Naifa

Naifa
Bab 23



Rumah Ibu Muni.


Setelah Maghrib bertiga, kini, Ibu Muni mengajak kedua anaknya untuk makan. Kebiasaan mereka memang selalu makan malam setelah shalat Maghrib. Kemarin-kemarin, sebelum Naifa pindah ke rumah suaminya mereka bertiga akan menunggu Naifa mengaji sebentar, lalu baru mereka makan. Kini, di rumah itu hanya akan ada suara ngaji dari Ibu Muni saat malam saja, sedangkan Rara dan Sasha hanya saat di masjid saja. Maklum dua anak itu masih harus belajar setelah shalat Isya.


Rara dan Sasha sudah duduk di kursi makan, sedangkan ibu Muni tengah mengambil sop yang masih ada di panci. Tak lama setelahnya Ibu Muni menyajikan sop ayam di meja makan, yang sudah di tempatkan di wadah.


"Ibu masak sop ayam?" Tanya Sasha begitu ibu Muni menaruh nya.


"Iya, Sha. Entah kenapa ibu lagi pengin masak sop ayam kesukaan Kakak kalian." Ibu Muni mengembuskan nafas kasar. Walaupun belum terlalu lama di tinggalkan putri pertamanya itu, tapi, rasa rindu seorang ibu pada putrinya begitu dalam. Setiap malam bahkan Ibu Muni selalu mengaji di kamar Naifa. Dan menghabiskan tengah malam sampai paginya di kamar Naifa.


Rara mengangguk, "itu karena, ibu rindu sama Kakak bu. Bahkan aku juga rindu sekali sama Kak Nai. Tapi seperti yang ibu bilang, kalau kita tidak boleh terlalu sering menanyakan kabar, takut kalau Kak Nai tahu, kalau kita sangat mengkhawatirkan dirinya."


Ibu Muni mengangguk, "Ibu sangat berharap, makan malam Kakak mu malam ini menu nya adalah sop ayam dan yang anak ibu rasakan adalah masakan ibunya, bukan masakan dirinya." Ujar Ibu Muni, Ibu Muni tak tahu kalau malam ini Naifa sedang ada di rumah mertuanya.


"Tapi, masakan Ibu sama Kakak 'kan sama Bu, sama-sama enak." Ujar Sasha.


"Ya, kamu benar Sha. Ya sudah, ayo kita makan, jangan lupa ber-do'a, bersyukur kepada Allah kita masih dapat berkumpul dalam keadaan sehat dan di beri nikmat berupa kesehatan, juga makanan yang enak." Ibu Muni lantas duduk di kursinya.


Sedangkan Rara berdiri dan mengambilkan nasi untuk ibu dan adiknya juga untuk dirinya. Setelah ber-do'a, ketiganya makan dengan hening. Hanya ada dentingan sendok yang beradu dengan piring.


Selesai makan ketiga perempuan itu lanjut membereskan piring dan sisa masakan yang ada.


"Bu!" Panggil Sasha yang kini tengah mengelap meja.


Ibu yang tengah memasukan sisa masakan ke wadah menoleh ke arah putrinya, yang kini masih mengelap meja di sebelahnya.


"Kalau, ibu rindu Kakak. Kenapa nggak Ibu suruh saja Kakak ke sini?!" Sasha memperhatikan ibunya yang sudah kembali memasukan makanan ke wadah.


Setelah menutup sempurna wadah kedap udara, Ibu lantas menaruh piring dan mangkuk kotor ke depan Rara yang tengah mencuci piring. Lalu Ibu kembali ke sebelah Sasha.


"Anak perempuan, itu Sha. Setelah menikah, dia jadi milik suaminya. Kalau kembali ke rumah orangtuanya pun harus izin ke suaminya, jika di bolehkan ya bersyukurlah. Tapi jika tidak di bolehkan maka anak yang sudah menjadi istri itu harus menurut, juga sang ibu yang harus ikhlas." Jelas Ibu Muni pada putri bungsunya itu. Lantas Ibu berlalu ke depan kulkas untuk menaruh makanan yang masih bisa di makan, untuk besok pagi.


Sasha mengangguk tak bertanya lagi. Sedangkan Rara yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya.


"Jadi, nanti, kalau kita berdua sudah menikah juga, ibu bakalan kesepian di rumah sendiri." Ujar Sasha lagi. Rupanya gadis itu masih penasaran.


Ibu Muni tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban. Sasha mengembuskan nafas kasar, "kalau gitu biarkan Sasha tidak menikah Bu, biar bisa menemani Ibu selamanya."


"Hahaha, ya nggak gitu juga Sha!" Rara yang sudah selesai mencuci semua peralatan mendekat ke adiknya. "Yang penting, kamu berjodoh dengan orang yang baik. Yang akan menerima kekurangan keluarga kita, seadanya kita. Tidak hanya menerima dirimu saja. Iya 'kan Bu?!" Rara meminta persetujuan ibunya.


Ibu mengangguk, lalu berdiri di tengah-tengah sang putri dan merangkulnya. "Ibu selalu ber-do'a, untuk kalian. Kalian bertiga," Ibu Muni menerawang mengingat anak pertamanya. "Agar kalian mendapatkan jodoh yang baik, yang selalu menyayangi kalian, bisa menuntun kalian menuju jalan ke surga-'Nya." Ibu Muni meneteskan air mata, ia mengingat Naifa dan suaminya yang ... entahlah Ibu Muni tak bisa menilai bagiamana menantunya itu.


Rara dan Sasha mengangguk, "aamiin." Keduanya lantas memeluk ibu mereka itu. Karena ternyata Rara pun sama, ia mengingat bagaimana kehidupan rumah tangga kakak nya yang beberapa hari ini tak ia ketahui kabarnya. Bukan tak ingin menanyakan hanya saja, ia memang sedikit sibuk akhir-akhir ini. Bukan juga melupakan, Rara maupun Sasha selalu mengingat Kakaknya itu, juga selalu mendoakan agar Kakak mereka itu selalu dalam lindungan Tuhan.


***


Rumah Pak Hendra


"Ayo, Bang," ajaknya. Sedangkan Adam yang masih duduk di atas sajadah diam saja.


Naifa sudah selesai melipat mukenah, ia tengah membenarkan jilbabnya.


"Abang, tidak mau makan di sini?!" Naifa bertanya dengan pelan. Ia kini sudah duduk berlutut di depan suaminya.


Adam menghela nafas kasar, "gue malu." Adam menatap Naifa.


Naifa memberikan senyum yang begitu merekah, lalu tangannya menggenggam tangan Adam yang ada di pangkuannya. "Abang, tidak boleh malu, saat Abang berada di jalan kebaikan. Justru Abang harusnya malu, jika Abang tengah berada di jalan keburukan. Semua orang di rumah ini, akan sangat bahagia jika melihat dan mengetahui kalau Abang sudah berubah sekarang." Ujar Naifa dengan lembut, seolah tengah membujuk anak kecil yang malu karena pakaian yang ia pakai.


"Kalau Abang belum siap, orang tua Abang tahu, Abang ganti baju saja." Usul Naifa akhirnya.


Adam masih menatap netra indah sang istri.


Naifa balas menatap suaminya, "sekarang, Abang tarik nafas, setelah itu baca basmalah."


Adam mengikuti apa yang di katakan Naifa, menarik nafas dan, "bismillahirrahmanirrahim."


"Ayo!" Adam berdiri dan mengulurkan tangannya pada Naifa yang masih duduk di sana mendongak memperhatikan suaminya yang sudah berdiri.


"Abang nggak mau ganti baju dulu?" Naifa lantas menggenggam tangan Adam dan berdiri.


"Nggak perlu, gue sudah siap dengan keterkejutan mereka." Ujar Adam.


Naifa tersenyum lebar, "ayo. Bismillah ...."


Dengan dada yang berdebar dan perut yang entah kenapa jadi mulas Adam berjalan menggandeng Naifa keluar kamar. Berjalan dengan pelan seolah tengah menghitung langkah. Rasanya Adam seperti orang yang baru pulang dari kepergiannya selama bertahun-tahun.


Masih dengan langkah pelan, Adam mengajak Naifa menuruni anak tangga satu persatu, hingga sampailah di anak tangga terakhir.


***


Ibu Nuri begitu antusias setelah tahu kalau Adam dan menantunya datang ke rumah. Setelah bebersih dan menelpon suaminya ia langsung menyuruh Bi Siti untuk masak banyak. Tak lupa ia juga membantunya, membantu bi Siti.


Setelah semua beres ia meninggal kan dapur untuk Shalat bersama sang suami, bahkan saat suaminya masih ber'doa ia sudah keluar untuk menyiapkan hidangan di meja makan. Dan saat semua sudah siap ia menyuruh Bi Siti untuk memanggil anak dan menantunya, sedangakan dirinya memanggil suaminya.


Kini ia tengah menunggu di meja makan dengan sang suami. Ibu Nuri sudah begitu tak sabar menunggu Adam dan Naifa.


Ibu Nuri dan Ayah Hendra segera menoleh ke belakang mereka begitu mendengar suara langkah kaki menuruni tangga.


Kedua pasang kelopak mata paruh baya itu membesar, melihat kedua manusia yang tengah berjalan menuruni anak tangga. Yang lebih mereka berdua perhatikan adalah penampilan Adam, putra mereka. Memakai sarung dan koko, berjalan menggandeng tangan istrinya yang memakai gamis berwarna hitam dan jilbab berwarna cokelat muda.


Tak sanggup rasanya jika tidak menetes kan air mata. Ibu Nuri bahkan dadanya begitu berdebar, ia seolah berada di alam bawah sadar, di alam mimpi. Mimpi yang begitu indah.