
"Assalamu'alaikum, Nenek!" panggil Eisha si bocah kecil. Begitu turun dari mobil, ia langsung berlari menuju pintu yang terbuka. Sembari memanggil-manggil sang Nenek.
"Wa'alaikumsallam, Cucu Nenek," ucap Ibu Muni yang lantas berdiri dari duduknya. Ia mendekat ke arah Eisha yang baru sampai di pintu yang terbuka.
Eisha lantas salim pada sang Nenek, lalu netra nya beralih pada sesosok pemuda tampan yang tengah tersenyum lebar ke arahnya.
"Om, Ganteng!" teriak Eisha yang lantas berlari dari tempatnya menuju Aran yang duduk di sofa.
Aran dengan antusias menangkap tubuh Eisha yang berlari ke arahnya.
Ya, tamu yang datang memang Aran. Dia memang selalu menyempatkan untuk main ke sana. Walaupun kini, ia tahu Eisha tidak lagi tinggal di sana. Namun ia selalu ingin ke sana walaupun sebentar.
Ibu Muni tersenyum melihat Eisha yang kini berada di pangkuan Aran. Lalu tatapan nya beralih ke arah depan, Anak dan menantunya tengah tersenyum ke arahnya.
"Assalamu'alaikum, bu," sapa Adam dan Naifa bareng.
"Wa'alaikumsallam, kok kalian baru masuk," ucap Ibu Muni saat kedua anaknya itu salim.
"Iya, tadi ada Ibu RT, bu. Jadi Nai dan Abang menyapa sebentar." jelas Naifa.
"Ayo, masuk, di dalam ada Aran." Kata Ibu Muni, mengajak anak dan menantunya itu.
Adam menoleh ke arah Naifa. Naifa yang tahu lantas tersenyum, lalu mengusap lengan sang suami. "Dia hanya ingin menemui ibu. Lagian, Aran tahu kok, kalau Nai selalu bersama Abang."
Adam tersenyum lebar. Ah, rasanya gemas sekali pada Naifa yang selalu saja sabar menghadapi dirinya dan anaknya.
Keduanya lantas masuk setelah Ibu Muni lebih dulu masuk.
"Eh, Bang. Apa kabar," sapa Aran pada Adam. Ia lantas menurunkan Eisha dan salaman dengan Adam.
"Baik, Alhamdulillah." Jawab Adam.
"Abang, duduk dulu ya, Nai ambilkan minum." ujar Naifa.
Adam mengangguk dan duduk di sebelah Eisha yang kini sudah duduk memperhatikan dua lelaki. "Ayah!" panggil Eish.
"Ya, Nak." Adam menoleh ke arah Eisha.
"Ini, Om Ganteng. Mau tahu tidak? Siapa yang nyuruh Eish buat panggil Om ini, Om Ganteng?!" tanya Eisha membuat penasaran pada sang Ayah.
Aran dan Ibu Muni yang ada di sana tersenyum memperhatikan Eisha.
"Siapa, memangnya Nak?!" Tanya Adam benar-benar penasaran, dalam hatinya "jangan sampai, Nai yang menyuruhnya."
"Tante Sasha! Tante Sasha bilang, Om Aran itu ganteng, jadi Eish panggil nya harus Om Ganteng!" Seru Eisha dengan senangnya.
Adam tersenyum lebar. Lega saat ternyata bukan istrinya yang menyuruh anaknya memanggil Aran dengan sebutan 'Om Ganteng'.
Ibu Muni dan Aran yang duduk di sana tersenyum lebar.
"Wah, kayaknya nggak dapat Kakaknya, bakalan dapat adiknya." seloroh Adam.
"Bisa, saja Bang." ujar Aran.
"Wah, kayaknya tengah seru ngobrolnya," ucap Naifa yang baru datang dengan nampan yang berisi tiga gelas berisi teh hangat.
"Ih! Ibu pengin tahu ya?!" ujar Eisha yang duduk di antara Adam dan Aran.
"Silakan, Bu, Abang, Aran. Di minum, mumpung masih hangat." ujar Naifa yang lantas duduk di sebelah Ibu Muni.
"Makasih, Nai." ucap Aran. Ia langsung mengambil gelas dan meminum minuman yang di suguhkan Naifa.
"Sama-sama, Ran. Bagaimana? Cafe nya lancar?!" Tanya Naifa, namun tentu saja ia tak melihat ke arah Aran.
"Alhamdulillah, lancar. Ini ke sini mau undang Ibu sama Rara dan Sasha, untuk datang ke sana. In Syaa Allah, ada acara syukuran." jelas Aran.
"Wah, keren. Apa nama Cafe nya? Kalau gratis kita juga mau, ya 'kan Nai?!" tanya Adam. Naifa mengangguk dan tersenyum pada Adam. Entahlah kenapa dengan dirinya yang kini merasa kalau Aran bukan lagi saingannya. Karena nyatanya, Aran dan Naifa tidak ada apa-apa.
Aran tersenyum, "Alsaeida Cafe Bang. Senang sekali kalau Abang, Naifa dan Eisha ikut datang Bang." jawab Aran jujur.
"Wah, terpaksa nggak nih." seloroh Adam.
"Enggak dong. Serius." kata Aran.
Mereka berlima lanjut dalam obrolan seru, apalagi Adam dan Aran yang langsung membahas masalah bisnis. Eisha si kecil yang aktif ikut nimbrung, semua yang ia dengar ia pertanyakan. Ibu dan Naifa sampai geleng-geleng kepala dengan tingkah Eisha.
...***...
Sesuai janji Adam, setelah dari rumah Ibu Muni, keduanya lantas ke rumah mereka.
Dan di sini lah mereka sekarang. Berdiri di depan rumah yang kini sudah berubah, di ganti cat tembok nya, juga bagian depan yang kini semakin terlihat cantik.
Adam dan Naifa saling menggenggam tangan, berdiri di depan mobil. Sementara Eisha, ia masih di rumah karena Tante Sasha nya sudah pulang dam tidak ingin ikut kedua orangtuanya.
"Kapan, di renovasi nya Bang?! Nai bahkan tidak pernah tahu." ujar Naifa.
Adam tersenyum, rumah nya itu memang bukan Adam yang merenovasi, tapi Ayah Hendra dan Ibu Nuri.
"Aku juga nggak tahu, Nai. Ini tuh Ibu sama Ayah yang suruh orang renovasi." kata Adam.
Naifa tersenyum bahagia menatap sang suami yang kini juga tengah menatap dirinya. "Ayo, kita masuk." ajak Adam.
Naifa mengangguk. Lantas Adam dan Naifa berjalan ke arah rumah mereka dengan tangan yang saling bergandengan tangan. Lalu, tangan Adam yang kiri mendorong pintu yang kini di rubah cat nya menjadi warna putih.
"Assalamu'alaikum," ucap keduanya dengan kaki kanan yang terlebih dulu melangkah.
Keduanya tersenyum dan menjawab salam mereka. "Wa'alaikumsallam."
Naifa kembali kagum saat masuk ke dalam rumah mereka. Kini ruang tamu nya sudah lebih terlihat cantik, di kamar depan yang dulu untuk shalat kini sudah berubah menjadi kamar anak dengan design cantik berwarna pink. Naifa tersenyum saat membuka pintu kamar depan dan melihat bagian dalamnya.
"Kita, lihat kamar kita yuk?!" Ajak Adam menggandeng tangan Naifa setengah menyeretnya.
"Sabar, Abang. Nai 'kan masih ingin melihat semuanya." ujar Naifa yang kini sudah melongo di depan kamar nya dan Suaminya. Dalam kamar nya pun sudah di renovasi dengan indah. Ada kamar mandi di dalam sana. Ranjang yang sudah di ganti dan lemari serta meja rias yang semuanya serba putih. Terlihat lebih bersih.
"Ayo, masuk." ajak Adam. Ia melangkah kan kakinya ke dalam. "Kita bisa shalat di sini, Nai. Do sini lebih lebar sekarang." ujar Adam menunjuk depan lemari yang lebar. Naifa mengangguk.
"Masyaa Allah, semoga Ibu dan Ayah sehat selalu, di berikan kebahagiaan selalu dan lancar selalu rezekinya." ujar Naifa dengan mata yang berkaca-kaca. Ia benar-benar beruntung bukan memiliki mertua sebaik Ibu Nuri dan Ayah Hendra.
"Aamiin," ucap Adam sembari memeluk istrinya itu.
Mencium puncak kepala Istrinya yang tertutup jilbab. "Makasih, Bu, Yah. Sudah memilihkan jodoh sebaik Naifa. Istri kebanggaan." ujar Adam.
Naifa tersenyum di dalam dekapan sang suami. Lantas memeluk erat sang suami.