
Waktu berlalu, seminggu sudah Naifa tinggal kembali di rumah Ibunya. Namun ia tak juga menandantangani surat perceraian itu, sekedar membuka saja tidak Naifa lakukan. Ia membiarkan amplop itu tergeletak di atas meja, tak menyentuhnya sama sekali.
Waktu itu, Naifa kembali ke rumah Ibunya dengan di antar oleh supir Ibu Nuri. Dan setelahnya ia tak pernah tahu lagi bagaimana mereka. Setelah waktu itu, Naifa tak lagi menelpon atau sekedar menanyakan kabar, ia bungkam. Dari siapapun. Keseharian nya hanya seputar warung, rumah dan ibadah.
Naifa semakin mendekatkan diri nya kepada Allah. Ia tak mau semakin memperburuk dirinya karena rasa kecewanya. Ia sudah pasrah. Naifa menyerahkan segala nya yang terjadi pada Allah Ta'ala.
Selama seminggu ini, Naifa selalu membantu ibunya di warung, sore nya mengajari anak-anak mengaji di Masjid. Membantu Ustadzah Andini. Ia kembali menjadi Naifa yang dulu, yang selalu berada di antara rumah dan masjid saja.
Seperti sekarang ini, baru saja Naifa dan Ustadzah Andini selesai mengajar ngaji anak-anak. Keduanya lantas duduk di teras masjid, memperhatikan anak-anak yang masih bermain di halaman masjid.
"Jangan lari-larian terus, Zaki ... nanti capek loh," Naifa memperingati anak kecil berusia tujuh tahun yang tengah berlari begitu kencang memutari halaman.
Anak kecil bernama Zaki itu tidak berhenti hanya menoleh ke arah Naifa sekilas, setelahnya melanjutkan lari nya.
Naifa tersenyum melihat Zaki, si anak aktif yang selalu membuat nya terus menerus memanggilnya.
"Nai!" Panggil Ustadzah Andini.
"Ya," Naifa menoleh, lalu tersenyum saat Ustadzah Andini melihat ke arahnya juga dengan senyuman manis nya.
"Benarkah, kata ibu RT, kalau kamu dan suamimu akan pisah?!"
Naifa diam, lantas menunduk. Tersenyum miris dengan pertanyaan Ustadzah Andini. Ternyata semua itu sudah terdengar ke telinga warga. Padahal selama ini dirinya tidak pernah bercerita pada siapapun. Termasuk Ustadzah Andini.
"Aku harap, masih bisa di selamatkan hubungan sakral mu Nai, separah apapun masalah kalian, semoga menemukan solusi terbaik tanpa harus pisah menjadi jalan keluarnya." Ujar Ustadzah Andini.
Naifa masih diam. Lantas mengangguk. Itulah kenapa sampai sekarang Naifa belum mau menandatangani surat perpisahan itu. Karena rasanya Naifa belum merasa puas akan permasalahan yang aneh. Belum puas dengan alasan suaminya. Alasan konyol yang membuatnya terheran-heran sendiri.
"Sudah kamu bicarakan dengan suamimu?!" Ustadzah Andini menepuk pundak Naifa.
"Sudah pernah Nai tanya, tapi ... jawabannya menyakitkan Ustadzah, beliau bilang kalau beliau selama ini hanya pura-pura menyayangi Nai," ucap Naifa tertahan, dengan lirih ia mencoba mencari ketenangan dengan cara bercerita sedikit pada Ustadzah Andini.
"Kamu percaya?!" Tanya Ustadzah.
Naifa menggeleng, "tidak, Ustadzah. Selama ini Abang begitu terlihat tulus. Tidak ada ke-pura-puraan di wajah dan sikapnya. Semua terasa tulus." Ujar Naifa.
"Atau, hanya saja Naifa terlalu larut di dalam kesenangan sampai tidak bisa membedakan." Sambung Naifa.
"Sabar. Kuncinya hanya itu Nai. Jangan lupa ber-do'a, memohon kepada Allah, agar di berikan petunjuk untuk masalah mu ini. Sudah kamu lakukan?!"
Naifa melihat wajah teduh Ustadzah Andini dan mengangguk, "sudah. Dan hati Nai menginginkan untuk bertahan." Jawab Naifa.
Ya, dirinya memang tak lupa untuk ber-do'a. Memohon kepada Yang Kuasa agar di berikan hati yang sabar dan tabah juga kekuatan agar bisa melewati ini semua. Ia juga berharap agar di beri petunjuk. Dan setiap harinya hatinya selalu menginginkan agar dirinya tetap bertahan dengan hubungan ini. Yang jelas, Naifa tidak ragu sama sekali untuk mempertahankan rumah tangganya.
Walaupun surat itu sudah ada, tapi suaminya bahkan belum memberi talak padanya. Jadi, Naifa masih ingin mempertahankan hubungannya. Biarlah ia berdiam sejenak, memberi ruang untuk suaminya agar bisa kembali lagi ke jalan yang sebenernya.
Setiap malam, Naifa berdoa di sepertiga malamnya. Berharap segalanya segera terjawab. Kenapa suaminya tiba-tiba berubah setelah meninggalkan dirinya di rumah sakit setelah kejadian itu.
Entah siapa yang harus ia tanya sekarang, sedangkan seminggu ini ia tak pernah mengetahui kabar Ibu Nuri.
Ibu Nuri. Ya, ada baiknya ia menanyakan kembali pada Ibu mertuanya itu. Sekalian silaturahmi. Sudah seminggu ini ia tak tahu kabarnya bukan?!
Naifa mengangguk kan kepalanya saat tiba-tiba ia teringat untuk menanyakan langsung pada Ibu Mertuanya itu.
Naifa yang masih duduk di atas sajadah itu lantas melanjutkan dengan mengaji, sembari menungggu subuh dan waktu. Waktu untuk dirinya pergi ke rumah ibu mertuanya.
Hingga akhirnya, setelah sarapan bersama tiga perempuan kesayangannya, Naifa pamit pada Ibunya. Setelah kedua adiknya berangkat Sekolah.
"Bu, Nai mau ke rumah Ibu Nuri ya" ucap Naifa.
"Untuk, apa Nai?! Adam sudah tidak menginginkan dirimu, dia sudah mengembalikan mu pada Ibu." Ujar Ibu Muni.
"Abang hanya mengembalikan Nai ke Ibu, tidak pernah memberi talak ke Nai. Dan Nai yakin, niat Abang mengembalikan Nai ke Ibu bukan karena ingin pisah dari Nai."
"Lalu untuk apa surat itu Nai?! Jika bukan karena itu." Ujar Ibu Muni lagi.
"Bu, sekalipun palu hakim memisahkan Nai dan Abang, tapi jika dalam waktu enam bulan Abang tidak memberi talak Nai, maka pernikahan kita masih utuh Bu, jadi ... kenapa ibu mengatakan itu, apa sebenarnya, ibu tahu segalanya?! Hanya saja Ibu tidak ingin mengatakan nya pada Nai?!" Desak Naifa. Entah kenapa Naifa merasa Ibu Muni tahu apa yang terjadi. Hanya mungkin Ibu Muni merahasiakan nya dari Naifa.
Ibu Muni menarik napas dan menggeleng, "ibu tidak tahu apa-apa, Nai. Ibu hanya ... tidak ingin kamu bertahan di dalam hubungan jika suamimu tidak lagi menginginkan." Kata Ibu Muni.
"Tidak ibu, Abang masih menginginkan Nai. Hati Nai mengatakan itu Bu." Jelas Naifa.
"Terserah kamu Nai, lakukan yang menurutmu adalah kebaikan. Ibu percaya padamu. Ibu yakin, Nai bisa melewati ini semua." Kata Ibu Muni yang lantas memeluk putri pertamanya itu.
"Apa, Nai mau ibu temani?!" Tanya Ibu Muni lagi setelah mengurai pelukannya.
"Tidak usah. Biar Nai dengan taksi online saja. In Syaa Allaah aman dan dalam lindungan Allaah." Ujar Naifa.
Bukan tanpa alasan ibu ingin menemani Naifa. Karena setelah kejadian waktu lalu, ibu masih khawatir pada putrinya. Takut kalau masih ada orang jahat yang mengintainya.
Begitu juga Naifa, sebenarnya ia juga masih sedikit takut.
...----------------...
(Catatan : Adam memang sudah mengembalikan Naifa pada Ibunya, tapi jika niat Adam tidak untuk menalak Naifa maka, tidak jatuh talak. Juga sebaliknya. Semua tergantung niat. Dan niat Adam mengembalikan Naifa pada Ibunya karena alasan lain, sebenarnya Adam tidak ingin seperti itu. Hanya saja ia tak ingin melihat istrinya sedih karena keadaan dirinya. ) Penjelasan singkat dari author gabud. 😊
(Bila suami tidak mengucapkan ikrar talak dalam tempo 6 (enam) bulan terhitung sejak putusan Pengadilan Agama tentang izin ikrar talak baginya mempunyai kekuatan hukum yang tetap, maka hak suami untuk mengikrarkan talak gugur dan ikatan perkawinan tetap utuh.) Sumber hukum online.
Maaf jika ada yang salah, silakan di benarkan 😊