
Naifa memejamkan matanya, ia mempersiapkan diri untuk menerima bentakan ataupun protes dari suaminya.
"Lo, kehabisan kerudung?! Sampai selendang, lo pakai?!" Seketika Naifa membuka matanya. Ia mengerucut kan bibirnya, ia pikir Adam akan memberi respon yang membuat hatinya berbunga-bunga, seperti 'cantik' misalnya. Tapi kenyataannya Adam malah kebingungan.
Tapi seenggaknya ia lega, karena ternyata Adam tidak memarahi dirinya.
"Ck, ini bukan selendang Bang. Ini namanya pashmina. Memang seperti ini bentuknya," ucap Naifa.
Adam memajukan bibir bawahnya sembari menganggukkan kepalanya, "tapi ... lebih bagusan yang biasanya sih Nai, jadi," Adam men-jeda kalimatnya, lalu menunjuk bagian depan Naifa. "Ini nggak terlihat," sambungnya.
Naifa menelan ludah kasar, percayalah yang Naifa rasakan sekarang adalah malu. "Iya, nanti Nai ganti saja," Naifa membalik badannya berniat untuk mengganti baju dan jilbabnya. Lagian ia tak terlalu nyaman dengan yang ia pakai sekarang.
"Tunggu." Adam mencekal lengan Naifa. "Lo, nggak lagi godain gue 'kan?!" Adam menahan tawa nya yang akan meledak seketika. Bisa Adam pastikan kalau sekarang wajah istrinya yang menghadap depan sana tengah se merah tomat.
Naifa menggeleng lemah, "kirain! Maksudnya ... gue tergoda, sama penampilan lo. Kalau lo selalu seperti ini, bisa-bisa gue buru-buru minta kita buat 'itu'." Ucap Adam serius.
Naifa membalik badannya tersenyum menatap suaminya, "bahkan Nai sudah mempersilakan nya, Bang," kata Naifa.
"Iya, gue tahu. Tapi, ada sesuatu yang harus gue bicarakan dulu sama lo, sebelum gue melakukan 'itu'. Gue takutnya kalau lo tahu setelahnya, lo malah nyesel, lagi." Ujar Adam.
"Lagian, kalau lo mau bikin gue tergoda, bukan pakai pakaian seperti ini, harusnya lo pakai lingerie," sambung Adam dengan senyum menyebalkan.
Naifa mengernyitkan dahi tak mengerti. "Apa itu, lingerie Bang?!"
"Besok, lo minta sama ibu, pasti bakalan di kasih." Adam menahan tawanya, "gue yakin sih, lo nggak akan berani pakai."
"Memangnya, kenapa?!" Naifa masih penasaran.
"Yang pasti, bakalan bikin lo makin cantik." Adam memainkan alisnya.
Naifa masih tak mengerti apa yang di maksud Adam. Maklum saja, ia sudah terlalu sibuk untuk urusan rumah, belajar dan adik nya. Tidak memikirkan apa itu pakaian dengan namanya. Malah lebih mengerti Sasha dari pada dirinya. Yang Naifa tahu hanya seputar gamis murah namun nyaman di pakai.
Allahu Akbar ... Allahu Akbar
Adzan Maghrib berkumandang, keduanya lantas berucap syukur. "Shalat dulu deh! Nanti kita bahas lagi," ajak Adam.
Naifa mengangguk dan berlalu dari sana langsung ke kamar mandi.
***
Kini keduanya sudah duduk di sofa setelah shalat dan makan malam berdua. Naifa masih penasaran sebenarnya dengan pakaian yang di katakan Adam. Jadi, ia berinisiatif untuk mencarinya di mesin pencarian, ia tak mau bertanya pasal pakaian, apalagi pada mertuanya. Jelas bukan Naifa sekali.
Matanya seketika membola begitu melihat deretan gambar baju-baju se k si yang terpampang di sana, lengkap dengan modelnya yang tengah memakai.
"Astaghfirullah!" Naifa buru-buru menaruh ponselnya di meja dengan kasar dan menutup matanya dengan kedua tangan nya.
Adam yang duduk di sebelahnya jadi penasaran, "lo kenapa?!"
Naifa membuka tangan nya dari matanya, tatapan kesal pada suaminya, "ih Abang! Masak aku di suruh pakai pakaian kayak gitu."
"Ppfffttt hahahaha ... jadi lo udah tahu?!" Adam menggeser duduknya mendekat lebih ke Naifa. "Tapi, ya...kalau lo pakai baju itu, sudah pasti gue bakalan tergoda."
Naifa menggeser duduknya, memutar duduknya menghadap suaminya. "Tunggu, deh. Nai 'kan hanya mengatakan kalau Nai sudah siap melakukan tugas sebagai istri. Tapi, kenapa berasa kayak Nai yang tengah ngebet ya?!"
Naifa lagi-lagi mengerucutkan bibirnya kesal, kini lelaki yang ada di hadapannya bukan lagi lelaki yang kaku, bahkan seminggu ini ia sudah sering melihat Adam tersenyum bahkan tertawa.
Adam menangkup pipi Naifa, setelah berhenti dari tawa bahagia nya. Tak tahan rasanya melihat Naifa yang tengah memandangi dirinya dengan senyum yang mengembang.
"Sebenarnya," ucap Adam serius membuat Naifa melihat wajah Adam dari jarak yang begitu dekat, "tanpa lo pakai pakaian se k si pun, gue udah tergoda Nai. Lo menggoda perasaan gue Nai, perasaan yang langsung ada dari pertama nyokap minta gue menikah dengan lo. Perasaan yang muncul setelah gue mendengar suara lo ngaji untuk pertama kalinya. Percaya atau tidak, setelah itu gue selalu terbayang-bayang diri lo, senyuman lo, semua tentang lo."
Naifa menatap serius wajah suaminya itu. Naifa tak pernah tahu kapan Adam mendengar suara ngajinya, tapi, Naifa merasa senang akan ini. Apakah ini sebuah pengakuan kalau ternyata Adam mempunyai rasa padanya?!
Naifa diam, tak mengerti harus berbuat apa. Pasalnya baru kali ini ia se dekat ini dengan seorang pria. Adam menelan ludahnya kasar, matanya melihat netra indah sang istri, lalu pandangannya beralih ke hidung mungil lanjut ke bibir merah muda sang istri. Perlahan Adam mulai mendekat kan wajahnya, membuat Naifa semakin membesar kan matanya karena bingung dengan Adam yang semakin mendekatkan wajahnya. Sampai pada hidung bertemu hidung, lalu ....
Cup.
Adam mengecup sekilas bibir menggoda itu, Naifa malah melongo setelahnya. Apa ini?! baru di cium bibir nya saja Naifa sudah berdebar tidak karuan apalagi jika sampai 'itu' tak terbayang reaksi Naifa akan sepertinya apa.
Adam menjauhkan wajahnya, mengembuskan napas kasar dan menggaruk tengkuknya yang percaya lah tidak gatal sama sekali.
"Sorry," ucap Adam. Naifa mengangguk. Ia menjadi pendiam kembali, karena jujur saja Naifa bingung akan apa.
"Lo, nggak per_" Adam tak jadi bertanya. Karena ia sudah tahu jawabnya. Sudah pasti istri kecilnya itu tidak pernah ciuman.
"Apa, Bang?!" Adam menggeleng, "nggak jadi.'' Katanya.
"Oh, iya Nai, besok gue pulang malam ya, gue mau ketemu temen dulu." Ujar Adam memulai kembali pembicaraan. Naifa kembali mengangguk.
"Lo, jangan nungguin gue. Atau lo mau ke rumah Ibu lo dulu, ntar malamnya gue jemput ke sana."
Naifa membesarkan kelopak matanya, "serius Bang?!"
Adam mengangguk. "Makasih ya, Bang," ucap Naifa sungguh-sungguh.
"Lo, tuh. Kalau mau ketemu sama ibu dan adik-adik lo, ya nggak papa, lo nggak harus izin selalu sama gue." Ujar Adam.
"Ya, tidak bisa seperti itu, Bang. Naifa harus tetap minta izin dan jika tidak di izinkan maka Nai tidak bisa pergi. Selangkah saja Nai pergi tanpa izin Abang, mau sekalipun pergi ke rumah ibu, tetap tidak di bolehkan. Seorang istri keluar rumah tanpa izin dari suami merupakan dosa Abang." Jelas Naifa.
"Dan dosa istri terhadap suami ... di antaranya adalah, berzina dengan laki-laki lain," Adam segera memotong ucapan istrinya.
"Itu, lo nggak mungkin."
"Melakukan perselingkuhan," Adam kembali menggeleng, yang membuat Naifa tersenyum.
"Menolak ajakan suami untuk berhubungan," lanjut Naifa.
"Itu, sih karena gue yang belum minta." Ujar Adam.
"Berdusta di hadapan sang suami, keluar rumah tanpa izin dari suami dan tidak menemani suami tidur."
Adam langsung menganggukkan kepalanya, "ini, nih yang belum. Lo berarti udah dosa karena lo membiarkan gue tidur sendirian."
"Mmm, tapi ... itu 'kan atas permintaan Abang," Naifa tidak terima.
Adam tersenyum miring, "ok! Kita mulai tidur sekamar di rumah ibu lo besok malam."