
Hari yang manis tengah di lewati. Cinta yang ada di dalam dada semakin kuat saja. Antara Adam dan Naifa semakin menunjukan rasa cinta mereka. Keduanya sudah tidur di dalam satu kamar, selepas dari rumah ibu Muni waktu lalu. Mereka berdua menempati kamar yang tadinya di pakai Naifa. Sedangkan kamar depan, Naifa rubah menjadi ruang untuk mereka berdua shalat.
Bahkan kini Adam mulai mengaji dengan Naifa. Sedikit-demi-sedikit Naifa memberitahu, Adam bahkan begitu antusias agar cepat bisa. Dan itu semua membuat Naifa semakin bahagia dan bangga pada suaminya itu.
Tak terasa, Adam dan Naifa sudah sebulan ini menjalani hidup mereka sebagai pasangan suami-istri. Adam setiap hari semakin baik pada Naifa, semakin membuat Naifa merasa bahagia.
Seperti sekarang ini. Di hari Minggu seperti ini, Adam tengah membantu Naifa untuk membuat sarapan. Memang hanya nasi goreng, tapi, saat di buat dengan dua pasang tangan yang penuh cinta rasanya akan lebih nikmat.
Adam kebagian mengupas bawang sedang Naifa tengah mencuci daun bawang dan sayur lainya, seperti, kol dan wortel.
"Nai, kamu, jahat!" Ujar Adam. Naifa langsung menoleh takut. "Kenapa, Bang?!" Tanyanya cemas.
"Kamu membuatku menangis Nai, lihat!" Ujar Adam berurai air mata.
Tapi, alih-alih bingung Naifa malah tersenyum melihat suaminya menangis. "Bawang nya jahat banget ya, sama suami Nai?!" Ucap nya gemas, sembari mengusap air mata di pipi suaminya.
Adam lantas menaham tangan Naifa agar tetap di wajahnya, "kamu, yang jahat Nai!" Ujar Adam.
Naifa mengerutkan dahi, "ya sudah. Biar Nai saja yang lanjutkan, Abang duduk saja."
Adam menggeleng, "kamu, jahat, karena bangunin aku di waktu yang kesiangan. Jadi, aku nggak bisa bawa kamu terbang dulu sebelum shalat subuh." Gerutu Adam.
Senyum Naifa semakin lebar, "maaf, Abang. Nai pikir Abang terlalu lelah, semalam. Jadi Nai tidak ingin membangunkan Abang."
Adam tertular senyuman Naifa, "nanti, ya ... abis sarapan?!" Adam menaik-turunkan alisnya menggoda istrinya.
"Abaaang ... masak siang-siang seperti itu," rajuk Naifa. Entah kenapa saat siang Naifa tidak pernah mau. Karena memang ada saja yang ia kerjakan.
"Ish, kenapa memangnya?! 'Kan nolak keinginan suami dosa loh." Ujar Adam.
"Baiklah, Abang. Tapi, sekarang kita masak dulu ya ... setelah itu, terserah Abang saja." Pasrah Naifa.
"Makasih, Nai." Tak segan lagi Adam mencium bibir istrinya itu sebelum melepas tangan istrinya dan membiarkan Naifa melanjutkan masak nya.
Selesai masak, Naifa membawa sepiring nasi goreng buatannya ke meja makan. Setelahnya ia dan suaminya sarapan. Dengan satu sendok yang di sendok oleh Adam, Naifa akan menerima suapan nasi goreng rasa cinta dari tangan suaminya.
"Enak, tidak Bang?!" Tanya Naifa di sela-sela makan nya.
"Apa yang kamu buat itu selalu enak Nai. Pokoknya semua yang ada padamu itu enak," jawaban Adam yang nyeleneh membuat Naifa mencubit gemas lengan suaminya itu.
"Ih, kamu sudah mulai kdrt, " gurau Adam.
"Ya, lagian, Nai tanya betul-betul, Abang jawabnya seperti itu." Naifa pura-pura merajuk.
Adam tak perduli, ia tetap menyuapi istrinya itu juga dirinya. Sampai nasi goreng di piring itu habis tak tersisa. Lantas, setelah selesai Adam membantu Naifa membereskan piring dan alat masak yang tadi di pakai.
Perlakuan Adam semakin hari semakin manis, bahkan sampai sekarang Adam belum jadi menemui Vela. Lagi pun Vela sudah tak lagi menelpon atau mengirim pesan pada Adam. Yang akhirnya Adam melupakan Vela begitu saja.
Semakin hari yang Adam rasakan hanya ingin bersama dengan istri kecilnya itu. Istri yang selalu mengingatkan dirinya akan kebaikan. Sampai untuk merokok saja sudah seminggu ini tak Adam lakukan. Naifa bisa merubah segala kebiasaan buruk Adam perlahan menghilang.
"Nai!" Panggil Adam dari kamarnya.
Naifa yang kini baru saja selesai mengelap meja lantas berjalan dengan buru-buru ke kamar, "iya, Bang."
"Ayo, jadi tidak?!" Adam ternyata masih menginginkan penyatuan keduanya.
Adam mengembuskan nafas gemas, "kamu tuh, sudah jangan malu-malu lagi, sama suami sendiri juga." Adam menarik pelan tangan istrinya untuk masuk ke kamar, lalu menutup pintu kamar nya.
Baru saja Adam akan membuka resleting dari gamis Naifa, seketika Naifa menghentikan tangan Adam. "Maaf Bang, Nai lupa belum mematikan keran air."
Naifa lantas berlalu meninggalkan suaminya dengan terbengong di tempatnya. Adam menggeleng kan kepalanya heran pada Istrinya itu.
Adam lalu menunggu istrinya dengan lesu di kasur. Tak lama setelahnya Naifa kembali ke kamar dengan senyum dan hati yang tak enak. Naifa takut Adam marah padanya.
"Sudah?!" Tanya Adam.
Naifa yang sudah masuk ke kamar dan menutup pintu itu mengangguk, "sudah. Maaf ya Bang."
"Tidak apa-apa, sini," Naifa mendekat lantas duduk di sebelah suaminya.
"Apa, Abang marah?!" Tanya Naifa takut.
"Enggak dong! Nggak marah, aku cuma mau kasih ini, kok," Adam mengulurkan kotak berbentuk persegi panjang berwarna biru tua.
"Apa, ini Bang?!" Tanya Naifa bingung.
"Buka, lah!" Perintah Adam.
Naifa menurut, ia lantas membuka tempat itu. Seketika Naifa melebarkan matanya, "bagus sekali Bang," ucapnya serius.
"Kamu, suka?!" Naifa mengangguk. "Sini, aku pakaikan," ucap Adam. Naifa memberikan hadiah indah dari suaminya itu. Sebuah kalung berliontin inisial 'A' untuknya. Inisial 'A' yang di belakangnya terdapat tulisan dengan nama 'Naifa'.
Adam memakaikan kalung indah itu di leher jenjang sang istri. "Ini hadiah, sebulan anniversary kita," ucap Adam setelah selesai mengaitkan pengait kalung tersebut.
"Tidak, terasa ya Bang. Nai rasa baru kemarin Abang mengucap ijab qabul, sekarang sudah sebulan saja." Ujar Naifa sembari menunduk memandang liontin cantik itu.
"Kenapa inisial 'A', Bang?!" Tanya Naifa yang lantas menatap suaminya yang tengah tersenyum memperhatikan dirinya.
"Karena, di belakang Adam ada Naifa. Makanya Inisial A, tapi belakang nya nama kamu." Ujar Adam.
"Makasih, ya Bang. Maaf Naifa lupa akan hari jadi pernikahan, jadi tidak sempat memberikan kado untuk Abang." Ujar Naifa. Ia memang tidak mengingat bahwa pernikahan mereka sudah sebulan. Yang ia ingat hanya berdoa agar pernikahan mereka langgeng tanpa gangguan.
"Yah ... padahal aku pengin kado," ucap Adam dengan wajah memelas.
Naifa menunduk bingung, "ya, sudah. Besok Nai cari kan ya Bang."
"Tidak perlu, aku mau hadiah yang ini," Adam menunjuk Naifa.
Naifa tahu apa maksud dari suaminya itu. Lalu sebelum Adam yang memulai, Naifa memulai terlebih dahulu. Tentunya tak lupa untuk mengajak Adam berdoa terlebih dahulu. Kebiasaan dari Naifa.
Adam menerima dengan baik segala perlakuan istrinya yang menurutnya menggemaskan itu. Walaupun sudah sering kali ia ajarkan namun nyatanya istri kecilnya itu belum terlalu mahir, karena selalu saja malu-malu. Sampai akhirnya Adam mengambil alih agar keduanya merasa kan rasa yang sama. Sama-sama meneguk kebahagiaan yang membawa keduanya terbang ke nirwana.
Setelah puas, keduanya lantas bebersih badan bersama.
Setelah itu, Naifa mengajak suaminya untuk duduk di teras. Karena ia ingin mencabuti rumput di halaman dan ingin sembari ditemani sang suami. Tapi, baru saja mereka berdua keluar, mereka berdua sudah mendapatkan tamu yang mengejutkan bagi Adam.
Naifa memperhatikan tamu yang datang, dalam benaknya merasa pernah melihat orang yang kini berdiri di hadapan nya.
Begitu juga Adam yang keheranan akan kedatangan seseorang itu.