
Naifa masih merasa heran. Kini, sudah sangat larut. Tapi, suaminya belum datang juga. Entah pekerjaan apa yang di lakukan suaminya sampai tidak membalas pesan darinya yang ia gunakan lewat ponsel Rara. Juga tak menjawab saat Naifa mencoba menelpon menggunakan ponsel Rara.
Perasaannya khawatir. Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa. Hanya ada rindu yang terasa di dalam kalbu. Ia ingin sekali berada dalam dekapan hangat tubuh Adam-suaminya. Tapi, nyatanya Adam nya belum juga kembali.
Apakah, Adam jadi membenci dirinya, karena dia yang sudah ... Naifa menggeleng kan kepalanya. "Tidak. Harusnya Abang tidak marah pada Naifa bukan?! Tapi, jika Abang nyatanya marah, bagaimana ini?!"
Naifa berada di dalam kamarnya. Bolak-balik ia mengintip lewat jendela. Takut kalau ternyata suaminya sudah datang dengan mobilnya hanya saja ia tak mendengar.
Lagi dan lagi. Sampai waktu begitu larut, namun nyatanya Adam tidak datang.
Rasa khawatirnya berubah jadi rasa takut. Takut kalau ternyata Adam memang benar menjadi benci pada dirinya karena dirinya yang bo doh, yang tidak bisa menjaga badan nya sampai di pegang dan aurat nya bahkan sampai terlihat begitu banyak.
Tiba-tiba saja saat kembali mengingat itu, air matanya menetes kembali.
Dalam hatinya bertanya-tanya, benarkan Adam nya membenci dirinya lantaran itu.
Naifa menggeleng kan kepalanya. "Tidak, Nai. Abang pasti hanya terlalu sibuk. Besok. Iya besok pagi pasti Abang akan menemui ku, tidak mungkin Abang membiarkan ku sendirian di rumah Ibu. Abang pasti merindukan ku bukan?! Seperti Nai yang merindukan Abang." Begitu ujar Naifa pada dirinya sendiri.
...***...
Tapi nyatanya, sampai pagi, bahkan sampai malam lagi Adam tidak juga datang ke rumah ibu Muni. Naifa seharian ini bolak-balik melihat ke luar rumah, ia bolak-balik mengintip, ia begitu penasaran namun tak bisa berbuat apa-apa. Karena pada kenyataannya suaminya tak datang menemuinya.
Ia khawatir sekali pada Adam, hatinya bertanya-tanya, kenapa kiranya Adam?! Sampai tak datang padanya.
Seharian ini bahkan Nai lupa pada makan nya, jika ibu nya tidak menemaninya mungkin seharian ia tidak akan mengisi perutnya.
Ingin sekali Naifa mendatangi Adam, namun, jujur saja untuk keluar rumah Naifa masih takut. Rasa nya orang-orang bi a dab itu selalu berkeliaran di depannya. Yang Naifa rasakan adalah ia tengah di perhatikan oleh orang-orang yang kemarin di pukuli habis-habisan oleh suami nya.
Ibu Muni pun bingung dan sedih melihat Naifa yang bolak-balik melihat ke arah halaman. Selalu saja membuka gorden sedikit demi memastikan kalau suaminya datang. Dan akan masuk ke kamar kembali setelah di hadapkan dengan kekecewaan karena nyatanya suaminya tak datang-datang.
Tapi Ibu Muni tidak bisa apa-apa, ia hanya diam sesekali mengusap pelan lengan anak pertamanya agar sabar, atau mengajak Naifa agar mengaji untuk menghilangkan rasa takut dan khawatir yang berlebihan.
Seperti malam ini, Naifa tengah duduk di sofa dengan menoleh ke arah jendela, melihat ke luar sana.
"Kenapa, Abang tidak juga datang ya Bu?! Apa Abang marah pada Nai Bu?!" Tanya Naifa pada Ibunya yang duduk di sebelahnya.
"Tidak, Nai. Mungkin Adam banyak urusan, kamu tenang saja ya," ucap Ibu menenangkan Anak nya.
"Tapi, sudah hampir dua malam ini Abang tidak mendatangi Nai bu, di telpon pakai nomer Rara pun tidak ada jawaban Bu. Menanyakan pada Ibu Nuri pun, sama. Beliau bilang tidak tahu," air matanya hampir keluar saking khawatir nya pada suaminya.
"Bu, apa boleh besok Nai menemui Abang?! Tapi, Nai tidak mau sendirian." Ujar Naifa lagi.
"Iya," Ibu Muni mengangguk, "besok Ibu temani kamu ya," ucap Ibu Muni sembari mengusap lengan putrinya.
"Makasih, Bu." Naifa memeluk erat sang ibu.
...***...
Paginya ternyata hujan lebat, Naifa tidak bisa pergi ke rumahnya. Ibu mengatakan akan menunggu jika hujan sudah reda. Tapi kenyataannya sampai siang hujan tak kunjung reda, bahkan semakin lebat. Membuat perasaan yang khawatir semakin khawatir lagi.
Entah kenapa Naifa takut kalau orang-orang yang sudah di pukul habis-habisan oleh Adam, balas dendam. Dan mencelakai Adam. "Tidak. Jangan sampai Ya Allah. Lindungi lah suami hamba di manapun Abang berada." Ujar Naifa sembari menatap hujan di luar sana.
Sampai akhirnya bibirnya tersenyum lebar saat ada mobil yang belok dari jalanan ke halaman rumahnya. Itu adalah mobil Ibu Nuri, tapi ia sedikit merasa lega. Mungkin di dalamnya ada suaminya juga, atau mungkin suaminya yang datang menggunakan mobil Ibu Nuri. Bisa saja bukan?!
Naifa mengambil payung dan membuka pintu lebar-lebar. Namun ternyata Ibu Nuri dan Ayah Hendra yang keluar dari dalam mobil.
"Assalamu'alaikum, Nai," sapa Ibu Nuri dan Ayah Hendra bersamaan. Lantas menaruh payung yang mereka bawa dari dalam mobil di teras.
"Wa'alaikumsallam, Ibu ... Ayah." Naifa menyalami ayah dan ibu mertuanya itu.
Naifa memandangi ke arah belakang dua paruh baya di depannya, setelah mencium dengan takzim tangan mertuanya.
"Kenapa, Nai?!" Tanya Ibu Nuri heran.
"Abang. Apa Abang tidak ikut bu?!" Tanya Naifa.
Ibu Nuri tersenyum, "Ibu dan Ayah tidak di ajak masuk Nai?!"
"Astaghfirullah, sampai lupa, ayo Yah, Bu. Silakan," Naifa lantas menutup kembali payung yang tadi sempat ia buka. Lantas masuk mengikuti langkah Ibu dan Ayah mertuanya.
Sesekali ia masih menoleh ke belakang, berharap ada kejutan kalau Suaminya datang.
"Ada, tamu ternyata, apa kabar Bu, Pak?!" Tanya Ibu Muni yang baru keluar dari dalam. Karena hujan begitu deras jadi Ibu Muni tak mendengar kalau di depan ada suara.
"Apa, kabar Mun?!" Ibu Nuri memeluk besannya itu.
"Kabar, baik, Ibu Nuri bagaimana?!" kini mereka bertiga sudah duduk di sofa.
"Alhamdulillah, baik juga Mun." Ibu Nuri tersenyum pada besannya itu.
Sementara Naifa terlihat bingung, badannya mengarah ke tiga orang di depannya namun kepalanya menoleh ke arah samping, melihat ke luar.
"Mmm, sini Nai. Duduk," Naifa menoleh ke arah ibu Nuri lantas duduk di sebelahnya. Senyum nya terpaksa, lantaran ia begitu penasaran dengan keberadaan suaminya.
"Apa, kamu sudah baik-baik saja?! Maaf ya, kemarin ibu tidak ikut mengantar mu." Ujar Ibu Nuri pada menantunya itu.
"Nai, sudah baik-baik saja bu. Bu ... di mana Abang?!" Tanya balik Naifa.
"Ada, di rumah Nai." Jawab Ibu Nuri.
"Apa, Abang baik-baik saja?!" Ibu Nuri mengangguk. "Lalu, kenapa Abang tidak ke sini, Bu. Apa Abang marah pada Nai?!" Tanya Naifa lagi.
Ibu Nuri menggeleng, "tidak Nai. Adam tidak marah padamu. Hanya saja, menurut Adam kalian tidak bisa bersama lagi."
Netra Naifa melebar, dadanya berdegup kencang. Apa yang baru saja ibu mertuanya katakan?!
"Mak-maksud ibu apa?!"
Ayah Hendra menyodorkan sebuah amplop cokelat.
Ibu Muni yang tahu apa maksud dari besannya itu hanya bisa diam.
"Apa, itu Yah?!" Naifa tak mengerti.
"Buka lah, Nai. Tanda tangani lah," ucap Ayah Hendra. Ia tak kuasa melihat wajah menantunya itu. Wajahnya terlihat sayu, terlihat sedih. Mungkin Naifa tahu itu apa, hanya saja berharap kalau itu bukan lah sesuatu yang ia tahu.