Naifa

Naifa
Bab 60



Naifa tersenyum, begitu Rara, Sasha juga anaknya pergi dari sana. Naifa menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


Sementara Adam menatap dengan bahagia, bisa melihat kembali Naifa yang nyata di depan matanya.


"Makasih ya, Nai ...," ucap Adam.


Naifa lantas menatap wajah Suaminya yang ada di sebelahnya, "untuk apa Bang?!"


"Untuk segalanya, untuk kamu yang mau menunggu ku, yang ja ha t ini, untuk anak yang cantik, anak yang sudah kamu kandung selama sembilan bulan dengan susah payah, tanpa kehadiran ku, bahkan sampai bisa membesarkan Eisha sendirian tanpa aku." Ujar Adam.


"Abang salah." Naifa memutar duduknya agar semakin berhadapan dengan Suaminya. "Nai tidak sendiri, Bang ... Nai bersama dua ibu yang begitu luar biasa, dengan Ayah yang selalu ada untuk apa yang menantunya inginkan, Nai bersama dua adik baik yang selalu ada menemani hari-hari Nai ... Dan Nai selalu berada dengan doa-doa yang selalu Abang langit kan." Ujar Naifa.


Adam lantas menoleh ke sana ke mari, melihat situasi dan kondisi lalu ia pun menggeser duduk nya dan memeluk istri nya itu. Naifa melebarkan kelopak matanya, saat tiba-tiba Adam memeluk dirinya. Ah ... dekapan hangat ini, begitu ia rindukan. Lama sekali rasanya, namun ia tak pernah lupa kehangatan ini. Naifa bahkan masih begitu ingat hangatnya pelukan dari suami nya itu.


Kini bahkan Naifa pun turut membalas pelukan suaminya, tak perduli ada yang melihat atau tidak. Ia tak perduli, karena jika harus menunggu malam, itu akan terasa begitu lama. Sedangakan dirinya sudah begitu merindukan ini, merindukan kehangatan dari Suaminya.


Adam tak segan-segan lagi untuk mencium puncak kepala Istrinya. Mencium dengan sayang, memeluk erat mengeluarkan kerinduan yang selama ini begitu mengganggu nya.


...***...


Malam harinya. Naifa, Eisha juga Adam masih di rumah Ayah Hendra. Sedangkan Ibu Muni dan dua anaknya, Rara dan Sasha sudah pulang.


Eisha masih duduk di sebelah sang Ayah, ia tengah meminta di ajari mewarnai oleh sang Ayah. Sementara Naifa duduk di sebelah Ibu Nuri, tangannya sibuk mengupas jeruk untuk Eisha.


"Dam?!" Panggil Ayah Hendra yang baru keluar dari kamar.


"Ya, Yah!" Adam mendongak.


"Ayah, ini 'kan Princess masak bajunya warna hitam?!" protes sang putri dengan kesal.


"Ah, ya sebentar Sayang. Ayah temuin Kakek dulu ya." Adam berdiri setelah mengecup kepala Eisha. Lantas berlalu dari sana melewati Naifa, tak lupa tangan nya mengusap sekilas dagu Naifa. Membuat Naifa tersenyum dan memegangi dagunya.


"Ih, Ibu ... ini gimana? Masak Princess pakai baju hitam?!" Eisha beralih kesal ke arah Ibunya.


Ibu Nuri tertawa, lantas maju untuk menemani cucu nya yang tengah kesal. "Sini, coba Nenek lihat." Ujar Ibu Nuri.


Naifa hanya menggeleng tak mengerti pada putrinya. "Itu, princess versi Ayah Sayang. Kamu kasih warna yang lain saja ya," ucap Naifa sembari menyuapi anak nya jeruk yang sudah ia kupas.


"Hm, dasar Ayah!" gerutu gadis kecil itu kesal.


"Sudah, sini, sama Nenek." ajak Ibu Nuri pada cucunya yang semakin hari semakin cantik.


Naifa tersenyum, "Ibu, mau tidak jeruknya? biar Nai kupaskan." Naifa menawarkan pada Ibu Nuri.


"Tidak, Nai. Ibu masih kenyang, ini nih, si Eish pasti mau lagi," jawab Ibu Nuri yang tengah sibuk membantu mewarnai gambar di buku milik cucu kesayangannya.


"Hm," Eisha mengangguk. "Ibu?" panggil Eisha yang lantas membalik badannya, menghadap ke arah sang ibu.


"Ada, apa, Sayang?!"


"Apa, malam ini, kita tidur sama Ayah?!" Tanya gadis kecil itu. "Aku pengin di tidur di peluk Ibu dan Ayah," ucap Eisha lagi.


Ibu Nuri tersenyum, begitu Naifa.


Ibu Nuri bahkan mengusap rambut halus sang Cucu, "mulai malam ini dan selanjutnya, Eisha akan bobok sama Ayah dan Ibu." Jelas Ibu Nuri pada Cucunya.


Eisha membesarkan kelopak matanya tak percaya, ia bahkan menatap sang ibu meminta penjelasan. Naifa lalu tersenyum dan mengangguk, "iya, Sayang."


"Yeeeyyyy, akhirnya Eisha bisa dapat pelukan dari Ibu dan Ayah!" Eisha berdiri dan langsung duduk di pangkuan Naifa, memeluk erat tubuh ibunya itu. "Berarti kita sudah tidak usah doa lagi 'kan Bu? Untuk Ayah?" sambung Eisha.


Naifa balas memeluk sang putri, "anak shalehah harus tetap mendoakan orangtua nya dong, Nak." Kata Naifa.


"Iya, Eish tahu," ucap gadis kecil yang lantas turun dari pangkuan sang ibu, ia kini berdiri di depan sang ibu. "Tapi, sekarang, kita tidak harus minta sama Allah untuk Ayah agar pulang 'kan? Karena Ayah akan selalu ada di antara Eisha dan Ibu, benar 'kan Nek?!" gadis kecil itu meminta persetujuan pada Neneknya.


Ibu Nuri mengangguk dan memberi jempolnya pada sang cucu.


"Ok! Ibu sama Nenek, tunggu di sini. Eisha mau panggil Ayah. Tidak boleh sama Kakek terus," ucap Eisha sembari berlari menuju ruang kerja sang Kakek.


"Nak, jangan di ganggu dulu Ayahnya!" Teriak Naifa pada Eisha, yang jelas sudah tidak di perduli kan, karena kini Eisha sudah sampai di ruangan kerja Pak Hendra. Lagipula, teriakan Naifa tidak terlalu kencang, jadi jelas tak akan di hiraukan.


Ibu Nuri mendekat ke arah Naifa, "biarkan, Nai. Dia sedang bahagia."


"Iya, Bu. Eisha benar-benar bahagia." Ujar Naifa, "tadi saat ada mobil Ibu, dia langsung heboh manggil Nai dan neneknya, teriak-teriak katanya Ayah nya datang." Sambung Naifa menceritakan tadi saat supir Ibu Nuri menjemput dirinya dan Eisha.


"Terus dia kecewa saat yang datang bukan Ayahnya?!" tanya Ibu Nuri.


"Iya," Naifa tersenyum mengingat tadi, "langsung merengut dia, tapi setelah di bilangin mau di jemput karena Ayahnya sudah menunggu langsung senang lagi. Jingkrak-jingkrak tidak karuan, Nai, Ibu sama Rara juga Sasha sampai heran melihatnya."


"Makanya, pas sampai sini langsung mau, saat di suruh menemui Ayahnya sendirian." Sambung Naifa.


Ibu Nuri tersenyum, "semoga setelah ini, kalian tidak akan terpisah lagi, ya Nai. Ibu ber-do'a selalu untuk kebahagiaan kalian." Ujar Ibu Nuri.


"Aamiin, Bu. Nai juga berharap seperti itu, semoga kita selalu bersama dalam keadaan sehat dan di jauhkan dari marabahaya."


Ibu Nuri mengangguk, lantas memeluk sang menantu kesayangan dan satu-satunya itu.


Inilah keinginan Naifa selama ini, bisa berkumpul kembali dengan sang suami. Memberikan kasih sayang yang utuh untuk putrinya, kasih sayang dari Ibu dan Ayah, kasih sayang yang selama ini di pertanyakan terus-menerus oleh sang putri.


Di tanyakan keberadaan sang ayah, di tanya kapan pulang, pergi ke mana dan yang lainnya. Sampai kadang membuatnya sedih sendirian karena pusing dengan pertanyaan dari anaknya. Tapi, kini semuanya sudah terjawab. Anaknya akan mendapatkan kasih sayang yang utuh mulai sekarang.