Naifa

Naifa
Bab 61



Di malam yang begitu di nantikan, kedua manusia yang sudah lama terpisah, kini tengah berdua duduk menikmati kebersamaan. Embusan angin malam begitu sejuk, terasa lembut membelai wajah. Keduanya sama-sama menatap dalam tatapan yang hangat.


Tangannya saling menggenggam, senyumannya sama-sama mengembang.


Berada di balkon yang kini berhiaskan lilin-lilin putih beraroma terapi.


Sengaja di pasang dua kursi dan satu meja bundar, dengan di beri alas putih. Di atasnya ada dua gelas berisi minuman dingin dan dua porsi makanan yang terlihat begitu cantik. Rasanya sangat sayang untuk di makan. Serta jangan lupakan setangkai bunga mawar merah yang cantik di dalam wadah kaca. Menambah romantis suasana.


Jangan tanyakan ini ide siapa, karena ini adalah ide dari Adam sendiri. Ia ingin sekali berdua dengan sang istri. Membahagiakan sang istri yang selama ini sudah susah payah sendirian. Berjuang sendirian, demi untuk menunggu dirinya.


Jadi, begitu sang buah hati tidur, Adam mengajak Naifa pergi dinner romantis berdua saja. Namun, sangat di sayangkan. Ternyata, Naifa tidak bisa pergi jika anaknya tidak ikut serta. Maklum saja, selama ini, ia tak pernah pergi tanpa sang putri, begitupun sebaliknya.


Jadilah, Adam merubah balkon menjadi tempat yang indah. Di bantu Bibi Siti, Ibu Nuri dan Ayah Hendra.


Ibu Nuri, Ayah Hendra dan Bibi Siti jelas sangat mau, jika di mintai tolong untuk membuat sepasang pengantin yang baru melakukan ijab yang kedua kali nya itu bahagia.


Naifa tak lepas dari senyuman nya, senyum yang terlihat malu-malu. Bagiamana tidak malu-malu tapi mau, kalau baru kali inilah dirinya di beri kejutan seperti itu. Naifa merasa itu berlebihan, namun ia suka. Bahkan Naifa sampai tidak bisa berkata-kata. Hm, mau bagaimana pun Naifa juga perempuan biasa, yang pastinya menginginkan suami yang romantis bukan?


"Kenapa, senyum terus?!" Tanya Adam, matanya tak beralih dari wajah ayu istrinya. Memandang Naifa penuh cinta, penuh rasa sayang dan rasa rindu. Tatapan nya seolah takut jika berkedip, maka, Naifa yang tengah ia pandangi akan menghilang. Membiarkan nya sendirian di dalam kesepian dan kesunyian seperti beberapa tahun terakhir ini. Adam padahal sudah putus asa, saat setelah jatuhnya talak waktu dulu. Ia takut kalau Naifa mendapat kan lelaki yang lebih dari dirinya dan tak lagi mencintainya.


Walaupun itu memang keinginannya, namun dalam hatinya tetap tak rela jika cinta nya di miliki orang lain. Dan akhirnya takdir baik masih mem-bersamainya. Menyatukan kembali dirinya dengan Naifa, sang istri tercinta. Di tambah lagi dengan hadirnya sang putri di antar mereka.


"Malu, Abang. Kenapa sampai membuat seperti ini?" Katanya sembari memperhatikan balkon yang kini benar-benar cantik. Ada lampu kuning kelap-kelip bak bintang yang biasanya berada di langit, kini berada di atas, di langit-langit balkon. Naifa benar-benar tidak menyangka, suaminya akan melakukan seperti ini.


"Lagian, kenapa tidak mau di ajak dinner berdua saja di Restauran? Aku 'kan pengin pacaran sama kamu, nggak pernah 'kan kita pacaran?!" Naifa tersenyum dengan apa yang di katakan Suaminya.


"Nai, tidak bisa pergi makan tanpa Eish, Abang. Rasanya pasti akan tidak enak sekali." Ujar Naifa jujur.


"Ibu yang sangat baik," ucap Adam sembari menarik tangan Naifa dan mengecup punggung tangan istrinya itu.


"Lagian, kita sudah pacaran, Abang. Pacaran yang halal. Setelah Abang memutuskan untuk menggenggam erat tangan Nai dan kembali ke jalan yang In Syaa Allaah, baik."


Adam mengangguk, "ada, yang kamu inginkan nggak Nai?!" Tanya Adam.


Naifa mengerutkan kening, "keinginan Nai, bisa bersama Abang dan Eisha, Bang. Menemani Eisha sampai dia bisa mencapai apa yang dia inginkan, bisa mendidik Eisha menjadi anak yang shalehah, bisa menjadi pribadi yang baik, agar bisa menjadi istri Abang yang baik_"


"Sssssttttt," Adam menempelkan telunjuknya di antara hidung dan mulut Naifa. "Kalau itu, aku sudah tahu Nai. Yang aku maksudkan adalah, mungkin, barang atau apa yang kamu inginkan?" Sambung Adam.


Naifa tersenyum lebar, lantas menggeleng. "Nai tidak ingin apa-apa, Bang."


"Nai, sebenernya belum ingin memberikan adik untuk Eisha, Bang." Kata Naifa.


"Kenapa?!" Tanya balik Adam heran.


"Nai, kasihan kalau harus memberikan adik untuk Eish. Sementara Eisha baru saja mendapatkan kasih sayang darimu, Bang. Nai ingin, Eisha merasakan kasih sayang yang penuh tanpa harus berbagi." Adam mengangguk dengan apa yang Naifa katakan.


"Namun, Nai tidak akan menolak juga, jika di beri amanah kembali oleh Allaah." Sambung Naifa.


Adam tersenyum lebar.


"Ya, sudah. Sekarang, kita makan makanannya ya, setelah ini kita lanjut yang lain," ucap Adam menaik-turunkan alisnya.


"Yang, lain, apa Bang?!" Naifa mengerutkan kening.


"Ada, deh," ucap Adam.


Naifa menggeleng kan kepalanya tak mengerti dengan apa yang di maksud suaminya.


Adam justru malah menyuapi Naifa. Makan malam ke dua kali ini, rasanya begitu lama. Lantaran makanan yang di suap kan oleh Adam terlalu kecil. Dan terlalu lambat. Tapi, jujur saja Naifa begitu menikmati.


Ah, rasanya sudah lama sekali Naifa tidak makan di suapi oleh suaminya. Lama sekali tidak satu piring berdua, satu gelas berdua dan ... satu ranjang berdua. Naifa tersenyum dan menunduk saat mengingat jalan-jalan indah yang pernah di lewati nya bersama sang suami.


Menaiki bukit, menuruni lembah terbang ke awang-awang. Mencapai surga dunia.


Namun ternyata, semua itu tak menunggu lama. Begitu makan malam romantis ala Adam selesai. Adam lantas mengajak sang istri masuk ke dalam kamar. Meniup lilin-lilin, menutup pintu balkon serta gordennya dan ... membawa sang istri ke tempat yang sudah lama mereka tinggalkan.


Tempat yang indah, yang pastinya akan selalu terkenang dalam ingatan.


Yang membuat keduanya menyatu, melupakan sejenak saja urusan yang lain. Menyatukan dua jiwa yang saling rindu, menyatukan rasa terpendam di dalam dada. Menggelora menjadi satu.


Menciptakan suara-suara merdu yang lama tak keluar dari mulut mereka. Namun, saat itu juga mulut Naifa maupun Adam harus diam sejenak saat mengingat kini, tak hanya mereka berdua yang ada di sana. Namun ada Eisha juga yang tengah tertidur pulas.


Walaupun dengan selimut yang berbeda, tapi keduanya merasa ada yang aneh. Seolah Eisha tengah memperhatikan mereka, yang lantas mengundang tawa di antara Naifa dan Adam saat bolak-balik harus mengecek apakah Eisha bangun atau tidak.


Sungguh pengalaman menaiki bukit, melewati lembah yang baru, penuh dengan rintangan dan ketakutan. Takut ketahuan.


Setelah selesai keduanya lantas buru-buru untuk membersihkan badan. Dan tidur di dalam satu selimut bersama buah hati mereka.