
Naifa mencoba tersenyum pada Adam yang kini tengah duduk dengan memijit-mijit dahinya. Adam merasa pusing dan kesal. Rasanya ia ingin marah dan berteriak sekencang mungkin. Meluapkan emosinya yang kini memburu di dadanya.
Naifa menepuk pundak Adam, "Abang." Panggilnya tercekat. Rasanya susah sekali untuknya meminta penjelasan.
Adam menoleh, Naifa dapat melihat mata suaminya yang memerah akibat menahan air mata.
Naifa tersenyum, "jika, Abang memang benar, Ayah dari bayi yang ada di kandungan Mbak Vela. Tanggungjawab lah Bang, Nai, tidak apa-apa." Ujar Naifa dengan menahan air matanya agar tak sampai jatuh. Tapi, nyatanya itu semua tidak mudah. Naifa hanya manusia biasa, air matanya luruh begitu saja, walaupun di barengi dengan senyum yang menyayat hati.
"Nai, aku bisa jelasin semuanya. A-aku nggak pernah merasa kalau sudah," suara Adam tercekat di tenggorokan, rasanya susah sekali untuk melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan sementara ia melihat wajah istrinya tersenyum berurai air mata.
"Jelaskan lah, Bang. Nai akan mendengarkan semuanya. Agar Nai tidak salah paham." Ujar Naifa.
"Maafkan aku, Nai," Adam mengusap air mata yang meleleh di pipi mulus istrinya. Naifa mengangguk.
"Semua manusia pernah salah, Bang. Yang terpenting adalah, memperbaiki diri. Agar tidak sampai terulang kembali kesalahan itu. Jadi, Abang harus mempertanggung jawabkan perbuatan Abang." Sungguh hatinya sakit saat mengatakan ini.
"Maksud kamu apa Nai?!"
Naifa diam, ia tak bisa mengatakan kalau suaminya itu harus menikahi orang lain.
"Nai, aku nggak pernah merasa kalau sudah melakukan nya pada Vela. Hanya saja, pernah bangun di keadaan tanpa pakaian dengannya. Tapi, jujur saja Nai, aku tidak bisa ingat semuanya." Jelas Adam, mencoba sejujur-jujurnya pada Naifa.
Naifa mengangguk mempercayai suaminya. Dengan pelukan hangat ia mencoba memberi kekuatan untuk suaminya. Agar ia dan Adam bisa menjalani hari-hari berikutnya dengan lebih sabar dan kuat bersama.
***
Kenapa?! Baru saja rasanya Adam dan Naifa merasakan kenikmatan hidup bahagia sebagai suami-istri, kini di terpa badai yang bisa menghanyutkan kapal yang Adam nahkodai.
Adam masih tak mengerti kenapa cobaan saat dirinya baru saja taubat begitu besar. Ia benar-benar kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga diri.
Kini, Adam tak tahu harus apa. Rasanya untuk menemui Vela saja ia begitu enggan.
Tapi, lihatlah Naifa. Ia begitu hebat menyembunyikan kesedihannya. Naifa bahkan biasa saja di depan Adam. Tetap memasak, mengajak shalat, bahkan Naifa mengatakan "minta ampun lah lagi, Bang pada 'Nya. Shalat taubat lagi Bang. Minta ampunan atas segala yang telah Abang perbuat. Minta lah agar hati Abang dalam keadaan tenang menghadapi segala keadaan ini."
Wanita yang harusnya marah-marah, atau mungkin bisa saja meninggalkan dirinya. Ini justru malah menemani Adam, memberi kekuatan walaupun pasti Naifa lah yang lebih merasakan sakit. Sakit yang tidak Naifa ungkapkan.
Memangnya wanita mana yang mau menemani suaminya jika suaminya seperti Adam?!
Adam menggeleng lemah memperhatikan istirnya. Kini Adam dan Naifa baru saja selesai shalat Ashar. Adam tengah memperhatikan Naifa yang tengah menengadahkan tangan nya tinggi-tinggi dengan kepala yang menunduk dan mata terpejam. Air matanya keluar dari kelopak mata yang tertutup itu. Menetes membasahi mukenah yang di pakai nya.
"Nai," panggil Adam. Ia tak kuasa melihat Naifa ber-do'a sampai meneteskan air mata.
"Kalau kamu, nggak kuat lagi, kamu boleh__"
"Ssst," Naifa menempelkan telunjuknya di antara mulut dan hidung Adam. Ia menggeleng keras. "Jangan sampai, kata-kata Abang membuat penyesalan yang begitu besar Bang. Nai tidak ingin apapun yang ada di pikiran Abang."
Naifa tahu kalau suaminya mungkin menyuruhnya pergi. Tapi, itu bukan lah Naifa. Menurut Naifa, dalam hidup memang tidak akan mulus selalu. Seperti sekarang, Naifa hanya ber'doa agar di berikan hati yang lapang, agar bisa menerima dengan ikhlas segala bentuk ujian yang ia dan Suami nya jalani.
"Tapi, aku udah bikin kamu__" Lagi-lagi Naifa menggeleng. Tak setuju dengan apa yang akan di katakan suaminya.
"Abang, jangan mengatakan apapun. Mari kita berjalan bersama Bang, kita lewati ini bersama, jangan sampai kata-kata tidak baik keluar dari mulut Abang. Karena, walaupun sekedar kata-kata tapi makna nya begitu besar Bang. Bisa membuat penyesalan yang lebih besar lagi."
Kali ini Adam mengangguk. Ia lantas memeluk istri kecilnya itu. Ia benar-benar beruntung bukan?! Bisa mendapatkan Naifa yang begitu bijak mendampingi dirinya di keadaan apapun. Padahal bisa saja Naifa itu pergi meninggalkannya, apalagi sudah di perintah oleh Adam.
Tapi, Naifa justru malah ada di sampingnya. Menggenggam tangannya, menemani suaminya berjalan di jalan yang lagi-lagi terjal penuh duri.
***
Malam harinya, Adam dan Naifa pergi ke rumah Pak Hendra. Mau seperti apapun keduanya harus menceritakan ini. Karena, Naifa tidak ingin mertuanya tahu dari mulut orang-orang terlebih dahulu.
Naifa menggandeng tangan Adam begitu mereka berdua turun dari dalam mobil. Menggandeng sampai masuk dan bertemu dengan Ibu dan Ayah yang tengah duduk santai di ruang keluarga. Ibu Nuri menyambut hangat Anak dan menantunya itu, begitu juga Pak Hendra. Tanpa tahu kalau mereka berdua datang membawa kabar yang bisa di bilang buruk.
Setelah ngobrol hangat di iringi tawa, kini saatnya Adam bicara serius. Di bantu oleh Naifa.
"Yah, Bu." Lagi-lagi suara Adam tercekat. Tak seperti saat tadi, saat membicarakan masalah lain.
"Ada, apa, Dam?!" Tanya Ayah penasaran. Karena tak biasanya Adam seperti ini. Biasanya Adam akan langsung saja bicara.
"Ibu, Ayah ... tolong jangan marah dulu, Nai harap, saat Abang Adam menjelaskan sesuatu, Ayah dan Ibu mendengarkan terlebih dahulu sampai Abang selesai mengatakan segalanya. Maaf." Naifa mengatakan itu agar Ibu dan Ayah siap dengan apa yang akan di katakan oleh anak mereka itu. Seenggaknya keduanya sudah bisa menebak kalau Adam akan mengatakan sebuah masalah.
"Iya, Ibu dan Ayah tidak akan marah. Cerita lah, ada apa?!" Kata Ibu.
Adam menarik nafas dalam-dalam dam mengembuskan nya perlahan, sebelum ia mengatakan masalahnya, ia mencoba ber-istigfar terlebih dahulu. "Astaghfirullah hal adzim," ucapnya dengan pelan.
"Adam sudah membuat kesalahan besar, Yah. Bu. Aku me ng ha mi li, perempuan lain." Ujar Adam sembari menatap sendu wajah Naifa. Tapi yang di tatap malah tersenyum menguatkan dirinya.
Ibu Nuri membisu, kelopak matanya membesar namun sedetik kemudian terpejam tak percaya. Tangannya reflek memegangi dadanya yang merasa sakit akibat terkejut dengan apa yang di katakan oleh putranya itu.
"Dam, jangan bercanda?!" Ayah tak percaya dengan apa yang di katakan oleh anaknya.
Apa ini?! Baru saja mereka berdua bahagia. Akhirnya anak dan menantunya bahagia. Sudah saatnya mereka menunggu kabar baik dari keduanya. Tapi ini! Kenapa malah kabar buruk yang mereka dengar?!