
Semalam Rara sudah memberitahu Kakak nya, kalau Ibu dan Sasha akan ke sana. Tapi, tidak dengan dirinya. Hari libur ini, ia ingin menjaga warung saja, ia tak ingin ikut ke rumah Kakaknya. Entah sedang kenapa dirinya, yang jelas ... ia sedang ingin sendirian.
Ibu dan Sasha pergi di jam sembilan pagi, sedang Rara sudah pergi ke warung dari pagi. Dari kemarin Rara memang terlihat aneh, lebih diam dari biasanya.
Sasha dan Ibu Muni sampai di depan rumah Naifa. Ibu Muni membawa makanan dan cemilan juga kue kesukaan Naifa.
"Sepi, ya Bu. Pasti nanti ramai ya, kalau Kakak sudah punya anak, apalagi kalau anaknya kembar. Uuuh ... pasti bakalan lucu banget," ucap Sasha dengan gemasnya membayangkan ada anak kembar yang masih kecil-kecil berlarian di sekitarnya.
"Hm, kamu pikir enak, hamil kembar." Gerutu Ibu. Lalu Ibu Muni mengetuk pintu dan mengucap salam. "Assalamu'alaikum, Nai. Ini Ibu," ucap Ibu Muni.
"Wa'alaikumsallam," terdengar jawaban dari dalam. Ibu Muni bahkan sudah tersenyum lebar. padahal pintu belum di buka dan ia belum melihat wajah putrinya.
Ceklek! Pintu di buka dan nampak lah wajah cantik Naifa yang tersenyum lebar menyambut ibunya. "Maaf ya, Bu. Lama. Tadi Nai di belakang," ucap Naifa sembari mengambil tangan ibunya untuk salim.
"Tidak apa-apa, Nai," jawab ibu.
"Kakak!" Teriak Sasha dengan girangnya.
"Sasha, apa kabar kamu?! Rindu sekali ... kakak sama kamu," ucap Naifa sembari memeluk erat adiknya setelah Sasha mencium tangannya dengan takzim.
Ibu Muni lantas masuk, meninggalkan dua anaknya yang masih di luar. Ia membawa masuk semua bawaannya ke ruang tamu.
"Loh, Rara, mana?!" Tanya Naifa, ia mengedarkan pandangannya ke halaman rumah yang kosong.
"Tidak ikut, Kak. Nggak tahu kenapa, dari kemarin Kak Rara jadi pendiam, " jawab Sasha dengan mengedikan bahunya.
Naifa mengangguk, nanti mungkin ia akan coba tanyakan pada adiknya itu. Naifa lantas mengajak Sasha masuk.
"Apa, ini Bu ... kenapa repot-repot seperti ini?! Bahkan kemarin saat Nai dan Abang ke rumah, Nai dan Abang tidak membawa apa-apa," ucap Naifa panjang lebar tak enak hati pada Ibunya, melihat beberapa makanan yang sudah ibu Muni taruh di atas meja.
Kini Naifa sudah duduk si sebelah Ibunya.
Ibu Muni menepuk tangan Naifa yang ada di pangkuannya, "apa ada? Ibu yang merasa di repot kan saat memberikan makanan kesukaan anaknya?!"
Naifa menggeleng, lalu ia memeluk ibunya. "Makasih, bu." Ibu Muni mengusap punggung putrinya. Setelahnya Naifa melepaskan kembali pelukan itu.
"Sebentar ya, Bu. Nai ambilkan minum dulu," ucap Naifa sembari berdiri.
"Ini, sekalian di bawa ke dalam Nai. Biar nanti bisa buat di makan bareng sama Suamimu." Ujar Ibu Muni.
Dengan di bantu Sasha, Naifa membawa makanan yang berbagai macam itu ke dalam.
Ibu Muni mengedarkan pandangannya ke arah ruang tamu itu. Tidak terlalu lebar, tapi jika di pakai dua orang seperti Naifa dan Adam saja jelas terasa sepi.
Apalagi, jika Naifa di rumah sendirian, saat di tinggal suaminya kerja. Pasti akan terasa lebih sepi.
"Silakan, Bu," tak lama Naifa sudah kembali dengan nampan yang berisi tiga gelas air teh hangat untuknya, ibu dan Sasha.
"Makasih Nai," ucap Ibu sembari mengambil gelas dan meminum isinya.
Sasha pun sama, kini bahkan Sasha tengah melihat ke sekeliling nya, mengamati baik-baik setiap ruangan yang ada di rumah Kakaknya.
"Kenapa, Sha?!" tanya Naifa pada adiknya yang tengah mengedarkan pandangan nya.
"Tidak, apa-apa. Kenapa memangnya ibu Nuri?!" Ibu Muni tidak tahu pasal kemarin, karena memang Naifa tidak menceritakan pada ibunya. Ia tidak ingin Ibunya khawatir padanya, apalagi jika mendengar saat-saat Adam di tuduh oleh Vela yang tidak-tidak.
"Mungkin, kecapean Bu. Ibu Nuri 'kan banyak urusan." Naifa masih belum ingin menceritakan segalanya. Ia merasa tidak pantas mengatakannya, terkecuali Ibu Nuri sendiri yang mengatakan nya.
"Kak?! Sasha nonton Tv ya," izin Sasha.
"Iya, Sha. Silahkan. Remote nya itu," Naifa menunjuk remote yang ia simpan di sebelah Televisi.
"Bu," Naifa kembali ke Ibunya, "Rara, kenapa tidak ikut?!" Tanyanya penasaran.
"Itu, ibu juga tidak mengerti, dari kemarin adikmu lebih banyak diam Nai, bicara seperlunya, kadang dia juga suka sekali melamun." Kata Ibu Muni.
"Apa, dia tidak mengatakan apapun, masalah di sekolahnya mungkin Bu." Naifa merasa penasaran. Mungkin jika mereka masih satu rumah Naifa akan menginterogasi Naira dengan caranya sampai Rara nya itu bercerita padanya dengan suka rela.
Ibu Muni menggeleng, "tidak Nai, Rara sama sekali tidak mengatakan apapun. Coba jika kamu ada waktu, kamu telpon. Tanyakan apa masalahnya, mungkin saja jika denganmu Rara mau bercerita." Kata Ibu Muni.
Jujur saja Ibu Muni juga merasakan khawatir pada putri ke duanya itu. Tapi, jika memaksa bertanya, Ibu Muni yakin tidak akan mendapat jawaban yang jujur.
"Nanti, ibu juga coba untuk ajak bicara lagi." Sambung Ibu Muni.
Naifa mengangguk.
...***...
Sementara itu, di Warung. Rara tengah duduk setelah melayani pembeli. Ia membuka ponselnya, kembali membaca pesan yang masuk. Pesan yang beberapa hari ini begitu ia pikirkan.
Pesan yang membuatnya bingung, ia kembali membaca pesan yang masih tersimpan rapi di ponselnya.
Pesan yang tidak ia balas, hanya ia baca saja.
Hatinya di landa kegelisahan karena pesan itu.
"Assalamu'alaikum, Ra!" Sapa seseorang mengagetkan Rara yang tengah sibuk dengan ponselnya. Ia sampai menjatuhkan ponselnya karena saking kagetnya.
"Astaghfirullah!" Rara melihat di depannya, ada seorang pemuda yang tengah cengengesan di depannya.
Rara menelan ludahnya kasar, "bagaimana dia bisa sampai sini," ucap Rara dalam hati. Ia melihat ke sekitarnya, tak ia lihat ada tanda-tanda motor ataupun mobil yang biasa di pakai oleh orang itu.
"Kok, salam aku nggak di jawab?!" Seseorang itu terlihat bingung pada Rara yang diam saja tak merespon dirinya.
"Wa'alaikumsallam. Ngapain ke sini?!" Tanya Rara ketus.
"Lagian, dari mana kamu tahu kalau aku di sini?!" Tanya Rara lagi.
Seseorang itu tersenyum penuh arti pada Rara yang jutek padanya. Senyum nya lebar, sampai membuat Rara menunduk kesal karena di lihatin terus-menerus.
***
Di selingi kisah Rara yaa teman-teman ... Sambil mematangkan rencana Vela 🤭 Semoga tetap setia menemani kisah Adam dan Naifa. 🤗 Terimakasih 🥰🥰
Oh ya ... temen-temen author maaf ya, hari kemarin dan hari ini belum bisa mampir balik, masih ada kesibukan di dunia nyata. 🙏😁