Ibu Muni.
"Iya, tapi kalau bisa di handle orang lain, jelas aku lebih milih bersama keluarga bu." Kata Adam lagi.
Ibu Muni mengangguk. "Bagaimana sekarang, keadaan Ibu Nuri?! Kemarin Nai bilang sedang tidak enak badan?"
"Sudah lebih baik bu," entah benar entah tidak jawaban Adam. Yang jelas memang keadaan ibunya baik-baik saja bukan?! Hanya saja hatinya yang tidak baik-baik saja karena terlalu merindukan anak pertamanya.
"Terimakasih, ya bu ... Untuk ke-rela an Ibu, merestui pernikahan ku dengan Naifa. Mempercayakan Naifa pada ku, pria yang_"
"Tidak perlu memikirkan yang lalu, Nak Adam. Kita jalani saja yang sekarang. Ibu percaya jodoh tidak akan salah," Ibu Muni memotong kalimat yang akan di ucapkan menantunya itu.
Adam tersenyum mendengar jawaban dari ibu mertuanya. Kini Adam paham, dari mana sifat baik Naifa-Istrinya itu.
"Bu, boleh ceritakan sedikit, bagiamana Naifa waktu kecil?! Aku begitu penasaran," ucap Adam.
Ya Adam memang benar-benar penasaran, apakah Istrinya itu waktu kecil sama seperti anak lain, ataukah sudah punya pemikiran dewasa seperti sekarang dari lahir.
Ibu Muni tersenyum, ia menerawang jauh. Mengingat masa-masa kecil anak nya.
"Sampai membuat dua adiknya, mengikuti jejak nya. Menyisihkan uang sakunya untuk kebutuhan mereka. Nai, itu contoh yang baik untuk adik-adiknya." Sambung ibu.
"Tentunya, karena didikan yang baik dari ibu. Sampai kami bisa seperti ini bu," ucap Naifa yang ditemani dua adiknya keluar ke arah ruang tamu.
Adam dan ibu menoleh. "Nai?!" Panggil Adam.
Naifa mendekat dan duduk di sebelah suaminya. Sedangkan dua adiknya duduk mengapit ibu mereka.
"Benar, apa yang di katakan Ibu Kak. Di antara kita bertiga, memang Kak Nai lah yang paling baik. Kakak, biar aku ceritakan cerita lucu. Kalau ibu yang cerita jelas cerita yang sedih-sedih saja." Ujar Sasha pada Adam.
"Kamu, mau ceritakan apa Sha?! Jangan yang aneh-aneh." Naifa mengingat kan adiknya.
"Memangnya, kamu punya cerita aneh waktu kecil. Aku pikir kamu sudah dewasa dari kecil Nai," ucap Adam yang ada di sebelahnya.
Naifa tersenyum, "Nai 'kan juga pernah kecil, Abang. Masak langsung punya pikiran dewasa," ucapnya pura-pura kesal.
"Udah. Diam. Nih yaaa ... semuanya dengar. Jadi, waktu itu, rambut kita bertiga 'kan panjang," ucap Sasha.
Ibu dan Rara tersenyum, sedangakan Naifa menampakan wajah memelas. Seolah itu adalah sebuah aib jika di ceritakan.
"Terus, di suruh sama Ibu untuk potong rambut. Jadilah, kita pergi ke salon_"
"Bukan salon Sha, tapi pangkas rambut." Ralat Rara.
"Iya, pangkas rambut. Jadi, yang antre tuh banyak. Dari perempuan sampai laki-laki, lah terus giliran dong, waktu itu giliran Kak Nai, tapi, berhubung banyak pria, jadi Kak Nai nggak jadi potong. Tapi dia tuh nggak bisa ngomong, malu. Akhirnya dia cuma bisa nangis. Kita semua, orang yang ada di sana bingung dong, belum di potong rambutnya sudah nangis."
"Sudah, Sha." Ujar Naifa memotong cerita Sasha.
"Lanjut, Sha. Kakak masih penasaran." Perintah Adam.
Sedangkan Rara dan Ibu kini sudah tertawa. Mengingat kejadian lucu waktu itu.
"Nah, akhirnya kita bertiga nggak jadi potong, terus pulang. Nah, sampai di rumah Kakak masih nangis dong, sampai bikin Ibu bingung. Terus pas udah nggak nangis lagi, di tanya benar-benar kenapa?! Ternyata karena banyak laki-laki yang antre jadi kakak nggak mau buka jilbab. Ibu sampai sakit perut pas saat itu Kak Nai cerita alasannya." Ujar Sasa menyelesaikan cerita nya.
"Benar Nai?!" Tanya Adam sembari menahan tawa. Naifa mengangguk.
"Hahaha, aku pikir kamu tuh paling bisa ngomong dari kecil. Ternyata kamu juga pernah nggak bisa ngomong terus nangis, haha. Padahal tinggal bilang Nai, nggak jadi potong, gitu. Hahaha," Adam tertawa membayangkan kejadian di mana istrinya nangis hanya karena takut aurat nya terlihat.
"Memangnya usia berapa waktu itu, Sha?!" Tanya Adam masih penasaran.
"Udah gede, kalau nggak salah Kak Nai udah kelas satu SMP ya Kak?!" Tanya Sasha pada Kakaknya yang kini tengah tertunduk malu.
"Kemaren dong?!" Tanya Adam lagi.
Sasha mengangguk antusias. Jangan lupakan bibir nya yang merasa puas melihat Kakaknya duduk diam malu pada suaminya.
Naifa malu, tapi justru Adam malah bangga pada istrinya itu. Sudah sedari kecil bahkan Naifa sudah menutup auratnya. Jika di ingat kembali, Ada memang tidak pernah melihat Naifa kecil dengan rambutnya, selalu saja dengan jilbabnya.
Adam benar-benar bersyukur berada di tengah-tengah keluarga yang sebegitu baiknya. Mau menerima dirinya yang bukan orang baik-baik.
Keriuhan malam ini begitu hangat. Bahkan Ibu Muni sampai tertawa lebar. Kebahagiaan ini lah yang selalu ada di dalam doa Ibu tiga anak itu.
Semoga, bahagia selalu melengkapi kehidupan kalian, sabar berada di hati kalian dan selalu dalam lindungan Allah Ta'ala ... Doa ibu dalam hatinya sembari menatap bahagia biasa tiga putrinya yang kini tengah tertawa dengan menantunya.