Naifa

Naifa
Bab 48



Rumah Ibu Muni.


Pagi ini Rara dan Sasha tiba-tiba panas, mereka berdua akhirnya izin tidak berangkat sekolah. Rara merasa tubuhnya lemas, begitu juga Sasha. Sedangkan Ibu Muni, merasa takut. Entah apa yang Ibu Muni takutkan, yang jelas yang ada di pikirannya saat ini adalah putri pertamanya.


Tapi, karena kedua putrinya yang ada di rumah pun tengah sakit, jadi Ibu Muni hanya merasakannya tanpa memberitahu kan nya pada dua putri nya yang tengah berbaring di kamar Naifa.


Entah kenapa juga, tiba-tiba Rara dan Sasha minta untuk berbaring di ranjang Naifa. Mereka berdua juga sama-sama merasakan perasaan aneh, namun karena badan mereka panas, jadi, mereka pikir perasaan itu timbul karena efek dari badannya yang panas.


Ibu Muni membuat kan bubur untuk ke dua putrinya. Setalah matang ia berniat membawanya ke kamar di mana ada kedua putrinya, mumpung masih hangat, begitu pikir Ibu Nuni. Namun saat mengambil nampan yang berisi bubur tersebut, tiba-tiba tanpa di sengaja siku nya menyenggol gelas yang tadi ia pakai untuk minum dan seketika....


Prang!!


Gelas pun pecah. Ibu Muni beri-istigfar kaget, lantas kembali menaruh nampan yang berisi dua mangkuk bubur ke atas meja.


Ibu Muni mengusap dadanya, dadanya berdebar kencang. Rasa takutnya semakin menjadi.


Pikirannya tertuju pada anak pertamanya. Tapi, jika mengatakannya pada kedua putrinya yang lain, ibu takut kalau anaknya merasa pilih kasih. Karena kedua anaknya tengah sakit, sedang anak nya yang lain tengah bersama suaminya, jadi ibu lebih memilih untuk diam.


Begitu lah Ibu Muni menjaga perasaan anak-anaknya.


...***...


Rumah Sakit.


Perlahan kelopak mata Naifa mengerjap, lantas terbuka. Silau yang pertama di rasa kan oleh Naifa. Lantas bau-bau rumah sakit menusuk indra penciumannya. Naifa mengedarkan pandangan, yang pertama ia lihat adalah Ibu Nuri yang tertunduk di samping.


Seketika matanya berembun, setelahnya kristal bening pun keluar tatkala mengingat kembali kejadian tadi. "Yaa Allaah ... Ampuni hamba," ucap nya dalam hati, bersamaan dengan air mata yang semakin deras.


Hatinya begitu hancur.


Kenapa?! Kenapa orang sebaik Naifa ada yang berniat jahat padanya?! Jawabannya. Karena sebaik apapun kita, semua orang tidak akan suka. Hanya segelintir saja yang benar-benar menyukai kita, sikap kita, dan ... keadaan kita.


Dadanya kembali sesak, rasanya ia ingin mandi dan sholat taubat. Rasanya dia begitu ingin bangun, namun saat ia mencoba untuk duduk kepalanya tiba-tiba pusing, akhirnya Naifa tak jadi membawa tubuhnya untuk bangun.


Ibu Nuri yang merasa ada pergerakan lantas tersadar dari tidurnya, "Nai, kamu sudah sadar Nak?!" Ibu Nuri lantas bangun dan mengusap pipi menantunya.


Naifa tersenyum, namun tak bisa membendung air matanya ia justru terisak, menangis di dalam pelukan sang Ibu Mertua.


"Kenapa, Nak?!" Tanya Ibu Nuri mendekap menantunya itu.


Naifa bahkan tak mampu berucap, ia hanya bisa menangis saja.


"Tenang, ya Nak. Ada ibu di sini, nanti bicarakan sama ibu ya, siapa yang membuat kamu seperti ini." Ujar Ibu Nuri yang turut menangis karena Naifa yang menangis di pelukannya.


Kedua perempuan berbeda usia itu menangis. Ibu Nuri walaupun belum tahu duduk permasalahannya, namun ia yakin kalau yang membuat menantunya sampai seperti ini bukan lah Adam. Lantas siapa?! Hati Ibu Nuri masih bertanya-tanya.


Sedangkan Adam dan Ayah Hendra, sejak kepergian mereka sampai sekarang belum juga kembali. Entah lantas pergi ke mana, Ibu Nuri tak tahu. Karena tadi, saat Ibu Nuri mencoba mencari di depan ruangan Naifa, namun nyatanya keduanya tak terlihat. Di telpon pun tidak ada yang menjawab.


...***...


Setalah tenang, Naifa di bantu Ibu Nuri membersihkan badan, Entah kenapa Naifa begitu ingin membersihkan segalanya. Walaupun kejadian menjijikan itu tidak terjadi, tapi, rasanya Naifa begitu aneh.


Setalah mandi dan wudhu, Naifa lantas sholat sunah taubat dua rakaat.


Ibu Nuri hanya bisa melihat menantunya itu dengan diam di sofa yang ada di sana. Sementara Naifa shalat seperti biasa, ia meminta suster melepas infusnya agar memudahkan dirinya untuk bergerak.


Lagi pun kini dirinya sudah sedikit kuat untuk berdiri, walaupun jujur sana ia masih merasa ketakutan apalagi saat bayang-bayang dua pria gi la yang seolah kembali ke hadapannya.


Selesai shalat Naifa ber-do'a dengan air mata yang kembali mengalir. Rasanya mulutnya tak mampu berucap, bibirnya tertutup rapat hanya mata nya yang terus saja mengeluarkan air. Tak mampu lagi rasanya Naifa mengatakan apapun, hatinya masih takut dan merasa sakit akan kejadian yang sama sekali tidak ia inginkan.


Sementara itu, pintu kamar perawatan Naifa di buka dari luar dengan pelan. Munculah wajah sendu milik Ayah dan Adam.


Keduanya masuk dengan diam setelah Ibu Nuri menempelkan telunjuknya di antara hidung dan mulut. Lalu, Adam dan Ayah Hendra duduk di sofa, di samping Ibu Muni.


"Naifa, baik-baik saja 'kan Bu?!" Tanya Adam khawatir.


Ibu Nuri lantas mengangguk, "apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya balik Ibu Nuri.


Adam menelan ludahnya kasar, "nanti biar Ayah yang cerita di rumah Bu. Nanti juga, Aku mau bawa Naifa pulang ke rumah." Ujar Adam.


Ibu Muni mengangguk. Walaupun rasa penasaran nya semakin menjadi.


Naifa lantas kembali bersujud dengan air mata yang tentunya tidak ada habisnya. Adam yang melihat itu lantas mendekat dan memeluk erat istri kecilnya. Naifa yang merasa ada orang yang memeluk lalu duduk dan melihat. "Abang?!" Panggilnya.


"Iya, Nai. Kamu sudah tidak apa-apa 'kan?!" Tanya balik Adam.


Naifa menggeleng namun air mata tetap saja mengalir. Adam lantas mengusap air mata istrinya itu, mengusap pelan pipi Naifa.


"Apa, ini sakit?!" Tanya Adam.


Naifa menggeleng.


"Nai mau pulang, Bang!" Ujar Naifa.


"Iya, kita pulang. Pulang ke rumah Ibu mau?!" Tanya Adam. Naifa lantas mengangguk.


Adam lalu memeluk istrinya itu. Menciumi puncak kepala istrinya itu, tak perduli pada dua manusia paruh baya yang duduk di sofa.


Dan benar saja, apa yang di katakan Adam. Naifa di bawa pulang ke rumah Ibu. Tapi, bukan ibu Nuri. Melainkan Ibu Muni. Naifa sebenarnya sedikit heran karena ia justru di bawa ke rumah ibunya, ia pikir ia akan di bawa pulang ke rumah Ibu Nuri.


Tapi, ia merasa sedikit lega juga, karena dengan bersama ibunya ia lebih merasa nyaman. Karena jujur saja saat ini Naifa ingin sekali memeluk ibunya.


Begitu sampai Naifa di ajak turun oleh Adam. Sedangkan Ibu Nuri dan Ayah Hendra langsung pulang, tak turut mengantarkan Naifa ke rumahnya. Mereka berdua langsung pulang dari Rumah Sakit saat Naifa sudah di bolehkan untuk pulang.